Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah: Upaya Mempersiapkan Pemimpin Bangsa Di Era Reformasi

Refleksi Gerakan Mahasiswa
Hampir sebahagian besar orang berpendapat bahwa mahasiswa selalu menjadi ”Bintang lapangan” dalam setiap pergolakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tentunya tidak bisa melupakan peranan mahasiswa pada momen-momen penting perjalanan dan dinamika bangsa Indonsia, seperti yang terjadi pada tahun 1966 dan 1998. Dengan kata lain, rasanya sulit kita akan bisa menikmati alam reformasi dan iklim demokrasi tanpa keterlibatan mahasiswa.
Jack New Field (1971) menyebut mahasiswa sebagai komunitas kecil yang memiliki kekuatan untuk merubah sejarah, karena perubahan sejarah selalu dimulai dari kelompok kecil. Mereka bisa dikatagorikan sebagai kekuatan minority profetic yaitu kekuatan kecil yang bertindak seperti seorang ”nabi” untuk merubah kondisi sosial kemasyarakatan. Sejumlah prediket melekat dalam setiap diri mahasiswa, agent of social change, social control dan moral force. Namun kita pantas mempertanyakan secara kritis, kemana arah gerakan mahasiswa pasca 1998 dan sampai sejauh mana komitmen serta kontribusinya untuk menciptakan kepemimpinan nasional yang kredibel, profesional, akuntabel dan mempunyai integritas etika dan moral.
Fenomena penting yang perlu dicatat pada gerakan mahasiswa era 2000-an adalah munculnya pluralisme visi, orientasi, ideologi dan mekanisme perjuangan mahasiswa yang menyebabkan terjadinya polarisasi gerakan. Meskipun demikian satu hal penting yang harus di fahami bersama, bahwa esensi dari gerakan mahasiswa adalah suatu gerakan yang bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, bukan mencari kedudukan atau kepuasan-kepuasan yang bersifat pragmatis dan sesaat.
Refleksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ada dua faktor yang melatar belakangi berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu gffaktor interen dan faktor eksteren. Faktor interen yang dimaksud adalah faktor yang melatarbelakangi dari dalam organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Faktor ini lebih dominan, sebab faktor ini merupakan kelanjutan dari arah gerakan Muhammadiyah untuk mengembangkan ideologi, paham dan cita-cita Muhammadiyah. Artinya Muhammadiyah berkepentingan akan hadirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, sebab mau tidak mau Muhammadiyah akan bersinggungan dengan Mahasiswa dalam mencapai maksud dan tujuannya. Dengan demikian, akan menjadi naif bila Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di nafikan keberadaannya dalam berbagai bentuk.
Awal mulanya ide pembentukan IMM lahir pada saaat muktamar ke 25 Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1963. pada akhirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah resmi didirikan pada tanggal 14 Maret 1964 bertepatan dengan tanggal 29 Syawa 1384. persemian berdirinya IMM resepsinya diadakan digedung Dinoto Yogyakarta dengan ditandatangiani ”Lima Penegasan IMM” Oleh KH Ahmad Badawi, yang berbunyi:
1. IMM adakah gerakan Mahasiswa Islam
2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
3. fungsi IMM adalah organisasi Mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah negara.
4. Ilmu adalah amaliah dan ama adalah ilmiah
5. amal IMM adalah lillahi ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepetingan rakyat.
Faktor kedua yang melatarbelakangi berdirinya IMM adalah faktor eksteren yang ketika itu situasi dan kondisi kehidupan umat dan bangsa serta dinamika gerakan organisasi-organisasi mahasiswa banyak dipenuhi dengan tradisi-tradisi, paham dan keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu kehidupan berbangsa dan bernegara terancam dengan hadirnya Partai Komunis Indonesia (PKI), keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, dan konflik antar golongan dan politik.
Fungsi IMM sebagai organisasi adalah sebagai organisasi kader, organisasi dakwah dan organisasi eksponen Mahasiswa Isalm dalam Muhammadiyah.
IMM dan Demokratisasi Politik
Mahasiswa merupakan sumber daya utama untuk menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, untuk itu sejak dini harus mempersiapkan dan menyongsong masa depan. Selain itu IMM dalam kontek kebangsaan hari ini, bisa menjadi pemimpin dalam arti yang lebih luas, yaitu menjadi wasit dalam permainan kehidupan berbangsa dan bernegara. Wasit yang dimaksud adalah sebagai pengarah, pemandu dan pemerhati permainan berbangsa dan bernegara. Artinya IMM tidak boleh melakukan keberpihakan pada satu golongan yang melakukan kesalahan. Last but not least, IMM harus siap menjadi pemimpin yang adil, tidak berpihak kecuali kepada aturan main yang menjadi kesepakatan sehingga dengan sikap ini insya Allah akan terwujud sebuah pentas politik yang sportif, atraktif dan berprestasi.
Akhirnya untuk membangun kader IMM yang paripurna, perlu kiranya dilakukan berbagai kajian yang kritis, inovatif dan progressif untuk kemudian bisa di darmabaktikan demi kemajuan bangsa Indonesia yang tercinta.
Billahifisabilil Haq Fastabiqul Khairat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s