Minangkabau Berduka

Deliar Noer adalah putra Minang kelahiran Medan, Sumatera Utara, 9 Februari 1926. Sebagai cendekiawan yang menamatkan program magister dan doktoral di Cornel University, Ithaca, Amerika Serikat, Deliar Noer termasuk produktif menulis opini di Kompas sejak tahun 1966. Tulisan pertamanya Politik dan Kebudajaan (Kompas, 14 Mei 1966) dan terakhir Saran untuk Presiden Megawati (Kompas, 19 September 2002).
Pikiran-pikirannya bernas dan cerdas, bahkan sebagian ada yang menilai keras. Ditambah lagi sikapnya yang terkesan keras dan terus terang mungkin karena ia dilahirkan di tengah keluarga kaum pergerakan–, membuat ia pernah mengalami masa-masa sulit.
Pengalaman paling mengesankan, sebagai seorang guru, ia ketika menjadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dilarang mengajar dan dipanggil Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Dr Syarif Thayeb. Akhirnya ia terpaksa melepaskan jabatannya sebagai dosen, 1964. Itu semasa Orde Lama.
Semasa Orde Baru, tahun 1974, ia tidak hanya dilarang membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar, tetapi juga diberhentikan sebagai Rektor Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), yang telah dijabatnya sejak 1967. Setelah itu ia dilarang mengajar di seluruh perguruan tinggi.


Disumbat rezekinya dan ditangkal gerak-geriknya di Indonesia, Deliar malah dapat banyak tawaran dari luar negeri untuk jadi peneliti dan pengajar. Kepada Julius Pour yang menuliskan profilnya di Kompas, Deliar mengatakan lebih senang memilih Australia dan mengajar sejarah dan ilmu politik pada Universitas Griffith, Brisbane.
“Untuk mengajar di Singapura atau Kuala Lumpur saya nilai rawan, karena banyak kemungkinan pemerintah masih bisa ikut campur tangan. Mengajar di Amerika menarik, tetapi saya sudah pernah tinggal di sana ketika mengikuti kuliah lanjutan. Australia merupakan peluang terbaik. Negara itu saya pilih karena saya belum pernah tinggal di sana,” katanya, ketika itu (1996).
Naskah pidato pengukuhannya sebagai mahaguru yang dilarang itu, akhirnya diminta Anwar Ibrahim, yang ketika itu Ketua Angkatan Belia Islam Malaysia, untuk diterbitkan menjadi buku (dalam ejaan Melayu) dengan judul Partisipasi dalam Pembangunan (1978).
Disertasinya terbit dengan judul The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1900-1942 (terbit 1973, dan edisi terjemahan 1990), merupakan sebuah karya gemilang yang terus disusul puluhan buku lain yang juga perlu dan penting dibaca, antara lain Mohammad Hatta: Biografi Politik (1990) setebal 778 halaman.
Deliar Noer berpulang meninggalkan istri tercinta, Zahara (76) dan seorang anak, Dian dan tiga cucu. Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang layak di sisi-Nya.

One comment on “Minangkabau Berduka

  1. Assalamu’alaikum wr.wb
    Gimana kbar dinda…. sheat di curupkan..
    Baa Pemuda Muhammadiyanya?

    Trims
    #da Apri
    Wass. Wr.Wb
    ambo di bengkulu da, bukan di curup, alhamdulilah lai sehat, PM sedang menggarap beberapa agenda besar, 2 hari yang lalu baru mengadakan silaturrahim wilayah. hadir ketua umum PP PM Izzul Muslimin. di Sumbar baa keadaanyo?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s