PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KESEHATAN MENTAL

A. PENGERTIAN POLA ASUH ORANG TUA

Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi orang yang berkepribadian baik, sikap mental yang sehat serta akhlak yang terpuji. Orang tua sebagai pembentuk pribadi yang pertama dalam kehidupan anak, dan harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Zakiyah Daradjat, bahawa .Kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup merupakan unsur-unsur pendidikan yang secara tidak langsung akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh.[1]

Dalam mendidik anak, terdapat berbagai macam bentuk pola asuh yang bisa dipilih dan digunakan oleh orang tua. Sebelum berlanjut kepada pembahasan berikutnya, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian dari pola asuh itu sendiri.

Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap.[2] Sedangkan kata asuh dapat berati menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu; melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga.[3] Kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dukungan, dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya secara sehat.[4] Menurut Dr. Ahmad Tafsir seperti yang dikutip oleh Danny I. Yatim-Irwanto .Pola asuh berarti pendidikan, sedangkan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[5]

Jadi pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.

B. MACAM-MACAM POLA ASUH ORANG TUA

Dalam mengelompokkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda, yang antara satu sama lain hampir mempunyai persamaan. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Dr. Paul Hauck menggolongkan pengelolaan anak ke dalam empat macam pola, yaitu :

  1. Kasar dan tegas; Orang tua yang mengurus keluarganya menurut skema neurotik menentukan peraturan yang keras dan teguh yang tidak akan di ubah dan mereka membina suatu hubungan majikan-pembantu antara mereka sendiri dan anak-anak mereka.
  2. Baik hati dan tidak tegas; Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja, yang lemah dan yang tergantung, dan yang bersifat kekanak-kanakan secara emosional.
  3. Kasar dan tidak tegas; Inilah kombinasi yang menghancurkan kekasaran tersebut biasanya diperlihatkan dengan keyakinan bahwa anak dengan sengaja berprilaku buruk dan ia bisa memperbaikinya bila ia mempunyai kemauan untuk itu.
  4. Baik hati dan tegas; Orang tua tidak ragu untuk membicarakan dengan anak-anak mereka tindakan yang mereka tidak setujui. Namun dalam melakukan ini, mereka membuat suatu batas hanya memusatkan selalu pada tindakan itu sendiri, tidak pernah si anak atau pribadinya.[6]

Drs. H. Abu Ahmadi mengemukakan bahwa, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Research Institute, corak hubungan orang tua-anak dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu :

  1. Pola menerima-menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
  2. Pola memiliki-melepaskan, pola ini didasarkan atas sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali.
  3. Pola demokrasi-otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisifasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak, sedangkan dalam pola demokrasi, sampai batas-batas tertentu, anak dapat berpartisifasi dalam keputusan-keputusan keluarga.[7]

Menurut Elizabet B. Hurlock ada beberapa sikap orang tua yang khas dalam mengasuh anaknya, antara lain :

  1. Melindungi secara berlebihan; Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan.
  2. Permisivitas; Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati dengan sedikit pengendalian.
  3. Memanjakan; Permisivitas yang berlebih-memanjakan membuat anak egois, menuntut dan sering tiranik.
  4. Penolakan; Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka.
  5. Penerimaan; Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak, orang tua yang menerima, memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak.
  6. Dominasi; Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat jujur, sopan dan berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh dan mudah dipengaruhi orang lain, mengalah dan sangat sensitif.
  7. Tunduk pada anak; Orang tua yang tunduk pada anaknya membiarkan anak mendominasi mereka dan rumah mereka.
  8. Favoritisme; Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata, kebanyakan orang tua mempunyai favorit. Hal ini membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya dari pada anak lain dalam keluarga.
  9. Ambisi orang tua; Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka seringkali sangat tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik di tangga status sosial.[8]

Danny I. Yatim-Irwanto mengemukakan beberapa pola asuh orang tua, yaitu :

  1. Pola asuh otoriter, pola ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi.
  2. Pola asuh demokratik, pola ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya.
  3. Pola asuh permisif, pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya.
  4. Pola asuhan dengan ancaman, ancaman atau peringatan yang dengan keras diberikan pada anak akan dirasa sebagai tantangan terhadap otonomi dan pribadinya. Ia akan melanggarnya untuk menunjukkan bahwa ia mempunyai harga diri.
  5. Pola asuhan dengan hadiah, yang dimaksud disini adalah jika orang tua mempergunakan hadiah yang bersifat material atau suatu janji ketika menyuruh anak berprilaku seperti yang diinginkan.[9]

Thomas Gordon mengemukakan metode pengelolaan anak, yaitu :

  1. Pola asuh menang
  2. Pola asuh mengalah
  3. Pola asuh tidak menang dan tidak kalah.[10]

Menurut Syamsu Yusuf terdapat 7 macam bentuk pola asuh yaitu :

a. Overprotection ( terlalu melindungi )

b. Permisivienes ( pembolehan )

c. Rejection ( penolakan )

d. Acceptance ( penerimaan )

e. Domination ( dominasi )

f. Submission ( penyerahan )

g. Over disipline ( terlalu disiplin ).[11]

Sedangkan Marcolm Hardy dan Steve Heyes mengemukakan empat macam pola asuh yang dilakukan orang tua dalam keluarga, yaitu :

  1. Autokratis (otoriter); Ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua dan kebebasan anak sangat di batasi.
  2. Demokratis; Ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak.
  3. Permisif; Ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri.
  4. Laissez faire; Ditandai dengan sikap acuh tak acuh orang tua terhadap anaknya.[12]

Oleh karena, jika dilihat dari berbagai macam bentuk pola asuh di atas pada intinya hampir sama. Misalnya saja antara pola asuh autokratis, over protection, over discipline. Dominasi, favoritisme, ambisi orang tua dan otoriter, semuanya menekankan pada sikap kekuasaan, kedisiplinan dan kepatuhan yang berlebihan. Demikian pula halnya dengan pola asuh laissez faire, rejection, submission, permisiveness, memanjakan. Secara implisit, kesemuanya itu memperlihatkan suatu sikap yang kurang berwibawa, bebas, acuh tak acuh. Adapun acceptance (penerimaan) bisa termasuk bagian dari pola asuh demokratis.

C. HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KESEHATAN MENTAL

Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya. Berikut ini adalah beberapa pengertian tersebut:

  1. Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose)
  2. Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana dia hidup dan berinteraksi.
  3. Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
  4. Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri.[13]

Jadi dalam hal ini Kesehatan mental dapat dirangkum. Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.

Pengertian mengenai kesehatan beragam ungkapnya Pengertian sehat atau kesehatan menurut dokter mungkin sedikit banyak akan berbeda dengan perawat, fisioterapi, apoteker atau tenaga peramedis lainnya. Meskipun mereka bersama-sama mengabdi pada bidang kesehatan. Adapun pengertian tentang kesehatan :

  1. Dalam indeks buku The International Dictionary Of Medicine and Biology (Freund.1991) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya yang dirincikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit.
  2. WHO mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental ( rohani ) dan social, bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan.(Smeet. 1994).
  3. Pembahasan mengenai konsep kesehatan lebih difokuskan pada model-model kesehatan yang muncul. Model-model kesehatan itu antara lain model barat dan model timur.

Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian yang beragam seiring perkembangannya, sebagai kondisi atau keadaan sebagaimana gambaran diatas dan sebagai ilmu pengetahuan cabang dari ilmu psikologi yang bertujuan mengembangkan potensi manusia seoptimal mungkin dan menghindarkannya dari gangguan dan penyakit kejiwaan.[14]

Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu :

  1. Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
  2. Memiliki interaksi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam menghadapi problema hidup termasuk stress.
  3. Mampu mengaktualisasikan secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
  4. Mampu bersoiallisasi dan menerima kehadiran orang lain
  5. Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan
  6. Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
  7. Mawas diri atau memiliki control terhadap segala kegiatan yang muncul.
  8. Memiliki perasaan benar dan sikap yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.

Pola asuh secara umum diarahkan pada cara orangtua memperlakukan anak dalam berbagai hal, baik dalam berkomunikasi, mendisiplinkan, memonitor , mendorong dan sebagainya. Menurut Glasgow,  pola asuh merupakan sekumpulan sikap, kebiasaan dan ekspresi non verbal orangtua yang memberi ciri pada sifat interaksi anak dan orangtua dalam menghadapi berbagai situasi. Dimensi pola asuh menurut Maccoby &Martin, terdiri dari 2 dimensi, yaitu responsiveness dan demandingness. Dimensi responsiveness mengacu pada derajat atau kadar orangtua dalam memperhatikan kebutuhan dalam suatu bentuk atau cara penerimaan, supportiv, kehangatan dan dorongan. Dimensi demandingness mengacu pada perilaku orangtua dalam mengontrol perilaku anaknya agar mencapai perilaku yang diharapkan, kematangan, dan perilaku tanggungjawab, dan memastikan bahwa peraturan mereka dipatuhi. Kombinasi antara 2 dimensi tersebut membentuk gaya atau jenis pola asuh orangtua yang bisa berbeda-beda pada tiap orangtua. Keseimbangan antara 2 dimensi itu menghasilkan pengaruh positif terhadap perkembangan anak hingga dewasa.[15]

Pola asuh sebagai kombinasi antara dimensi responsiveness dan demandingness membentuk 3 jenis pola asuh, yaitu

  1. Autorithative : Orangtua seperti ini hangat tetapi keras, mereka menjunjung tinggi kemandirian tetapi menuntut tanggungjawab akan sikap anak, menghadapi anak dengan sikap yang rasional dan terarah, menawarkan untuk berdiskusi dan membrikan penjelasan tentang masalah disiplin serta membantu anak menyelesaikan masalah
  2. Authoritarian : Orangtua menjunjung tinggi kepatuhan dan kenyamanan, mereka cenderung lebih keras dan memaksakan kedisiplinan. Tanya jawab verbal dan penjelasan tidak diterapkan dalam keluarga karena orangtua menganggap anak harus menerima tanpa mempertanyakan otoritas orangtua terhadap peraturan dan standar yang dibuat.
  3. Permissive (indulgent) : Orangtua bersikap menerima, murah hati dan agak pasif dalam kedisiplinan. Bila ada peraturan dalam rumah, maka peraturan tersebut tidak konsisten dan tidak jelas. Orangtua menganggap pengawasan adalah suatu pelanggaran terhadap kebebasan anak yang mungkin akan mengganggu kesehatan perkembangan anak. Anak akan belajar bahwa mereka dapat berperilaku sekehendak hati.

Baumrind, menunjukkan bahwa pola asuh autorithative merupakan pola asuh yang efektif karena memiliki kesimbangan 2 dimensi yang tinggi, artinya pola asuh ini memungkinkan orangtua bersikap hangat tapi tetap menjunung tinggi kemandirian dan menuntut sikap tanggungjawab anak, menghadapi anak engan sikap rasional dan terarah, menawarkan diskusi dengan anak , menjelaskan masalah disiplin dan membantu anak mencari penyelesaian masalah. Hal tersebut didukung oleh para peneliti saat ini diantaranya seperti pendapat Kartner, Slicker, dan Gunnoe dan mereka mengembangkan ide awal tadi dalam fokus yang bervariasi.[16]

Namun, dengan berkembangnya psikologi kultural saat ini, pola asuh yang dianggap efektif di satu kultur ternyata belum tentu cocok dengan kultur yang berbeda. Mengingat konsep pola asuh ini berawal dari konsep barat – yang dikenal mempunyai ciri individualisme, kemudian dengan ciri etnis, tingkat ekonomi tertentu ,memungkinkan bahwa konsep itu tidak cocok dengan kultur timur yang dikenal dengan ciri khas kolektivismenya, kemudian juga faktor etnis yang berbeda , dan tingkat ekonomi yang berbeda pula. Seperti menurut, bahkan dalam satu negara pun, cultur bisa berbeda, dengan penelitiannya ia melihat adanya kultur individualisme dan kolektivisme, walaupun memang hal itu dilatarbelakangi oleh etnis dari partisipan, artinya partisipan yang menunjukkan kultur kolektivisme itu mempunyai latar belakang etnis Asia, dan Afrika dibanding Eropa Amerika yang lebih individualis.

Lalu misalnya hasil penelitian yang menunjukkan gaya pola asuh autoritarian pada orangtua di Arab ternyata tidak menunjukkan hasil negatif bagi anaknya, kemudian penelitian di wilayah Asia juga banyak yang menunjukkan hal ynag senada. Steinberg, Lambom, Dombusch dan Darling dalam Dwairy menemukan bahwa pola asuh authoritharian pada Asian American menunjukkan penyesuaian diri yang lebih baik dan prestasi akademik yang lebih baik dari orang yang mendapatkan pola asuh autorithative. Kemudian Chao juga menemukan bahwa pola asuh authoritative sedikit pengaruhnya pada pencapaian tujuan diri seseorang pada imigran China di USA daripada Amerika Eropa. Begitu pula menurut Leung, Lau dan Lam, mereka menemukan bahwa pencapaian yang lebih baik pada orang China di Hongkong dan di RRC dengan pola asuh authoritharian daripada authorithative.

Perbedaan lintas budaya (cross-cultural) ini mungkin diakibatkan oleh perbedaan persepsi dari anak di berbagai kultur tersebut, misalnya kontrol orangtua tidak dipandang sebagai pengekangan atau hal yang negativ lainnya tetapi sebagai strategi yang terorganisir yang memberikan kontribusi pada keharmonisan keluarga, bahkan authoritarian dikaitkan dengan cinta dan kasih sayang.

Juga menurut Randolph bagi AfroAmerican, authoritharian dikaitkan dengan; kasih sayang, perhatian dan perlindungan dari bahaya jalanan serta membuat hidup lebih mudah bagi anak. Maka Kagitcibasi mengkritik bahwa konsep Barat tentang pola asuh yang dapat diterapkan di berbagai kultur kolektifistik sebetulnya tidaklah selalu tepat. [17]

Seperti telah diungkap sebelumnya, menurut Baumrind pola asuh yang menunjang bagi perkembangan anak adalah jenis autorithative, walaupun  telah disinggung pula keefektifannya bila dilihat di berbagai kultur yang berbeda.

Dwairy dalam penelitiannya yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pola asuh orangtua pada keterikatan remaja pada keluarga dan kesehatan mental remaja di Arab, melaporkan bahwa pola asuh autoritativ berhubungan dengan kedekatan remaja dengan keluarga dan juga berhubungan dengan kesehatan mental remaja. Dan hubungan antara kedekatan dengan keluarga dan kesehatan mental pun berkaitan erat.[18]

Penelitian itu dilakukan dengan 3 tahap, pertama menilai pola asuh orangtua dengan pendekatan Baumrind yang mengkategorikan pola asuh kedalam 3 kategori, yaitu authoritatif, authoritarian dan permissive, namun kemudian dibuat cluster sehingga dibuat kategori : controlling, fleksible dan inconsistent. Tahap kedua menentukan hubungan (kedekatan) antara anak dan orangtua dan hubungannya dengan pola asuh dan ketiga kesehatan mental remaja serta hubungannya dengan pola asuh orangtuanya.

Hasil pada tahap pertama menunjukkan sesuai dengan Baumrind, yaitu pola asuh aotoritatif berhubunan secara signifikan dengan kedekatan antara keluarga dan kesehatan mental, dan sebaliknya pola asuh autoritarian menunjukkan kedekatan dengan keluarga yang rendah dan menunjukkan status/kesehatan mental yang rendah dibanding authoritatif. Namun ketika pola asuh tadi digunakan, remaja yang tumbuh dalam kategori inconsistent menunjukkan kedekatan yang lebih rendah dengan keluarga dibandingkan dengan yang berada dalam kategori controlling dan fleksibel.

Begitu pula pola asuh dalam kaitannya dengan kesehatan mental, pola asuh autoritativ berhubungan dengan kesehatan mental yang baik, dan sebaliknya autoritarian menunjukkan kesehatan mental yang rendah. Dan yang menarik adalah ternyata kesehatan mental yang tinggi atau baik terlihat seimbang pada remaja yang dibesarkan dalam pola asuh controlling dan fleksibel dibanding dengan pola asuh inconsisten. Jadi umumnya dalam pnelitian ini disebutkan bahwa autoritarian secara sendirian tidak berkaitan dengan hasil yang negatif, walaupun bila dikombinasikan dengan permisif menghasilkan hasil yang negatif dalam kedekatan dan kesehatan mental. Maka dalam penelitian Dwairy ini lebih menekankan pada faktor inconsistency dari pola asuh.

DAFTAR PUSTAKA

Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1996), Cet ke-15

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1988

TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1

Elaine Donelson, Asih, Asah, Asuh Keutamaan Wanita, (Yogyakarta : Kanisius, 1990), Cet. Ke-1

Danny I. Yatim-Irwanto, Kepribadian Keluarga Narkotika, Jakarta : Arcan, 1991, Cet. Ke-1

Paul Hauck, Psikologi Populer, (Mendidik Anak dengan Berhasil), Jakarta : Arcan, 1993, Cet.Ke-5

Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta : PT Rieneka Cipta, 1991

Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak/Child Development, Terj. Meitasari Tjandrasa, Jakarta : Erlangga, 1990 Cet. Ke-2

Thomas Gordon, Menjadi orang tua efektif, Jakarta : Gramedia, 1994

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Terj. Sumarji, (Jakarta : Erlangga, 1986

Malcom Hardy dan Steve Heyes, Terj. Soenardji, Pengantar Psikologi, Jakarta : Erlangga, 1986, Edisi ke-2,

Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV. Haji Sama Agung, 1994

Mohammad Shochib, Pola Asuh Orang Tua dalam membantu Disiplin diri, Jakarta : PT Rieneka Cipta, Cet. I,1998.

Ellen K Slicker, et.al. The Relationship of parenting style to older adolescent life-skills development in the United States2005. Tersedia dalam www.sagepublications.com

Paul E Jose, C.S.Huntsinger, P.R Huntinger, Fong-Ruey Liaw. 2000. Parental Values and Practices Relevant to young children’s social development in Taiwan and The United States. Journal Of Cross-Cultural Psychology, Western Washington University Vol. 31 No. 6, November 2000

Marwan Dwairy, Mustafa Achoui, Reda Abouserie, Adnan Farah. 2006. Parenting Styles, Individuation, and mental Health of Arab Adolescents. Journals of Cross Cultural Psychology. Sage Publication. Tersedia pada http://www.sagepublications.com


[1]Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : Bulan Bintang, 1996), Cet ke-15, h. 56

[2]Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988), h. 54

[3]TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1, h. 692

[4]Elaine Donelson, Asih, Asah, Asuh Keutamaan Wanita, (Yogyakarta : Kanisius, 1990), Cet. Ke-1, h.5

[5] Danny I. Yatim-Irwanto, Kepribadian Keluarga Narkotika, (Jakarta : Arcan, 1991), Cet. Ke-1, h. 94

[6] Paul Hauck, Psikologi Populer, (Mendidik Anak dengan Berhasil), (Jakarta : Arcan,

1993), Cet.Ke-5, h. 47

[7] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT Rieneka Cipta, 1991), h. 180

[8] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak/Child Development, Terj. Meitasari Tjandrasa, (Jakarta : Erlangga, 1990), Cet. Ke-2, h. 204

[9]Danny I. Yatim-Irwanto, Kepribadian Keluarga Narkotika, (Jakarta : Arcan, 1991), Cet. Ke-1, h. 94

[10] Thomas Gordon, Menjadi orang tua efektif, (Jakarta : Gramedia, 1994), h. 127

[11] Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Terj. Sumarji, (Jakarta : Erlangga, 1986), h. 21

[12]Malcom Hardy dan Steve Heyes, Terj. Soenardji, Pengantar Psikologi, (Jakarta : Erlangga, 1986), Edisi ke-2, h. 131

[13]Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Jakarta: CV. Haji Sama Agung, 1994)., h. 12-16

[14] Mohammad Shochib, Pola Asuh Orang Tua dalam membantu Disiplin diri, Jakarta : PT Rieneka Cipta, Cet. I,1998.

[15]Ellen K Slicker, et.al. The Relationship of parenting style to older adolescent life-skills development in the United States2005. Tersedia dalam http://www.sagepublications.com

[16]Paul E Jose, C.S.Huntsinger, P.R Huntinger, Fong-Ruey Liaw. 2000. Parental Values and Practices Relevant to young children’s social development in Taiwan and The United States. Journal Of Cross-Cultural Psychology, Western Washington University Vol. 31 No. 6, November 2000 677-702

[17]Marwan Dwairy, Mustafa Achoui, Reda Abouserie, Adnan Farah. 2006. Parenting Styles, Individuation, and mental Health of Arab Adolescents. Journals of Cross Cultural Psychology. Sage Publication. Tersedia pada http://www.sagepublications.com

[18]Ibid

One comment on “PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP KESEHATAN MENTAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s