SISTEM HUKUM JAHILIYAH ARAB PRA ISLAM

A. PENDAHULUAN

Dikalangan Bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat. Yang kondisinya berbeda antara yang satu dengan yang lain. Hubungan seorang keluarga dikalangan bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati dan dijaga sekalipun harus dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Jika seorang ingin dipuji dan menjadi terpandang dimata bangsa Arab karena kemuliaan dan keberaniannya, maka dia harus banyak dibicarakan kaum wanita.

Karena jika seorang wanita menghendaki, maka dia bisa mengumpulkan beberapa kabilah untuk suatu perdamaian, dan jika wanita itu mau maka dia bisa menyulutkan api peperangan dan pertempuran diantara mereka. Sekalipun begitu, seorang laki-laki tetap dianggap sebagai pemimpin ditengah keluarga, yang tidak boleh dibantah dan setiap perkataannya harus dituruti. Hubungan laki-laki dan wanita harus melalui persetujuan wali wanita.

Begitulah gambaran secara ringkas kelas masyarakat bangsawan, sedangkan kelas masyarakat lainnya beraneka ragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan wanita

Dalam makalah ini penulis akan memaparkan mengenai sistem hukum Jahiliayah Arab Pra Islam yang meliputi; Letak geografis semenanjung arab, sekilas tentang setting sosial bangsa arab dan sistem hukum jahiliyah arab pra Islam.

B. LETAK GEOGRAFIS SEMENANJUNG ARAB

Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak parallelogram. Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam, ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia, ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah.

Jadi, dari sebelah barat dan selatan daerah ini dilingkungi lautan, dari utara padang sahara dan dari timur padang sahara dan Teluk Persia. Akan tetapi bukan rintangan itu saja yang telah melindunginya dari serangan dan penyerbuan penjajahan dan penyebaran agama, melainkan juga karena jaraknya yang berjauh-jauhan. Panjang semenanjung itu melebihi seribu kilometer, demikian juga luasnya sampai seribu kilometer pula. Dan yang lebih-lebih lagi melindunginya ialah tandusnya daerah ini yang luar biasa hingga semua penjajah merasa enggan melihatnya. Dalam daerah yang seluas itu sebuah sungaipun tak ada.[1]

Musim hujan yang akan dapat dijadikan pegangan dalam mengatur sesuatu usaha juga tidak menentu. Kecuali daerah Yaman yang terletak di sebelah selatan yang sangat subur tanahnya dan cukup banyak hujan turun, wilayah Arab lainnya terdiri dari gunung-gunung, dataran tinggi, lembah-lembah tandus serta alam yang gersang. Tak mudah orang akan dapat tinggal menetap atau akan memperoleh kemajuan. Sama sekali hidup di daerah itu tidak menarik selain hidup mengembara terus-menerus dengan mempergunakan unta sebagai kapalnya di tengah-tengah lautan padang pasir itu, sambil mencari padang hijau untuk makanan ternaknya, beristirahat sebentar sambil menunggu ternak itu menghabiskan makanannya, sesudah itu berangkat lagi mencari padang hijau baru di tempat lain.

Tempat-tempat beternak yang dicari oleh orang-orang badwi jazirah biasanya di sekitar mata air yang menyumber dari bekas air hujan, air hujan yang turun dari celah-celah batu di daerah itu. Dari situlah tumbuhnya padang hijau yang terserak di sana-sini dalam wahah-wahah yang berada di sekitar mata air

C. SEKILAS SETTING SOSIAL BANGSA ARAB PRA ISLAM

Jazirah Arab pada masa pra-Islam adalah wilayah yang diapit oleh dua imperium besar: Byzantium (Romawi) dan Persia. Kekuasaan Byzantium meliputi wilayah-wilayah di sebelah barat Jazirah, termasuk Syam dan Mesir. Adapun kekuasaan Persia meliputi wilayah-wilayah di sebelah timur Jazirah, termasuk Irak. Tidak ayal lagi, daerah kekuasaan kedua imperium ini berbatasan satu sama lain di sebelah utara Jazirah. Pada negeri-negeri batas inilah, masing-masing imperium membentuk buffer-state.[2]

Dua kekuatan superpower senantiasa saling berusaha menjatuhkan. Hal ini pula yang terjadi pada Byzantium dan Persia. Terjadi konflik berkepanjangan diantara dua imperium ini. Sebagai akibatnya, negeri-negeri batas kedua imperium ini, yang terletak di sebelah utara Jazirah, tidak pernah sepi dari konflik.

Dampak dari konflik di utara Jazirah ini, para pedagang dari Timur yang ingin mengekspor barang dagangannya ke kawasan Laut Tengah di Barat tidak bisa melewati jalur tersebut. Sebagai alternatif, mereka mengambil jalur memutar: Teluk Persia – Yaman – Hijaz – Laut Tengah. Nah, di Hijaz inilah terletak kota Mekkah.[3]

Dengan demikian, Mekkah ketika itu adalah salah satu titik transit perdagangan antar negara. Diluar konteks perdagangan antar negara, Mekkah juga merupakan pusat berkumpulnya manusia dari berbagai penjuru Jazirah pada setiap musim haji. Pada kesempatan yang sama, mereka menggelar Pasar Akbar yang dikenal sebagai Pasar ’Ukaz. Jadi, seandainya pun Mekkah tidak dilewati jalur perdagangan internasional, ia tetap ramai oleh para pedagang Jazirah sendiri.

Dengan nuansa dagang yang kental ini, pekerjaan utama penduduk Mekkah ya berdagang itu. Mereka bukan komunitas petani, karena memang tanah di Mekkah juga tidak terlalu subur. Meski begitu, mereka tidak pernah kekurangan bahan-bahan pangan karena mereka selalu mampu memenuhinya dari perdagangan yang mereka jalankan. Penduduk Mekkah adalah para pedagang yang cukup handal. Tidak hanya berdagang secara lokal, mereka juga biasa melakukan ekspedisi dagang ke Syria (Syam) di utara Jazirah dan ke Yaman di selatan Jazirah.

Berbeda dengan Yaman ataupun Syria yang lebih subur, kawasan Hijaz dan Najd yang terletak di tengah-tengah Jazirah pada umumnya adalah padang gurun yang tandus. Karena itu wilayah ini sama sekali tidak menarik bagi negeri kolonialis Byzantium dan Persia. Kendati kedua imperium ini senantiasa berusaha menambah koloni-koloninya, namun mereka tidak pernah berpikir untuk menguasai padang gurun Arab. Transportasi ke sana terlalu keras. Bertahan hidup disana juga tidak mudah. Dan lebih jauh dari itu, tidak ada kekayaan alam yang bisa mereka eksploitasi. Karena itu, padang gurun Arab ketika itu adalah wilayah yang belum pernah terjajah.[4]

Pada umumnya, cara hidup orang Arab pra-Islam adalah nomaden. Mereka berpindah-pindah dari satu padang rumput (oase) ke padang rumput lainnya. Mereka inilah yang biasa disebut sebagai masyarakat badui. Namun demikian, ada juga diantara orang-orang Arab yang hidup menetap di kota-kota.

Orang-orang Arab hidup secara komunal, hidup dalam suku-suku yang umumnya terbentuk berdasarkan pertalian darah. Dengan hidup secara komunal, seseorang bisa bertahan hidup. Suku ketika itu adalah pelindung bagi eksistensi seseorang. Jika seseorang terbunuh oleh suku yang lain, suku orang tersebut akan melakukan tindakan menuntut balas. Inilah satu-satunya hukum yang berlaku bagi tindak kriminal pembunuhan. Tidak ada sistem hukum mapan dan canggih yang mengatur hal ini. Ini akhirnya menciptakan lingkaran setan pembunuhan, sehingga berakibat pada terjadinya konflik dan peperangan antar suku yang tidak pernah berhenti.

Meski demikian masih ada hal-hal positif yang ada pada suku-suku tersebut. Mereka pada umumnya sangat membangga-banggakan muru’ah (sifat-sifat ksatria). Para penyair ketika itu biasa memuji-muji suku atas sifat-sifat muru’ah yang mereka miliki.

Berbicara tentang wanita, secara singkat bisa dikatakan bahwa di Arab pada masa itu kaum wanita tidak mendapat kedudukan dan penghargaan yang layak. Masyarakat Mekkah sendiri adalah masyarakat paganis, penyembah berhala. Mereka polytehis, menyembah banyak tuhan. Meski Allah bagi mereka adalah The Supreme God, Tuhan Tertinggi, namun mereka masih memiliki banyak dewa yang mereka posisikan sebagai perantara antara mereka dan Allah. Yang paling populer dari dewa-dewa tersebut adalah Latta, ’Uzza, Manat dan Hubal.[5]

Secara ekonomi, masyarakat Mekkah adalah masyarakat yang kapitalis. Diantara mereka terdapat golongan borjuis, yakni orang-orang dan suku-suku yang kaya dan terpandang. Mereka pada umumnya individualis dalam hal kekayaan. Kepedulian mereka relatif rendah terhadap orang-orang dan suku-suku yang lemah dan papa. Ditengah-tengah masyarakat yang demikian inilah Muhammad dilahirkan.

D. SISTEM HUKUM JAHILIYAH ARAB PRA ISLAM

Secara umum, periode Makkah pra-Islam disebut sebagai periode Jahiliyyah yang berarti kebodohan dan barbarian. Secara nyata, dinyatakan oleh Philip K. Hitti, masyarakat Makkah pra-Islam adalah masyarakat yang tidak memiliki takdir keistimewaan tertentu (no dispensation), tidak memiliki nabi tertentu yang terutus dan memimpin (no inspired prophet) serta tidak memiliki kitab suci khusus yang terwahyukan (no revealed book) dan menjadi pedoman hidup.[6]

Merujuk kata “Jahiliyyah” dalam al-Qur’an, yaitu dalam surat Ali Imron/3 ayat 154 (…yazhunnuna bi Allahi ghayra al-haqqi zhanna al-jahiliyyati…), surat al-Ma’idah/5 ayat 50 (afahukma al-jahiliyyati yabghuna…), surat al-Ahzab/33 ayat 33 (wala tabarrujna tabarruja al-jahiliyyati …) dan surat al-Fath/48 ayat 26 (…fi qulubihmu al-hamiyyata hamiyyata al-jahiliyyati…) sebagaimana ditunjuk oleh Philip K. Hitti[7] dan diidentifikasi oleh Muhammad Fuad sebagai ayat-ayat yang mengandung kata “Jahiliyyah”,[8] cukup memberikan sebuah petunjuk bahwa masyarakat Jahiliyyah itu memiliki ciri-ciri yang khas pada aspek keyakinan terhadap Tuhan (zhann bi Allahi), aturan-aturan peradaban (hukm), life style (tabarruj) dan karakter kesombongannya (hamiyyah). Sehubungan dengan sejarah kemanusiaan, hukum Jahiliyyah ternyata membuat keberpihakan pada kelompok tertentu yang dapat disebut memiliki karakter rasial, feudal dan patriarkhis.

1. Karakter Rasial

Sifat pertama, rasial, yang terdapat pada hukum Jahiliyyah bisa ditunjukkan dengan adanya perasaan kebangsaan yang berlebihan (ultra nasionalisme) dan kesukuan (‘ashabiyyah) serta adanya pembelaan terhadap orang-orang yang berada dalam komunitas kesukuan (qabilah) yang sama. Pada masyarakat Arab pra-Islam, dikenal istilah al-‘ashabiyyah atau al-qawmiyyah yang berarti kecenderungan seseorang untuk membela dengan mati-matian terhadap orang-orang yang berada di dalam qabilah-nya dan dalam qabilah lain yang masuk ke dalam perlindungan qabilah-nya. Benar atau salah posisi seseorang di dalam hukum, asal dia dinilai sebagai inner group-nya, pasti akan selalu dibela mati-matian ketika berhadapan dengan orang yang dinilai sebagai outer group-nya.[9]

Orang-orang Arab pra-Islam memiliki perasaan kebangsaan yang luar biasa (ultra nasionalisme). Mereka menganggap diri mereka (Arab) sebagai bangsa yang mulia dan menganggap bangsa lain (‘Ajam) memiliki derajat di bawahnya. Ibn Jarir al-Thabari menceritakan sebuah peristiwa hukum perkawinan jahiliyyah yang berkarakter rasial dengan didasari semangat ultra nasionalisme. Cerita tersebut adalah kisah penolakan Nu’man Ibn Munzhir terhadap lamaran seorang raja Persia Kisra Abruwiz pada anaknya yang bernama Hurqa karena adanya hukum Jahiliyyah yang dipegangi oleh Nu’man bahwa bangsa Arab adalah bangsa “super” di atas bangsa selain Arab dan oleh karenanya dilarang berhubungan nikah dengan seorang ‘ajam –sekalipun pelamarnya adalah seorang raja-, karena diyakini bisa menurunkan kualitas ke-‘Arab-an yang “super” pada diri Nu’man dan anaknya.[10]

Dalam pergaulan antar kelompok, orang Arab pra-Islam selalu membela anggota kelompok dan kepentingan kelompoknya. Seseorang akan selalu dibela oleh anggota se-qabilah (inner group) ketika berhadapan dengan anggota kelompok lain (outer group), baik dalam posisi benar maupun dalam posisi salah.[11] Kebenaran dan kesalahan seseorang ditentukan oleh keputusan masing-masing qabilah-nya.[12] Sebuah contoh yang bisa dikemukakan adalah hukum berperang dan pembunuhan pada masyarakat Jahiliyyah yang sangat ditentukan oleh perasaan ‘ashabiyah. Yaitu peristiwa perang Fijar yang sebenarnya terjadi pada bulan yang terlarang untuk berperang (asyhur al-hurum) antara suku Kinanah dengan suku Qays ‘Ailan (keduanya adalah nama suku dalam suku besar Quraysy) yang disaksikan oleh Muhammad saw ketika berusia 14/15 tahun (beliau belum diangkat menjadi Rasulullah). Perang tersebut terjadi karena pembelaan terhadap anggota kedua suku masing-masing yang terlibat bentrok dan pembunuhan di pasar Ukaz, tanpa mempertimbangkan kesalahan dari masing-masing orang yang dibela. Apapun kondisinya, kalau ada salah satu anggota dari suatu kelompok terlibat bentrok, maka dengan serta-merta seluruh anggota kelompoknya akan membela dia.[13]

2. Karakter Feudal

Karakter feudal pada hukum Arab pra-Islam tergambar dengan adanya superioritas yang dimiliki oleh kaum kaya dan kaum bangsawan di atas kaum miskin dan lemah. Kehidupan dagang yang banyak dijalani oleh orang Arab Makkah pada waktu itu –yang mengutamakan kesejahteraan materi-[14] menjadikan tumbuhnya superioritas golongan kaya dan bangsawan di atas golongan miskin dan lemah. Kaum kaya dan bangsawan Arab pra-Islam adalah pemegang tampuk kekuasaan dan sekaligus menjadi golongan yang makmur dan sejahtera di Makkah, kebalikan dari kaum miskin dan lemah.[15]

Sekalipun ada nilai kebaikan (al-muru’ah) dalam masyarakat Arab pra-Islam, sebagaimana yang tergambar dalam puisi-puisi Arab pra-Islam, yaitu bahwa salah satu kebaikan yang harus dimiliki oleh pemimpin kelompok adalah kedermawanan  -sebagaimana dicatat oleh Philip K. Hitti-,[16] namun disebutkan oleh Lapidus bahwa masyarakat Arab pra-Islam mempunyai rasa kebanggaan yang salah, yaitu neglect of the poor, neglect of almsgiving and of support for the weaker member of the community (menampik orang miskin, menolak memberi sedekah dan bantuan kepada anggota masyarakat yang lemah).[17] Sistem hukum dan sejarah perbudakan di kalangan Arab pra-Islam merupakan bukti kuat adanya karakter feudal pada hukum Jahiliyyah masyarakat Arab pra-Islam tersebut. Budak adalah manusia rendahan yang memiliki derajat jauh di bawah rata-rata manusia pada umumnya, bisa diperjualbelikan, bisa diperlakukan apa saja oleh pemiliknya, dan tidak memiliki hak-hak asasi manusia sewajarnya selaku seorang manusia.[18]

3. Karakter Patriarkhis

Karakter berikutnya yang melekat kuat pada hukum Jahiliyyah adalah patriarkhis. Dalam penelitian Haifaa, kaum lelaki pada waktu itu memegang kekuasaan yang tinggi dalam relasi laki-laki dengan perempuan, diposisikan lebih tinggi di atas kaum perempuan, Kaum perempuan mendapatkan perlakuan diskriminatif, tidak adil dan bahkan dianggap sebagai biang kemelaratan dan symbol kenistaan (embodiment of sin). Dalam sistem hukum Jahiliyyah, perempuan tidak memperoleh hak warisan, bahkan dijadikan sebagai harta warisan itu sendiri. Kelahiran anak perempuan dianggap sebagai aib, sehingga banyak yang kemudian dikubur hidup-hidup ketika masih bayi. Secara singkat, dalam istilah Haifaa, perempuan diperlakukan sebagai a thing dan bukan sebagai a person.[19]

Kondisi perempuan pada masa Jahiliyyah seperti dalam penelitian Haifaa tersebut, tergambarkan dalam al-Qur’an surat al-Nahl/16 ayat 58-59 sebagai berikut (wa idza busysyira ahaduhum bi al-untsa zhalla wajhuhu muswaddan wa huwa kazhim, yatawara min al-qawmi min su’in ma busysyira bihi, ayumsikuhu ‘ala hunin am yadussuhu fi al-turab…). Ayat tersebut bercerita tentang sikap orang Jahiliyyah dalam menanggapi berita kelahiran anak perempuannya yang dianggap sangat memalukan, menurunkan harga diri orang tua dan keluarga, sehingga anak perempuan tersebut kalau perlu dibunuh atau dikubur hidup-hidup. Cerita tersebut dan beberapa cerita lain tentang perempuan Arab pra-Islam, cukup mewakili gambaran tentang karakter patriarkhis pada system hukum Jahiliyyah.

Sistem hukum Jahiliyyah pada masyarakat Arab pra-Islam dengan ketiga karakter utama seperti yang dipaparkan di atas, kemudian menjadi latar belakang kemunculan Islam dengan membawa perubahan social di dalam hukum yang revolusioner.[20]

Seperti dimaklumi bahwa bangsa arab terdiri dari beberapa suku, dimana masing-masing suku memiliki kepala suku. Tugas dan kewajiban kepala suku meliputi seluruh sistem sosial masyarakat, termasuk juga hukum. Karenannya, bila terjadi perselisihan di antara kaumnya, maka ia bertindak sebagai hakim, namun putusan yang diberikan atas perselisihan atau pelanggaran yang dilakukan oleh warganya, kepala suku tidak bisa bertindak semaunya. Demikian juga warganya tidak ada paksaan harus taat pada hukum yang telah di tetapkan oleh kepala sukunya, namun ada sanksi sosial bagi warga yang tidak taat, yaitu di kucilkan bahkan di usir dan dikeluarkan dari sukunya.

Selain kepala suku sebagai hakim, warga juga bisa meminta keadilan melalui kahin (tukang tenung), karena beranggapan bahwa kahin dapat berhubungan dengan jin yang dapat melihat kebenaran perkaranya, atau juga meminta kepada sesama warga yang memiliki pikiran yang tajam dan pandangan yang luas.

Peraturan yang ada di tengah-tengah mereka sebenarnya adalah hukum/adat, yang di warisi dari nenek moyang mereka atau hasil dari pengalaman mereka sendiri. Serta pengaruh hukum/adat dari daerah/negeri lain yang pernah mereka kunjungi seperti Yaman, Libia , Romania dan Irak serta pergaulan mereka dengan Yahudi, poligami tanpa batas, nikah ‘Maqt” yaitu anak laki-laki yang tertua bekas isteri ayahnya (ibu tiri) sebagai istrinya setelah ayanya meninggal dunia, nikah mut’ah dengan tujuan bersenang-senang dan berbagai bentuk nikah lainnya.

Dalam hukum pidana, diatur tentang menjatuhkan hukuman potong lidah dalam delik pembunuhan dan macam-macam hukuman lainnya. Dalam hukum dagang diatur tentang akad bai’ bil mulamasah yaitu jual beli dengan tidak melihat barang yang akan di perjual belikan dan cukup dengan hanya merabanya saja. Dalam hukum waris, diatur tentang tidak memberi bagian harta warisan kepada anak perempuan, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Setelah datangnya Islam, banyak diantara hukum-hukum tersebut di batalkan, dan ada pula yang diperbaikidan adapula  yang ditetapkan berlakunya.

E. PENUTUP

Dari beberapa sub pokok bahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Jazirah Arab bentuknya memanjang dan tidak parallelogram. Ke sebelah utara Palestina dan padang Syam, ke sebelah timur Hira, Dijla (Tigris), Furat (Euphrates) dan Teluk Persia, ke sebelah selatan Samudera Indonesia dan Teluk Aden, sedang ke sebelah barat Laut Merah
  2. Orang-orang Arab hidup secara komunal, hidup dalam suku-suku yang umumnya terbentuk berdasarkan pertalian darah. Dengan hidup secara komunal, seseorang bisa bertahan hidup. Suku ketika itu adalah pelindung bagi eksistensi seseorang. Jika seseorang terbunuh oleh suku yang lain, suku orang tersebut akan melakukan tindakan menuntut balas. Inilah satu-satunya hukum yang berlaku bagi tindak kriminal pembunuhan. Tidak ada sistem hukum mapan dan canggih yang mengatur hal ini. Ini akhirnya menciptakan lingkaran setan pembunuhan, sehingga berakibat pada terjadinya konflik dan peperangan antar suku yang tidak pernah berhenti.
  3. Ada tiga karakter sistem hukum Jahiliyyah pada masyarakat Arab pra-Islam, yaitu Rasial, Feudal dan Patriakhis dengan ketiga karakter utama tersebut, kemudian menjadi latar belakang kemunculan Islam dengan membawa perubahan social di dalam hukum yang revolusioner

DAFTAR BACAAN

Ahmad Sukardja, 1995, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, Kajian Perbandingan Tentang Dasar Hidup Bersama Dalam Masyarakat Yang Majemuk, Jakarta:UI-Press, 1995

Ali Husni al-Khurbuthuli, Ma’a al-‘Arab (I): Muhammad wa al-Qawmiyyah al-‘Arabiyyah, cet. II (Kairo: al-Mathbu’ah al-Haditsah, 1959Anshari Umar Sitanggal dan Rosichin (penterjemah) Bandung: al-Ma’arif, 1984.

Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, notasi oleh Mushthafa al-Saqa, dkk., cet. II Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Awladihi, 1955 M / 1375 H, jilid I.

Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, cet. X Cambridge: Cambridge University Press, 1995.

Komaruddin Hidayat, Masyarakat Agama dan Agenda Penegakan Masyarakat Madani, dalam: Taufik Abdullah,dkk., Membangun Masyarakat Madani Menuju Indonesia Baru Milenium ke-3, Yogyakarta: Aditya Media, 1999

M.A. Shaban, Islamic History: A New Interpretation I A.D. 600-750, cet. IX Cambridge: Cambridge University Press, 1971.

M.Dawam Rahardjo, Masyarakat Madani: Agama,Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, Jakarta: LSAF, 1999

Machasin, Pemikiran dan Peradaban Islam, Makalah disampaikan pada acara diskusi “Riset dan Review Kurikulum Pendidikan Keagamaan” , Diselenggarakan Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 2003, Yogyakarta

Muhammad Fuad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al-Karim, cet. I ttp.: Dar al-Fikr, 1986 M / 1406 H.

Philip K. Hitti, History of Arabs from Earliest Times to the Present, edisi X  London: The Macmillan Press, 1974

W. Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman, cet. II Oxford: Oxford University Press, 1969

Washington Irving, Life of Mahomet (London: J.M. Dent & Son Lt., 1949Haifaa A. Jawad, The Rights of Women in Islam; An Authentic Approach, cet I New York: S.T. Martin’s Press, 1989


[1] Lihat Tarikh’t-Tabari cetakan Al-Husainia, vol. 2, h. 106 dan 108

[2] Machasin, Pemikiran dan Peradaban Islam, Makalah disampaikan pada acara diskusi “Riset dan Review Kurikulum Pendidikan Keagamaan” , Diselenggarakan Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 2003, Yogyakarta, hlm. 1.

[3]M.Dawam Rahardjo, Masyarakat Madani: Agama,Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, (Jakarta: LSAF, 1999)., h.148-149

[4]Ahmad Sukardja, 1995, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, Kajian Perbandingan Tentang Dasar Hidup Bersama Dalam Masyarakat Yang Majemuk, (Jakarta:UI-Press, 1995), hlm. 47-57.

[5]Komaruddin Hidayat, Masyarakat Agama dan Agenda Penegakan Masyarakat Madani, dalam: Taufik Abdullah,dkk., Membangun Masyarakat Madani Menuju Indonesia Baru Milenium ke-3, (Yogyakarta: Aditya Media, 1999), h. 267

[6]Philip K. Hitti, History of Arabs from Earliest Times to the Present, edisi X  (London: The Macmillan Press, 1974), hlm. 87.

[7]Ibid.

[8]Lihat Muhammad Fuad Abd al-Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’an al-Karim, cet. I (ttp.: Dar al-Fikr, 1986 M / 1406 H), hlm. 184.

[9]LIhat nukilan dari al-‘Aruba fi Mizan al-Qawmiyyah, hlm 10 yang terdapat dalam Ali Husni al-Khurbuthuli, Ma’a al-‘Arab (I): Muhammad wa al-Qawmiyyah al-‘Arabiyyah, cet. II (Kairo: al-Mathbu’ah al-Haditsah, 1959), hlm. 5.

[10]Nukilan dari al-Thabari, Tarikh al-Tabari, II: 150-156 dalam buku ‘Ali Abd al-Wahid Wafi, al-Musawah fi al-Islam, Anshari Umar Sitanggal dan Rosichin (penterjemah) (Bandung: al-Ma’arif, 1984), hlm. 17-18.

[11]‘Ali Husni al-Khurbuthuli menyatakan bahwa orang Arab pra-Islam (Jahiliyyah) benar-benar selalu membela anggota qabilah-nya, baik dalam posisi menganiaya (zhalim) maupun dalam posisi teraniaya (mazhlum), lihat ‘Ali Husni al-Khurbuthuli, Ma’a al-‘Arab (I) …, hlm. 21.

[12] Lihat Ibid., hlm. 6.

[13]Lihat Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, notasi oleh Mushthafa al-Saqa, dkk., cet. II (Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Awladihi, 1955 M / 1375 H), jilid I, hlm. 184.

[14]W. Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman, cet. II (Oxford: Oxford University Press, 1969), hlm. 51-52.

[15]M.A. Shaban, Islamic History: A New Interpretation I A.D. 600-750, cet. IX (Cambridge: Cambridge University Press, 1971), hlm. 8.

[16]Philip K. Hitti, History of Arab…, hlm. 95.

[17]Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, cet. X (Cambridge: Cambridge University Press, 1995), hlm. 24.

[18] Lihat Washington Irving, Life of Mahomet (London: J.M. Dent & Son Lt., 1949), hlm. 13-14.

[19] Lihat Haifaa A. Jawad, The Rights of Women in Islam; An Authentic Approach, cet I (New York: S.T. Martin’s Press, 1989), hlm. 1-3.

[20] Lihat Ira M. Lapidus, A History of Arab…, hlm. 19-20.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s