PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN SISWA

A. LATAR BELAKANG

Pendidikan Islam sebagai sebuah sistem sesunguhnya telah membuka cakrawala berfikir dalam bentuk yang lebih sistematis dalam membentuk pribadi Muslim, oleh karena itulah maka pendidikan Islam selayaknya menjadi perhatian yang serius bagi setiap kalangan pemikir mulsim.

Secara bahasa pendidikan Islam menurut Mahmud Yunus diidentikkan dengan kata Ta’lim dengan terjemahan pengajaran, dan al-Ta’dib dengan makna pendidikan sopan santun.[1] Sementara dalam Ibn Manzur memaknai Pendidikan Islam  sama dengan kata Rabba, yarbu, Tarbiyatan dengan makna tambah dan berkembang.[2] Di Indonesia istilah yang paling populer digunakan untuk memaknai pendidikan Islam adalah kata Tarbiyah.

Secara terminologis, defenisi pendidikan Islam menurut Zakiyah Darajat, bahwa prinsipnya pendidikan Islam adalah pembentukan pribadi muslim. Sebab pendidikan Islam lebih banyak ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan sendiri maupun orang lain, bahkan pendidikan Islam diidentikkan dengan pendidikan Iman dan pendidikan Amal.

Pengertian pendidikan menurut UU No 20/2003 adalah, usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak yang mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[3]

Dari beberapa defenisi diatas, agaknya pendidikan Islam memiliki ranah gerak yang sangat luas, tanggung jawab pendidikan Islam tidak hanya sebatas pendidikan jasmani dan pengayaan intelektual semata, melainkan juga mempersiapkan diri yang tangguh dalam segala bidang, siap berkarya dan menjadikan Allah sebagai tujuan (hanya mengharap ridha Allah semata), dunia dan akhirat. dalam hal ini penulis lebih melihat bahwa pendidikan Islam menuntu integritas kepribadian yang komprehensip, spritualitas dan  rasionalitas, iman dan ilmu, akal dan hati serta fikir dan zikir.

Dalam konteks bernegara, tujuan pendidikan secara umum tertuang dalam UU No 20/2003 berbunyi “tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis sereta bertanggung jawab”.[4] Secara formil proses pengembangan potensi peserta didik untuk menuju ketercapaian tujuan dari pendidikan nasional itu adalah sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

Fenomena dunia pendidikan saat ini menggambarkan ketidakmampuan sekolah (lembaga pendidikan) untuk menghadang arus globalisasi sehingga banyak menimbulkan prilaku menyimpang dari peserta didik, prilaku menyimpang yang dicontohkan oleh Musriadi lebih mengarah kepada penyimpanagan dalam aspek moralitas seperti, minum-minuman keras, mengkonsumsi Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA), Siswa menampar guru,  dan bahkan ada yang berani memperkosa guru, dan lain sebagainya.[5] Secara makro prilaku menyimpang siswa tidak hanya di lakukan olah siswa yang berada di tingkat sekolah lanjutan atas (SMA) melainkan juga dari sekolah setingkat Sekolah Dasar (SD), seperti yang di paparkan oleh Togar Sianipar sebagai Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN) bahwa, sedikitnya 900 anak sekolah dasar (SD) di Indonesia diketahui kena narkoba, terutama jenis ganja. Dengan masuknya narkoba ke tingkat SD berarti semua jenjang pendidikan sudah diselusupi barang haram ini. Di SLTP dan SMA ribuan anak didik yang kena narkoba, begitu juga tidak ada universitas atau perguruan tinggi di Indonesia yang bebas narkoba.[6]

Banyaknya kasus prilaku menyimpang dikalangan siswa tersebut, meyakinkan penulis, bahwa masalah ini perlu di carikan solusinya, salah satu yang dapat di jadikan pijakan dasar dalam penelaahan guna mencari jawaban dari persoalan tersebut adalah sejauh mana peran lembaga Pendidikan Islam dalam mengantisipasi dan menanggulangi kenakalan siswa  yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

B. FOKUS PENILITIAN

Adapun focus penelitiain ini adalah :

  1. Bentuk kenakalan siswa
  2. Penyebab kenakalan siswa
  3. Peran lembaga Pendidikan Islam dalam menanggulangi kenakalan siswa

C. ALASAN PEMILIHAN FOKUS PENELITIAN

 

  1. Penanggulangan dan pengantisipasian kenakalan siswa perlu di lakukan dengan cara mengetahui terlebih dahulu apa saja bentuk kenakalan yang kerapkali dilakukan. Dengan mengetahui bentuknya, maka akan lebih mudah menelaah dan mencari penyebab dari bentuk kenakalan tersebut, meskipun sesungguhnya tidak selalu ada hubungan yang simetris antara bentuk dan penyebab, namun penulis berkeyakinan bahwa dengan mengetahui bentuk kenakalan, akan mempermudah mendiagnosa strategi penanggulangannya
  2. Penanggulangan kenakalan siswa dapat diatasi dengan cara mengetahui penyebabnya, sehingga dengan demikian dapat dirumuskan strategi pemecahannya, selain itu penyebab kenakalan perlu di teliti mengingat tak ada akibat tanpa penyebab.
  3. Bahwa salah satu tujuan dari keberadaan lembaga pendidikan Islam sebagai satu kesatuan dari sistem pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis sereta bertanggung jawab, selain itu secara konsepsional tujuan dari pendidikan Islam adalah terbentuknya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt yang bersumber pada Alquran dan Alhadits. Ini mengindikasikan bahwa kenakalan siswa dapat menghambat dan bahkan membuat gagalnya tujuan dari system pendidikan nasional dan juga Pendidikan Islam.

D. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pada latar belakang dan focus penelitian tersebut, maka rumusan masalah yang hendak di carikan jawabannya adalah “Bagaimana Peran Lembaga Pendidikan Islam dalam Menanggulangi Kenakalan Siswa ?”

E. HASIL PENELITIAN SEMENTARA

 

Kenakalan seringkali dikaitkan dengan anak-anak, sehingga dikenal istilah anak nakal, dan adakalanya disangkutpautkan dengan orang dewasa seperti pengusaha nakal, kenakalan lebih melekat pada remaja. Mencorat-coret dinding, mabal (bolos sekolah) dan kebut-kebutan adalah jenis-jenis kenakalan yang umum dilakukan remaja. Dalam dekade terakhir, kenakalan remaja cenderung sangat memprihatinkan. Media massa, baik cetak maupun elektronik sering memberitakan aktivitas remaja yang membahayakan. Sebut saja perkelahian secara perorangan, tawuran pelajar, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan dan penyalahgunaan obat-obatan seperti psikotropika, yang yang bisa berujung dengan kematian. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, nakal adalah “suka berbuat kurang baik  (tidak menurut, mengganggu dsb. terutama bagi anak-anak) atau buruk kelakuan.” Juvenile deliquency atau kenakalan remaja dapat ditinjau dari empat faktor penyebab, yakni faktor pribadi, faktor keluarga yang merupakan lingkungan utama, maupun faktor sekolah dan lingkungan sekitar yang secara potensial dapat membentuk perilaku seorang remaja.

Kenakalan remaja merupakan gejala umum, khususnya terjadi di kota-kota besar yang kehidupannya diwarnai dengan adanya persaingan-persaingan dalam memenuhi kebutuhan hidup, baik yang dilakukan secara sehat maupun secara tidak sehat. Persaingan-persaingan tersebut terjadi dalam segala aspek kehidupan khususnya kesempatan memperoleh pendidikan dan pekerjaan. Betapa kompleksnya kehidupan tersebut memungkinkan terjadinya kenakalan remaja. Penyebab kenakalan remaja sangatlah kompleks, baik yang berasal dari dalam diri remaja tersebut, maupun penyebab yang berasal dari lingkungan, lebih-lebih dalam era globalisasi ini pengaruh lingkungan akan lebih terasa. Pemahaman terhadap penyebab kenakalan remaja mempermudah upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Upaya-upaya tersebut dapat bersifat preventif, represif, dan kuratif. Tanggung jawab terhadap kenakalan remaja terletak pada orangtua, sekolah, dan masyarakat, khususnya para pendidik baik yang ada di keluarga (orangtua), sekolah (guru-guru dan para guru pembimbing) maupun para pendidik di masyarakat, yakni para pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat.

Tindakan preventif yang dapat dilakukan antara lain: (a) Meningkatan kesejahteraan keluarga; perbaikan lingkungan yaitu daerah slum, dan kampung-kampung miskin; (b) Mendirikan klinik bimbingan psikologis dan edukatif untuk memperbaiki tingkah laku dan membantu remaja dari kesulitan mereka; (c) Mendirikan tempat rekreasi yang sehat sebagai tempat yang ikut membantu penumbuhan jati diri remaja dan jauh dari aroma kejahatan serta kemaksiatan; (d) Membentuk badan kesejahteraan anak dengan cara mendirikan lembaga-lembaga advokasi anak, rumah singgah dan panti asuhan bagi anak-anak terlantar; (e) Mendirikan lembaga reformatif untuk memberikan latihan korektif, pengoreksian dan asistensi untuk hidup mandiri; (f) Menyelenggarakan diskusi kelompok dan bimbingan kelompok untuk membangun kontak manusiawi diantara remaja, diskusi tersebut akan sangat membantu dalam upaya rekonstruksi dan penggalian kesulitan anak; (g) Mendirikan lembaga yang membina keterampilan hidup life skill bagi anak sehingga bisa hidup berinteraksi dengan masyarakt sebaik mungkin.

Disamping itu, perlu dilakukan upaya/tindakan hukuman bagi mereka yang terbukti telah melakukan pelanggaran berat berupa hukuman melalui lembaga peradilan, lembaga pendidikan atau lembaga rumah tangga dengan tetap memperhatikan sebab perlakuan dan tindakan tersebut guna menimbulkan kesadaran dalam diri anak akibat perbautannya.

F. ANALISIS DOMAIN DAN TAKSONOMI

 

No Included term/Rincian domain Hubungan semantik Cover Term/Domain
1 Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa Adalah Tujuan Dari Sistem Pendidikan Nasional dan Pendidikan Islam
sehat
berilmu
cakap
kreatif
mandiri
berakhlak mulia
menjadi warga negara yang demokratis sereta bertanggung jawab
2 MI Adalah tingkatan dari Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
MTS
MA
PTAI
Pesantrean
3 Ruang Kantor Adalah Tempat Jenis ruang yang digunakan dalam proses pembelajaran di Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
Ruang Kelas
Ruang Ibadah
4 Mengikuti Pelajaran Adalah cara Mencapai Prestasi Belajar
Belajar yang tekun
Tidak Bolos
5 Salam/Tegur sapa Adalah strategi Membentuk Kepribadian Luhur
Hormat menghormati
Rajin Beribadah
Sopan
Memberikan keteladanan
6 Siswa nakal Adalah bentuk dari Kenakalan Siswa
Siswa berkelahi
Siswa tauran
Siswa terlibat Narkoba
Siswa free sex
Manajemen Lembaga Pendidikan yang amburadul Adalah sebab dari Terjadinya kenakalan siswa
Guru yang Cuek
Broken Home
Peraturan yang terlalu longgar
Lingkungan yang individual

G. ANALISIS KOMPONENSIAL DAN KULTURAL

    1. Bentuk-bentuk kenakalan siswa meliputi: (a) Pelecehan seksual berupa mencolek teman wanitanya dengan sengaja sehingga menimbulkan keresahan bagi siswi-siswi, hingga tindakan pemerkosaan; (b) Free seks atau seks bebas yang dilakukan atas dasar suka sama suka, baik melalui proses hubungan pacaran maupun komersialiasi; (c)  Bolos sekolah yang bermuara pada tindakan yang meresahkan masyarakat sekitar seperti nongkrong di jalan-jalan atau main di pasar-pasar; (d) Penyebaran pornografi, baik berupa penjualan VCD Porno maupun gambar-gambar porno; (e) Memalak/meminta sesuatu kepada orang lain dengan cara paksa bahkan tidak segan-segan melukai korban; (f) Merokok baik yang dilakukan oleh siswa maupun siswi; (g)  Perkelahian antar sekolah (tawuran) yang disebabkan oleh wanita harga diri kelompok atau sekedar gengsi-gensian; (h) Narkotika atau Drugs yang berawal dari coba-coba hingga menjadi pecandu, bahkan tidak jarang mereka juga menjadi pengedar kecil-kecilan hingga menjadi bandar untuk sebuah unit pasar pengguna seperti di sekolah; (i) dan tindakan-tindakan lainnya yang melanggar norma sosial, susila, hukum dan agama.
    2. Adapun sebab dari kenakalan siswa adalah dapat dibedakan atas dua sebab, yaitu sebab intern dan sebab ekstern. Sebab-sebab intern berupa: cacat keturunan, pembawaan negatif yang sukar dikendalikan, pemenuhan kebutuhan pokok yang kurang seimbang, lemahnya kemampuan pengawasan dan pengendalian diri dengan lingkungan yang baik, tidak memiliki kegemaran yang sehat. Sebagai langkah pertama yang digali dan dicari latar belakang kenakalan siswa/siswi berpangkal pada sisiwa itu sendiri. Menurut Gunarso, aktor penyebabnya, antara lain: a) kurangnya penampungan emosional, b) kelemahan pengendalian dorongan emosi, c) kegagalan prestasi sekolah, d) kurang pembentukan hati nurani. Adapun sebab-sebab ekstern dekadensi moral siswa/siswi bermacam-macam, antara lain:
      1. Kurangnya perhatian orang tua, mungkin akibat dari kelahiran yang tidak dikehendaki, keluarga yang tidak harmonis, kesibukan orang tua, kurangnya pengetahuan orang tua dalam memperlakukan putra-putrinya yang sudah dewasa.
      2. Menurunnya wibawa guru dan orang tua yang disebabkan kurang tegas dalam bertindak, kurang disiplin dalam menjalankan tugas, kurang pengabdian dan kurang memberikan teladan yang baik.
      3. Kegagalan pendidikan pada lingkungan keluarga dan sekolah, disebabkan kurangnya rasa cinta, kurang terarahnya kurikulum dan kurangnya pengabdian guru.

Kenakalan siswa/siswi tersebut juga disebabkan oleh kesalahan dalam pendekatan terhadap siswa, misalnya memanjakan siswa terlalu berlebihan, disiplin terlalu keras, memberi tugas terlalu berat, memperlakukan siswa sebagai anak kecil, terlalu banyak melarang, memberi contoh yang tidak layak dan memperhatikan sarana fasilitas yang bertentangan dengan norma keagamaan mosalnya bacaan porno yang dibawa orang tua ke rumah. Adapun upaya mengantisipasi dekadensi moral siswa dapat dilakukan dengan tindakan preventif yaitu segala tindakan yang bertujuan mencegah timbulnya kenakalan siswa, seperti: 1) usaha mengenal atau mengetahui ciri umum dan ciri khusus siswa, 2) mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami para siswa, 3) upaya pembinaan siswa dengan cara menguatkan sikap mental siswa supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi, 4) memberikan pendidikan bukan hanya dalam menambah pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga pendidikan akhlak/mental dan pribadi melalui pengajaran agama sebagai medianya, 5) menyediakan sarana-sarana dan menciptakan keadaan lingkungan sekitar, keadaan lingkungan sosial, keluarga, dan masyarakat menjadi

  1. Peran lembaga pendidikan Islam yang tampak dalam mengatasi kenakalan siswa dengan melakukan tindakan prventif, tindakan represif dan tindakan kuratif. Selain itu untuk memperbaiki mental siswa dan membentuk kepribadian, guru PAI mengadakan bimbingan dan arahan untuk mengurangi tingkat kenakalan siswa, melalui kegiatan-kegiatan keagamaan seperti: sholat jamaah secara bergilir setiap kelas, memperingati hari besar agama Islam, mengadakan infak rutin setiap hari Jum’at, kegiatan pesantren kilat setiap bulan ramadhan dan peringatan Idul Adha.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: YP3A, 1973

Ibn Manzur, Lisan al-Arab, Beirut: Dar al-Ahya’, t.th)., Juz. 13,

Undang-undang N0 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Buana, 2003

Musriadi Musannif , Wajah Pendidikan Kita, (Padang, HUI Singgalang, 2004), Edisi 09 Mei 2004, Kolom Langgam

Harian Pikiran Rakyat, hari Minggu tanggal 14 Maret 2004


[1]Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: YP3A, 1973), h. 149

[2]Ibn Manzur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar al-Ahya’, t.th)., Juz. 13, h. 94-96

[3]Undang-undang N0 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Buana, 2003)., h. 7

[4] Undang-undang No 20 tahun 2003, Loc. Cit.,

[5]Musriadi Musannif , Wajah Pendidikan Kita, (Padang, HUI Singgalang, 2004), Edisi 09 Mei 2004, Kolom Langgam

[6]hal ini di kemukakanya pada saat memberikan kata sambutan pada acara penyuluhan narkoba di ciamis jawa barat, lebih lanjut lihat, Harian Pikiran Rakyat, hari Minggu tanggal 14 Maret 2004

2 comments on “PERAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENANGGULANGI KENAKALAN SISWA

  1. mantap…sebuah tulisan yang menggelitik..khusus bagi para guru dan orang2 yang terlibat dalam dunia pendidikan…thanks…semoga tulisan ini bermanfaat..

  2. kalu kta melihat banyak sekali yang mengatakan bahwa kenakalan remaja disebabkan faktor keluarga,pergaulan bebas,dan lingkungan. tapi kenapa kita tidak memberikan contoh lebih dulu kepada merika misalnya dalam bergaul maka carilah teman yg baik yg membawa kepada kebaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s