Menakar Wajah Politik Melalui Iklan

Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum
Menakar Wajah Politik Melalui Iklan
Kategori: Buku
Penulis: Budi Setyono
Penerbit: AdGoal.com / Galang Press / Buku Kita (2008, xvii+391 hal.)

Perkembangan dunia ekonomi yang merasuki segala lini kehidupan memaksa para pelaku di segala bidang untuk mengikuti kaedah yang berlaku dalam hitung-hitungan logika bisnis, tak terkecuali dunia politik.
Persaingan antar pelaku politik yang banyak bermunculan di era reformasi membuat para penggiatnya harus berpikir dua kali lebih keras untuk menawarkan partainya kepada calon pemilih. Alih-alih menjalankan fungsinya dalam pendidikan politik mereka banyak yang terjebak dalam logika bisnis, hal ini terlihat dalam iklan-iklan menjelang pemilihan umum (pemilu). Hal tersebut yang mendasari disusunnya buku Iklan dan Politik ini. Sang penulis Budi Setyono telah berhasil membuat dokumentasi materi kampanye selama masa kampanye Pemilu 1999 dan 2004. Ia juga banyak membuat analisa mendalam dari perspektif dunia periklanan yang digelutinya selama ini.
Selepas era kediktatoran Orde Baru, eforia reformasi melahirkan peserta Pemilu 1999 sebanyak 48 partai politik. Berakhirnya kekuasaan yang kerap memanipulasi hasil penghitungan suara memberikan kesempatan yang sama bagi semua kontestan yang bersaing. Tak heran jika pada masa itu partai-partai politik menggandeng biro-biro iklan untuk memasarkan partainya, misalnya PDI-P dengan Adwork! EURO RSCG, PKB dengan Sudarto & Nuradi PR, PAN dengan Fortune PR, dan lain sebagainya. Namun Pemilu 1999 tersebut juga jadi ajang pertama bagi perusahaan iklan untuk menikmati kue pemilu dan menguji coba strategi pemasaran politiknya.


Seperti lazimnya mata rantai bauran pemasaran yang diyakini selama ini, hal tersebut juga berlaku dalam dunia politik. 4P dunia pemasaran dalam dunia politik dapat diterjemahkan menjadi: product berarti partai dan manusianya; price bisa berarti iuran keanggotaan, merchandise partai, maupun ekspektasi jika partai tersebut berkuasa; promotion adalah upaya periklanan, kehumasan, dan promosi suatu partai sesuai kebutuhan masyarakat, dan place sebagai tempat di mana konstituen dapat menemukan berbagai hal dari partai tersebut.
Sementara dalam pelaksanaan Pemilu 2004, buku ini banyak menyajikan dokumentasi dinamika peristiwa yang terkait pelaksanaan kampanye partai politik dan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang pada tahun itu baru mulai bertarung secara independen. Salah satu contoh menarik yang disajikan adalah kelemahan iklan “Moncong Putih” PDI-P yang sangat populer di masyarakat. Menurut buku ini iklan tersebut dianggap gagal mempengaruhi persepsi pemilih. Secara eksekusi iklan tersebut tidak tepat karena memperkenalkan “barang” yang sudah terkenal, bukannya mencoba memberi alasan rasional kenapa orang harus memilih PDI-P.
Budi Setiyono sendiri merekomendasikan kampanye politik dengan menggunakan model contrastive ads yang lebih banyak berisi perbandingan isi kebijakan dan tidak ahanya berisi kualitas seorang kandidat. Salah satu contoh yang dianggap gemilang mempraktekkan contrastive ads adalah Bill Clinton. 60 persen iklan Bill Clinton berisi penjelasan kebijakan secara detail yang membedakannya secara gamblang dengan George Bush Senior (1992) dan Robert “Bob” Dole (1996). Hasilnya? Terbukti Bill Clinton berhasil memenangi kedua pemilihan tersebut.
Apa yang dilakukan oleh Budi Setyono dalam buku ini bermanfaat agar di masa mendatang politik tidak lagi dipasarkan sekedar mengikuti gaya produk-produk dalam dunia konsumerisme seperti yang diungkapkan pakar komunikasi UI Effendi Gazali, Phd dalam prolognya. Dengan kata lain program politik tidak lagi ditawarkan seperti menjual kecap dan calon legislatif pun tidak disajikan bak selebritis semata.
(ribosa)-(sumber http://www.bangakbar.com)

One comment on “Menakar Wajah Politik Melalui Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s