HELENISME DAN PUNCAK PERADABAN MUSLIM; BAYT AL-HIKMAH

A. PENDAHULUAN

Sejarah mengajarkan bahwa setiap peradaban tumbuh dan berkembang dalam konteks, tidak dalam kondisi vakum. Setiap peradaban sekaligus berpengaruh pada dan dipengaruhi oleh peradaban lain yang mengitarinya. Betapapun megahnya sebuah peradaban, hampir bisa dipastikan bahwa ia dengan satu atau lain cara berhutang pada faktor-faktor yang berasal dari luarnya. Dengan demikian maka sejarah kemanusiaan sesungguhnya merupakan paduan dan interaksi dialektis antar berbagai peradaban yang tumbuh, berkembang, dan silih berganti mendominasi panggung sejarah dunia. Penaklukan-penaklukan oleh bangsa Arab selama abad-abad awal Islam (pemerintahan Umayyah dan Abbasyiah) membawa mereka kepada hubungan yang dekat dengan peradaban-peradaban besar dunia. Teori lama yang menyatakan bahwa orang-orang Muslim awal adalah musuh bagi ilmu pengetahuan dan sains, dan bahwa mereka hanya mau menerima ilmu pengetahuan yang berasal dari Qur’an dan Hadits, dan tidak manunjukkan toleransi terhadap kepercayaan dan kekayaan intelektual bangsa-bangsa lain, adalah pendapat yang tidak memiliki landasan sejarah. Peradaban Barat modern secara umum mengklaim dirinya berasal dari peradaban Barat yang lebih tua, biasanya diasosiasikan dengan Yunani dan Romawi. Hanya saja mengingat jarak antara kedua fase ini sedemikian jauh, adalah wajar untuk mengasumsikan adanya saling pengaruh antara peradaban Barat dengan peradaban yang mengitarinya, semacam Persia dan Islam. Dalam kenyataannya, pada saat peradaban Barat mengalami setback dalam abad-abad kegelapan, saat itu justru merupakan abad-abad perkembangan dan kejayaan peradaban Islam. Tetapi di sisi lain, peradaban Islam yang jelas lebih muda masih dalam periode pertumbuhan awal, ketika peradaban Barat kuno telah melalui masa kejayaan, yaitu masa Yunani, Helenisme , dan Romawi. Jika demikian halnya, maka asal-muasal peradaban Islam tidaklah mungkin begitu saja dibuat tanpa mempertimbangkan kaitannya dengan peradaban Barat kuno (Yunani, Helenisme, Romawi) yang pernah mendominasi dunia. Bertitik tolak dari uraian diatas, maka ada beberapa hal penting yang perlu dikaji, dalam hal ini menelusuri saling kait antara dua peradaban yaitu peradaban Barat kuno (peradaban Yunani) dan peradaban Islam dengan asumsi dasar bahwa: peradaban Islam tumbuh dan berkembang dengan masih berpengaruh kepada peradaban Yunani. Hal ini akan menjadi pembahasan dalam makalah berikut dengan pendekatan yang mencakup beberapa langkah yaitu: melihat bagaimana latar belakang historis transmisi peradaban Yunani ke peradaban Islam; pengertian helenisme dan perkembangannya, menelusuri bagaimana proses terjadinya gerakan penerjemahan; melihat siapa saja tokoh-tokoh utamanya; dan terakhir peristiwa penting yang mempengaruhi transmisi alih peradaban dari Yunani ke Islam.

B. LATAR BELAKANG HISTORIS TRANSMISI PERADABAN YUNANI KE PERADABAN ISLAM

Sejarah panjang Yunani pada masa itu mengantarkannya ke puncak peradaban manusia di seluruh dunia. Sebagai simbolisasi dari kuatnya peradaban Yunani dapat dengan mudah terlihat pada kemajuan yang telah dicapai di berbagai bidang. Dalam pembicaraan kita disini yang relevan adalah kemajuan intelektual yang telah berhasil dicapai dan terus menerus dikembangkan dikalangan orang Yunani. Tidak ada pembicaraan tentang perkembangan ilmu pengetahuan modern yang bisa menghindar untuk merujuk akarnya ke peradaban Yunani. Peradaban ini melahirkan nama besar di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Nama-nama seperti Thales, Anaximenes, Socrates, Aristoteles, Plato, Pythagoras, hanyalah beberapa dari keseluruhan yang lebih besar lagi yang kita kenal di dunia ilmu pengetahuan dewasa ini. Di Athena, misalnya Plato (w. 347 SM) mendirikan akademi filsafat yang belakangan dikenal sebagai Museum Athena, sebuah lembaga besar dan terbuka untuk para ilmuan dari berbagai latar belakang bangsa dan Agama bersama-sama mengembagkan pengetahuan. Secara historis, transformasi peradaban Yunani ke dunia Islam pada garis besarnya terdapat dua jalur. Pertama jalur perluasan wilayah, dan kedua jalur alih bahasa atau terjemahan. Ketika terjadi perluasan wilayah penguasa Islam, para penakluk Islam mendapati warisan-warisan peradaban yang tetap terjaga keutuhannya. Penerjemahan karya intelektual Yunani di negeri Arab sudah dimulai jauh sebelum lahirnya agama Islam atau penaklukan Asia Barat Daya oleh bangsa Arab pada tahun 641 M. Pekerjaan besar tersebut telah dirintis oleh para pengikut Kristen Monofisit serta Nestorian , dan kemudian dilanjutkan oleh kaum muslim. Tersebarnya ilmu pengetahuan Yunani, dan Helenisme ke penjuru dunia muslim menurut Nakosteen adalah disebabkan faktor-faktor histori yang luar biasa. Diantara faktor-faktor terpenting adalah sebagai berikut: 1. Penganiayaan dan pengusiran yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Ortodoks, yamg menerapkan pemisahan antara beberapa institusi dengan Gereja Induk (Mother Church) karena alasan-alasan perbedaan doktrinal. Pemisahan tersebut antara lain pada gereja Timur, sekte-sekte Nestorian dan Monophysite. Mereka dipaksa untuk berpindah kepada kebudayaan yang lebih bersahabat, dimana mereka memperoleh perlindungan dan kesempatan untuk mempertahankan keberadaannya. Setelah bergerak dari pusat-pusat Nicene Ortodoks, yakni dari Nestorian kepada kekaisaran Persia, Monopyhsits ke dunia Persia dan Arab. Sekte-sekte yang bermusuhan ini membawa wariasan ilmu pengetahuan Greco-Helenistik terutama ilmu kedokteran, matematika, astronomi, teknologi, filsafat dan membantu melestarikannya dari tangan orang asing. Warisan ini kemudian kembali kepada cendikiawan melalui jalur orang-orang Muslim. Ketika orang-orang Muslim Arab menyerbu kekaisaran Romawi dan Persia, sekte-sekte minoritas ini menyambut orangh-orang Arab yang menjadi penakluk tersebut sebagai pembebas mereka dan mengikat hubungan yang bersahabat dengan mereka sejak awal. Para penyerbu muslim ini bersifat toleran terhadap adat istiadat, agama dan kebudayaan masyarakat setempat yang mereka taklukkan. Mereka membiarkan tradisi-tradisi ilmu pengetahuan untuk tidak diganggu dan dilindungi dari gangguan internal. Minat terhadap neo-Platonisme dan Aristotelisme, meskipun ditafsirkan dengan istilah-istilah Kristen, dan disesuaikan dengan doktrin-doktrin Kristen, bagaimanapun menjadikan orang-orang Nestorian dan Jacobites berada pada tingkatan pendidikan umum yang lebih tinggi. Khususnya bagi orang-orang Nestorian, minat terhadap Helenistik ini dapat berlangsung berkat perlindungan yang diberikan Sassanian Persia dan kemudian oleh Islam sampai abad ke-11 dan orang-orang Turki yang memegang kekuasaan. Sesungguhnya melalui orang-orang Nestorianlah unsur-unsur pemikiran Yunani yang penting tersebut seperti Aristotelian, dilestarikan melalui penerjemahan dalam bahasa Yunani dan Syiria untuk menjadi tulang punggung kehidupan intelektual Persia dan Islam. 2. Faktor penting lainnya terletak pada penaklukan yang dilakukan oleh Alexander Agung dan para penggantinya, yang menyebarkan ilmu pengetahuan Yunani ke Persia dan India, dimana ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani diperkaya dengan pemikiran-pemikiran asli. 3. Faktor penting ketiga, dan merupakan faktor yang terpenting adalah akademi Jundi-Shapur kekaisaran Persia yang mengembangkan kurikulum studi yang disusun setelah Universitas Alexandria dan selama abad keenam disamakan dengan ilmu pengetahuan India, Grecian, Syiria, Helenistik, Hebrew dan Zoroastrian. Jundi-Shapur menggalakkan penerjemahan ilmu pengetahuan dan filsafat klasik Yunani ke dalam bahasa Pahlavi dan Syiria hingga pada awal abad-abad Islam, pusat-pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan kuno menyebar kepada dunia Muslim dan Barat, sampai tugas ini diambil alih oleh Baghdad di Islam Timur dan Sisilia serta Cordova di Islam Barat. 4. Karya Ilmiah Yahudi merupakan faktor penting yang lain. Para penerjemah Hebrew merupakan alat yang hebat dalam alih pengetahuan ini karena keterampilan berbahasa mereka, pada masa awal Islam ketika mereka menerjemahkan karya-karya Yunani kedalam bahasa Hebrew dan Arab. Demikian pula pada abad ketigabelas, ketika merek menerjemahkan karya-karya tersebut dan karya-karya lainnya dari bahasa Arab ke bahasa Hebrew dan Latin, atau dari bahasa Hebrew ke dalam bahasa Latin. Dengan keempat faktor diatas sebagai pendorong utama, jelas terlihat bahwa inti dari proses transmisi tersebut adalah penerjemahan yang melibatkan berbagai bahasa. Berdasarkan keterlibatan bahasa, materi ilmiah yang ditransmisikan ini dapat dikelompokkan menjadi: a. Bahan-bahan yang diterjemahkan langsung dari bahasa latin ke dalam bahasa Arab; b. Bahan-bahan yang diterjemahkan kedalam bahasa Pahlavi, berbaur dengan pemikiran Zoroaster-Hindu (Budha), lalu ditransfer lewat terjemahan bahasa Arab; c. Bahan-bahan yang diterjemahkan dari Hindu (Sansekerta) kedalam bahasa Pahlavi, lalu ke dalam bahasa-bahasa Syiria, Ibrani, dan Arab; d) Bahan-bahan yang ditulis pada masa Islam oleh ilmuan-ilmuan Muslim, tetapi sebenarnya hanya merupakan jiplakan dari sumber-sumber non muslim, dengan garis transmisi yang tidak jelas; d. Bahan-bahan yang tidak lebih dari sekedar komentar-komentar atau ringkasan-ringkasan dari karya-karya Yunani atau Persia; e. Bahan-bahan yang merupakan pengembangan dari kegiatan ilmiah pra-Islam, tetapi tidak akan berkembang dalam sejarah bila tidak didasarkan atas kegiatan ilmiah masa Helenisme, Syiria, Zoroaster, dan Hindu pra-Islam; f. Bahan-bahan yang muncul dari jenius individual dan dorongan kebangsaan maupun kedaerahan,[bahan-bahan] ini akan berkembang, lepas dari [kegiatan] pendidikan pra-Islam, meskipun bentuk yang akan diambil oleh penemuan-penemuan orisinil ini mungkin saja berbeda kalau saja mereka berkembang dalam satu konteks atau kerangka kerja yang non-Islam.

C. PENGERTIAN HELENISME DAN PERKEMBANGANNYA

Istilah Helenisme adalah istilah modern yang diambil dari bahasa Yunani kuno hellenizein yang berarti “berbicara atau berkelakuan seperti orang Yunani” (to speak or make Greek). Penggunaan Istilah Hellenisme terdiri dari; Helenisme Klasik: Yaitu kebudayaan Yunani yang berkembang pada abad ke-5 dan ke-4 SM. Helenisme Secara Umum: Istilah yang menunjuk kebudayaan yang merupakan gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia Kecil, Syiria, Mesopotamia, dan Mesir yang lebih tua. Lama periode ini kurang lebih 300 tahun, yaitu mulai 323 SM (Masa Alexander Agung atau Meninggalnya Aristoteles) hingga 20 SM (Berkembangnya Agama Kresten atau Jaman Philo). a. Helenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara berbagai negara dan kebudayaan menjadi hilang. Kebudayaan yang berbeda-beda yang ada pada jaman ini melebur menjadi satu yang menampung gagasan-gagasan agama, politik, dan ilmu pengetahuan. b. Secara umum, ditandai dengan keraguan agama, melarutnya kebudayaan, dan pesimisme. Fenomena Hellenisme dalam Konteks Agama dapat di tinjau dari ciri umum pembentukan agama baru sepanjang periode Helenisme adalah muatan ajaran mengenai bagaimana umat manusia dapat terlepas dari kematian. Ajaran ini sering kali merupakan rahasia. Dengan menerima ajaran dan menjalankan ritual-ritual tertentu, orang yang percaya dapat mengharapkan keabadian jiwa dan kehidupan yang kekal. Suatu wawasan menyangkut hakikat sejati alam semesta dapat menjadi sama pentingnya dengan upacara agama untuk mendapatkan keselamatan. Dalam Konteks Filsafat fenomena helenisme bergerak semakin dekat ke arah ‘keselamatan’ dan ketenangan. Filsafat juga harus membebaskan manusia dari pesimisme dan rasa takut akan kematian. Dengan demikian batasan antara agama dan filsafat lambat laun hilang. Secara umum, filsafat Helenisme tidak begitu orisinal. Tidak ada Plato baru atau Aristoteles baru yang muncul di panggung. Sebaliknya, ketiga filsuf besar itu menjadi sumber ilham bagi sejumlah aliran filsafat yang akan kita kemukakan secara ringkas setelah ini. Fenomena Helenisme dalam Konteks Ilmu Pengetahuan terpengaruh oleh campuran pengetahuan dari berbagai kebudayaan. Kota Alexandria memainkan peranan penting di sini sebagai tempat pertemuan antara Timur dan Barat. Sementara Athena tetap merupakan pusat filsafat yang masih menjalankan ajaran-ajaran filsafat Plato dan Aristoteles, Alexandaria menjadi pusat ilmu pengetahuan. Dengan perpustakaannya yang sangat besar, kota itu menjadi pusat matematika, astronomi, biologi, dan ilmu pengobatan.

D. BAYT AL-HIMAH; PROSES TERJADINYA GERAKAN PENERJEMAHAN DAN TOKOH-TOKOH UTAMANYA

Peradaban Islam yang berkembang pada masa kejayaan islam diprakarsai oleh dua kelompok elit terpenting: pertama, kelompok elit kekuasaan dan politik; dan kedua, kelompok elit keagamaaan (ulama) serta mereka yang lebih dikenal sebagai ilmuan daripada ulama. Pada satu pihak, sebagaimana dikemukakan di atas, Islam menjadi identitas politik kekhalifahan. Dalam upaya mengekspresikan identitas Islamnya, elit kekuasaan dan politik memberi sumbangan penting secara lebih langsung khususnya bagi pengembangan seni Islam, arsitektur, kesustraan, filsafat, dan sains. Pusat pengembangan pengembangan peradaban dalam aspek ini adalah istanan dan lembaga keilmuan, seperti Baitul Hikmah, tempat para ilmuwan melakukan berbagai aktivitas keilmuan dibawah patronase penguasa. Pada pihak lain, elit keagamaan mengembangkan Islam sebagai ekspresi nilai keagamaan, moral, dan sosial bagi masyarakat muslim secara keseluruhan. Suatu hal yang penting untuk dicatat adalah ketika bangsa Arab menaklukkan suatu wilayah, mereka tidak mencampuri urusan bahasa dan kebudayaan diwilayah tersebut. Itulah sebabnya pada awal sejarah Islam, bahasa resmi negara adalah Yunani atau persia. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, dirasa perlu untuk beralih kebahasa Arab, yang tidak hanya merupakan bahasa Al-Qur’an, kitab suci agama Islam, tetapi juga cukup kaya untuk dapat menyerap dan mengakomodasi berbagai bahasa dunia. Oleh sebab itu, dalam masa pemerintahan Islam, arah penerjemahan diubah dari bahasa Suriah ke bahasa Arab. Semua karya Yunani yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Suriah, kemudian diterjemahkan lagi kedalam bahsa Arab. Khalifah Bani Umayyah, Marwan, misalnya pernah memerintahkan penerjemahan sebuah buku kedokteran karya Aaron, seorang dokter Iskandariyah, ke dalam bahasa Suriah. Buku ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Demikian pula dengan buku dongeng dalam bahasa Sansekerta, Kaliilah wa Dimnah karya Bidpai. Buku ini adalah terjemahan bahasa Pahlevi (Persia) dari sebuah karya Budha yang berisikan dongeng tentang hewan dan tumbuhan yang mengandung banyak pelajaran, yang kemudian diterjemahkan lagi kedalam bahasa Arab oleh Abdullah bin al-Muqaffa. Naskah Arab karya Ibnu al-Muqaffa inilah yang paling banyak beredar dan yang dikenal di dunia Barat. Gerakan penerjemahan secara besar-besaran ke dalam bahasa Arab dilakukan pada zaman pemerintahan dinasti Abbasiyah. Gerakan ini terdiri dari dua fase. Fase pertama, dimulai pada awal berdirinya Dinasti Abbasiyah hingga masa pemerintahan al-Ma’mum. (132 H/750 M – 198 H/814 M). Pada fase ini, sejumlah besar karya Yunani klasik teleh diterjemahkan. Kebanyakan dari para penerjemahnya adalah orang Kristen, Yahudi dan mereka yang baru memeluk agama Islam. Fase kedua adalah pada era pemerintahan al-Ma’mun dan generasi sesudahnya. Pada fase ini, pekerjaan penerjemahan dipusatkan di akademi yang baru didirikan di Baghdad yakni Baitulhikmah. Khalifah al-Mansur yang dikenal sangat menyukai filsafat, ilmu hukum, dan astronomi mendirikan kota Baghdad pada tahun 148 H/765 M. Beliau dikabarkan pernah memerintahkan penerjemahan banyak naskah filsafat dan sains Yunani, dan memberi upah yang besar kepada para penerjemahnya. Kemajuan yang sangat besar juga dicapai pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Banyak karya astronomi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Harun ar-Rasyid. Sedangkan pada masa kekhalifahan berikutnya yaitu pada masa al-Ma’mun, prestasi terbesar adalah pembangunan Baitulhikmah yang terdiri dari perpustakaan, observatorium, dan departemen penerjemahan. Di Baitulhikmah dilakukan penerjemahan buku-buku karya filusuf Yunani ke dalam bahasa Arab yang dilakukan secara besar-besaran. Abad ke – 4 H/10 M adalah abad yang paling subur dalam usaha penerjemahan karya intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagian besar terjemahan tersebut dilakukan dari bahasa Suriah, tetapi banyak juga yang diterjemahkan langsung dari bahasa Yunani oleh orang yang telah mempelajari bahasa tersebut. Sering pula terjadi seorang penerjemahan yang sama membuat terjemahan ke dalam bahasa Suriah dan bahasa Arab sekaligus dari teks Yunani. Usaha penerjemahan karya-karya intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab yang dilakukan oleh para penguasa Muslim pada masa itu, telah melahirkan dan memperkenalkan banyak penterjemah. Beberapa penerjemah itu diantaranya adalah: 1. Zakariyya Yuhanna ibnu Musa ; seorang dokter dari Jundi-Shapur yang selama pemerintahan harun al-Rasyid dan masa-masa berikutnya telah melakukan penerjemahan penting di Bagdad sebagai kepala Baitul Hikmah. 2. Abu Yahya al-Batriq; ia menerjemahkan karya-karya kedokteran dan filsafat Yunani, terutama karya-karya Aristoteles, dan Hippocrates. Terjemahannya Serrul Asrar (Rahasia dari Beberapa Rahasia) adalah sebuah karya Aristotelian mengenai administrasi pemerintahan. Karya ini, yang lebih dikenal sebagai Secretum Secretorum ia terjemahkan kedalam bahasa Syiria pada awal abad ke -9 Masehi. Terjemahannya Quadripartium karya Ptolemy juga sama-sama pentingnya. Ia diberi tugas oleh al-Mansur untuk melaksanakan tugas penerjemahan. Risalahnya tentang Kematian oleh Hipocrates dan Meteorology karya Aristoteles adalah diantara beberapa karya terjemahannya yang penting. 3. Abu Zaid Hunain bin Ishaq al-Ibadi (wafat 260 H/873 M) adalah seorang penerjemah terbesar diantara para penerjemah karya-karya klasik Yunani ke dalam bahasa Arab. Abu Zaid Hunain merupakan murid Yuhanna bin Masawaih yang berjasa dalam menerjemahkan buku Euclid, Galen, Hipocrates, Apollonius, dan Archimedes, serta karya Plato seperti Republic, Laws, dan Timaeus; karya Aristoteles seperti Categories, Physics, dan Magna Moralia. Hunain juga menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Arab. 4. Qusta bin Luqa al-Ba’labaki; adalah seorang Kristen Suriah, merupakan sarjana yang pandai bahkan mungkin lebih pandai dari Hunain di Baitulhikmah. Dia tidak hanya menerjemahkan karya filsafat, kedokteran, astronomi, dan geometri, tetapi juga memperbaiki banyak terjemahan yang telah dikerjakan pada masa sebelumnya. Diantara karya-karya tersebut adalah karya-karya Diophantus, Theodosius, Autolycus, Hypsicles, Aristarchus dan Heron. 5. Tsabit bin Qurra al-Harrani; seorang penasehat dan pemimpin tim penerjemah Sabiah (Sabaean). Kaum Sabiah berasal dari Harran, pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang sangat termashur karena penelitiannya di bidang filsafat dan kedokteran. Tsabit adalah seorang sarjana serta ahli bahasa Yunani, Suriah, dan Arab. Dia telah melakukan beberapa penerjemahan karya-karya Yunani dalam ilmu kedokteran dan matematika, termasuk karya-karya Apollonius, Archimedes, Euclid, Theodosius, Ptolemy, Galen dan Eutocius. Dia menulis karyannya dibidang logika, matematika, astrologi, kedokteran dan juga tentang ritus kepercayaan orang Pagan. 6. Abu Bisr Matta bin Yunus (wafat 328 H/ 939 M), ia adalah seorang penerjemah dari kalangan Nestorian. Ia menerjemahkan Analytica Posteriora dan Poetics karya Aristoteles, komentar Alexander dari Aphrodisias tentang De Generatione et de Corruptione, dan komentar Themistius atas buku ke-30 dari Metapyhsics, kedalam bahasa Arab. Semuannya ia kerjakan dari naskah terjemahan versi Suriah. 7. Yahya bin Adi (wafat 974 M) yang juga murid Hunain- memperbaiki banyak terjemahan yang sudah ada dan menulis komentar mengenai karya-karya seperti: Categories (Aristoteles), Sophists (Aristoteles), Poetics (Aristoteles), Metaphysics (Aristoteles), Laws atau Nomoi (Plato) dan Timaeus (Plato). 8. Abu Ali Isa bin Zara’a, menerjemahkan karya Aristoteles seperti Categories, Natural History, disertai komentar dari John Philoponus. Gerakan penerjemahan ini menghasilkan banyak sarjana. Seperti; Jabir ibn Hayyan al-Azdi al-Tusi al-Sufi (721-815 M) sarjana Kimia yang mengharumkan istana Harun al-Rasyid. Ibnu al-Hasyam (965-1039 M) ahli fisika Muslim terbesar, karya monumentalnya, Optics, sangat berpengaruh di Barat. Al-Khawarizmi (w.863) sarjana matematika Muslim pertama dan anggota komisi astronomi al-Ma’mun. Karyanya, al-Jabr wa al-Muqabalah berpengaruh di Barat dan Timur. Al-Razi (865-925 M) dokter klinis terbesar di Barat dan Timur, dijuluki Galennya Arab. Al-Kindi (801-866 M) adalah filosof Muslim pertama yang menguasai falsafat Yunani. Al-Farabi (870-950 M) yang digelari Guru Kedua, menjadikan filsafat peripatetik kukuh di dalam Islam. Sementera Ibnu Sina (980-1037 M), berperan sebagai tokoh yang mengantarkan filsafat Islam ke puncak perkembanganya. Ibnu Rusyd (1126-1198), adalah pengikut Aristoteles yang paling murni diantara para filosuf Islam dan dijuluki komentator Aristoteles yang mempelopori kebebasan berfikir. Masih banyak lagi penerjemah-penerjemah dan para sarjana-sarjana yang dihasilkan pada masa itu yang tidak tersebutkan. Hal ini menandakan antusiasnya para pemimpin dan masyarakat dalam bidang penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat yang bersumber dari peradaban diluar Islam dalam hal ini Yunani. Hal itu terjadi karena para pemimpin pada masa itu mempunyai pemikiran bahwa selama sesuatu itu baik dan mendatangkan manfaat bagi kemajuan Islam, maka tidak ada salahnya untuk diambil dan dikembangkan serta mewarnainya dengan nilai-nilai ke-Islaman.

E. PENUTUP

Peradaban intelektual Islam tumbuh dan berkembang dengan memanfaatkan secara maksimal warisan intelektual dari peradaban-peradaban yang lebih tua: Yunani, Persia, dan India. Berbagai pusat kegiatan intelektual kuno yang kemudian masuk ke dalam kekuasaan Islam sangat fasilitatif dalam capaian intelektual Islam. Muslim generasi awal terkenal dengan keterbukakan dan keberaniannya dalam melakukan adopsi dan adaptasi warisan intelektual peradaban kuno yang dijumpainya. Sikap tersebut berada dibelakang perkembangan spektakuler di bidang ilmiah dan pendidikan. Muslim klasik dikenal sebagai masyarakat yang sangat antusias dalam pengembangan sains. Upaya awal yang sudah berlangsung sejak masa Dinasti Umayyah mendapat momentum dibawah patronase khalifah Abbasyiah, al-Ma’mun, melalui lembaga Baitul Hikmah. Karya-karya terjemahan dari warisan Yunani dan Persia menjadi landasan yang kuat bagi pengembangan sains di berbagai bidang dan dilakukan di berbagai lembaga yang khas untuk tujuan itu. Interaksi dengan peradaban yang lebih tua mempercepat perkembangan sains dalam peradaban Islam.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abdul Qadim Zallum, Konspirasi Barat Meruntuhkan Khilafah Islamiyah, Telaah Politik Menjelang Runtuhnya Negara Islam, Bangil: Al-Izzah, 2001W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis. (Yogyakarta: Tiara Wicana Yogya, 1990 As’ari, Hasan, Dari Yunani Hingga Renaisans; Melacak Peranan Peradaban Islam Dalam Tradisi Intelektual Barat”, Journal Analytica Islamica, Vol. I, tahun 1999, Program Pasca Sarjana IAIN Sumatera Utara Dewan Redaksi, “Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Awal dan Kebudayaan”, 2002, Jilid 1, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta Harun Nasution, Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya,Jakarta: UI Press, 1985 Hasan As’ari, (Ed.), Studi Islam;Dari Pemikiran Yunani Ke Pengalaman Indonesia Kontemporer, Cet. I, Bandung: Citapustaka Media, 2006 Hasyimi, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1995 Cet- 5 Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy New York: Columbia University Press, 1983 Mehdi Nakosten, Kontribusi Islam atas Intelektual Barat, buku asli, History of Islamic Origins of Weestern Education A.D. 800-1350; With An Introduction to Medivel Muslim Education, Colorado: University of Colorado Press, Boulder, 1964 Oliver Leaman, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge: University Press, Cambridge, 1985

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s