Kritik Orinetalis Terhadap Hadits

ABSTRAK

Kritik terhadap hadits datang dari dua arah yang berlainan, arah pertama datang dari dalam Islam dan yang kedua dari luar Islam. Kelompok yang pertama bertujuan untuk mencari kebenaran esensial suatu hadits. Artinya untuk menguji kebenaran suatu hadits, apakah ia sungguh-sungguh datang dari Rasulullah Saw, atau bukan. Sedangkan yang datang dari luar Islam jelas tujuannya untuk menggugat eksistensi hadits sebagai sumber hukum dan ajaran Islam. Kritikus pada kelompok ini di sebut dengan Orientalis yang berarti orang yang ahli dalam masalah-masalah keTimuran, yang meliputi berbagai segi kehidupan seperti bahasa, budaya, peradaban, seni dan agama, serta adat isitiadat. Sedangkan orangnya disebut al-Musytasriq.
Para oritentalis beranggapan bahwa hadits yang telah dikodifikasikan dalam kitab-kitab hadits tidak asli dari Rasulullah, karena sanadnya tidak benar, para perawi dipandang palsu karena dibuat kemudian. Selain itu, para orientalis juga telah melontarkan kritik mereka terhadap matan hadits.
Kritik yang dilontarkan para orientalis, pada intinya menggugat keberadaan hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam. Kritik-kritik yang mereka lontarkan pada akhirnya bertujuan agar hadits tidak lagi dapat dipakai atau digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan umat Islam dengan tidak dapatnya hadits digunakan sebagai pedoman kedua itu, secara otomatis ajaran-ajaran yang dikandung al-Quran tidak dapat ditegakkan, mereka sangat mengetahui hal itu dan itulah strategi mereka.

A. Pendahuluan
Kritik terhadap hadits tidak hanya datang dari dalam Islam tetpai juga dari luar Islam. Kritik yang datang dari dalam Islam pada umumnya bertujuan untuk mencari kebenaran esensial suatu hadits. Artinya untuk menguji kebenaran suatu hadits, apakah ia sungguh-sungguh datang dari Rasulullah Saw, atau bukan. Sedangkan yang datang dari luar Islam jelas tujuannya untuk menggugat eksistensi hadits sebagai sumber hukum dan ajaran Islam.
Tidaklah mengherankan dan tidak perlu dirisaukan jika pihak-pihak diluar Islam berusaha melancarkan berbagai serangan terhadap Islam dan umatnya dengan berbagai cara mereka berusaha merusak, menodai bahkan menghancurkan Islam dan umat Islam baik fisik maupun ideologi. Ketika mereka tidak mampu memusuhi Islam secara terang-ternagn, mereka mneyerang ideology Islam secara tidak langsung yaitu dengan cara menanamkan keraguan ke dalam diri umat Islam. Di antara upaya itu adalah menyerang salah satu sumber ajaran Islam, yaitu sunnah atau hadits nabi SAW. Mereka tahu persis bahwa jika hadits atau sunnah disingkirkan dari umat Islam dengan sendirinya ajaran Islam tidak akan dapat ditegakan karena tidak mungkin menjalankan ajaran Islam tanpa kehadiran Hadits, usaha-usaha seperti itu akan selalu ada selama umat Islam itu masih berpegang teguh pada ajaran agamanya. Hal ini telah disinyalir Allah dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 120.
Dalam tulisan ini akan diketengahkan berbagai kritikan tehadap hadits sebagai sumber kedua setelah al-Quran. Kritikan yang dimaksud bisa saja datang dari Barat atau Timur, namun yang menjadi titik tumpu dari pembahasan di sini adalah kritikan yang datang dari sebahagian tokoh ahli keTimuran atau yang lebih dikenal dengan istilah orientalis.

B. Pengertian Orientalis
Kata Oerintalis merupakan kata bentukan dari kata Orient (kata benda) oriental (kata sifat) dan orientalis (inggris). Kata oriental dari bahasa Prancis, yaitu orient yang secara etimologis berarti Timur. Orient secara geografis berarti dunia belahan Timur. Oriental hal-hal yang bersifat Timur atau keTimuran. Sedangkan orientalis berarti orang yang ahli dalam maslaah-masalah keTimuran.
Amin Rais mengemukakan bahwa orientalis adalah sarjana yang menguasai masalah-masalah keTimuran dalam hal kesusasteraan dan sebagainya. Dalam literature arab, irtilah itu dikenal dengan al-Istisyraq yang secara umum berarti suatu kajian tentang kehidupan masyarakat di dunia Timur yang meliputi berbagai segi kehidupan seperti bahasa, budaya, peradaban, seni dan agama, serta adat isitiadat. Sedangkan orangnya disebut al-Musytasriq.
Ismail yakub mengartikan orientalis sebagai orang yang ahli tentang soal-soal Timur, terutama negeri-negeri arab dan Islam, dalam hal kebudayaan, organisasi, peradaban, kehidupan dan sebagainya. Mahmud Hamdi Zaqauq mengartikan orientalis secara umum, yaitu semua ahli Barat yang mempelajari dunia Timur sedangkan khusus yang dimaksud Timur yaitu yang beragama Islam. Yang dipelajari itu berkenaan dengan bahasa, sastra, sejarah, i’tiqad, syariat, dan peradaban.
Secara sederhana dapat dipahami bahwa orietnalis adalah sebutan bagi orang atau orang-orang barat yang mengetahui banyak hal tentang Islam. Namun pengertian yang ditonjolkan disiniadalah bahwa mereka berusaha mencari-cari kelemahan Islam dengan maksud menggoyahkan sendi-sendi kehidupan umat. Dalam hal ini upaya mereka ditujukan terhadap hadits Rasulullah sebagai sumber kedua ajaran Islam.
Sebagai mana dikemukakan Ajaj al-Khatib, dikalangan orientalis telah mengakar atau telah terbentuk suatu opini bahwa sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang agama, politik, dan adat selama kurun waktu dua abad pertama, hadits bukanlah merupakan dokumen Islam pada masa kejayaannya. Menurut Ali Hasan Abdul Qadir pendapat ini adalah pendapat dari Goldziher dalam bukunya Dirasat Isalmiyah.
Lebih lanjut Goldziher dalam bukunya al-Aqidah wa Al-Syari’ah fi al-Islam mengatakan bahwa ia tidak dapat menisbahkan hadits-hadits palsu itu hanya kepada generasi-generasi belakangan yaitu generasi sesudah sahabat dan tabi’in, karena pada masa-masa sebelumnya hadits-hadits palsu sudah muncul. Boleh jadi suatu hadits benar merupakan ucapan Rasulullah atau praktek kehidupan saha dan tabi’in, akan tetapi dengan rentang waktu yang lama dan tempat yang berjauhan dengan sumber aslinya maka sangat sulit untuk memperoleh kejelasan dan untuk ditelusuri, juga karena para tokoh memilki berbagai disiplin ilu, baik yang bersifat teoritis maupun praktis telah membuat-buat hadits yang kelihatan asli. Sehingga tidak ditemukan aliran baik dibidang Ibadah, akidah, kaidah-kaidah fiqh ataupun norma-normapolitik yang tidka mengokohkan pendapatnya dengan hadits-hadits.
Oleh karena itu para ulama membangun suatu sub disiplin ilmu tersendiri. Dengan ilmu itu merkea dapat membedakan mana hadits yang shahih dan mana hadits yang tidak shahih ketika melakukan kompromi terhadap pendapat-pendapat kontradikitf.
Halsi kritik hadits yang dilakukan para ulama antara lain adalah pengakuan meraka terhadap enam kitab hadits sebagai induk. Dalam kitab-kitab tersebut para ulama abad ketiga hijriah menghimpun hadits –hadits tercecer yang mereka nilai sebagai hadtis-hadits shahih.
Pendapat-pendapat Goldziher itu menurut Ajaj al-Khatib dapat disuimpulkan kepada lima point berikut :
1. Bahwa sebahagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan Sosial
2. Bahwa para sahabat dan tabi’in berperan dalam pemalsuan hadits
3. Bahwa rentang waktu dan jarak yang jauh dari masa Rasulullah Saw. Membuka peluang bagi para tokoh berbagai aliran untuk membuat hadits dengan tujuan memperkuat aliran mereka, bahkan tidak satupun aliran yang tidak memperkuat pendapat mereka dengan hadtis-hadits yang tampaknya asli dalam bidang akidah fiqh dan politik.
4. bahwa sudut pandang para kritikus dikalangan Islam berbeda dengan sudut pandang para kritikus non muslim yang tidak menerima banyak hadits yang diakui kebenarannya oleh umat Islam.
5. bahwa ia menggambarkan enam kitab hadits yang disusun para ulama sebagai himpunan dari hadits-hadits yang tercecer yang oleh para penghimpunnya dinilai sebagai hadits-hadits shahih.
Gostown Wite mengemukakan pendpat yang mendukung pendapat Goldziher di atas. Ia mengatkana bahwa para ulama telah mengkaji hadits secara cermat. Kajian mereka diarahkan kepada sanad hadits, yaitu tentang perawi hadits, pertemuan diantara mereka dan aktifitas mendengar sebahagian mereka dari sebahagian yang lain. Para perawi menukilkan hadits Rasulullah kepada kita secar verbal yang kemudian dihimpun dan dibukukan oleh para penghafal hadits. Namun mereka tidak melakukan kritik terhadap matan hadits. Oleh karena itu ia tidak yakin bahwa hadits itu sampai kepada kita pesesi sebagaimana diucapkan Rasulullah tanpa penambahan (perubahan) sedikitpun dari para perawi, misalnya yang anatic belakangi oleh niat baik, karena hadits dinukilkan secara verbal. Apabila pendapat ini benar, maka umat Islam terlanjur menerima dan meyakini hadits sebagai perkataan yang benar.
C. Kritik Terhadap Sanad
Para oritentalis beranggapan bahwa hadits yang telah dikodifikasikan dalam kitab-kitab hadits tidak asli dari Rasulullah, karena sanadnya tidak benar, para perawi dipandang palsu karena dibuat kemudian. Caetani berpendapat bahwa urwah (w. 91 H) adalah orang yang menghimpun hadits tetapi tidak menggunakan sanad.
Begitupun pada masa pemerintahan Malik ibn Marwan (70-80 H) juga belum dikenal penggunaan sanad terhadap hadits. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa penggunaan sanad baru dikenal pada masa Urwah ibn Ishak (w. 151 H), dengan demikian sebahagian sanad-sanad yang terdapat dalam kitab hadits adalah bikinan ahli-ahli hadits abad kedua. Orietnalis lailn, Spranger juga berpendapat demikian. Katanya tulisan-tulisan yang dikirim Urwah kepada Malik ibn Marwan tidak menggunakan sanad. Oleh karena itu pendapat yang mengatakan bahwa Urwah menggunakan sanad adalah pendapat orang-orang belakangan.
Josep Schacht mengemukakan bahwa sanad merupakan bahagian dari tindakan sewenang-wenang terhadap hadits nabi. Hadits-hadits itu sndiri dikembangkan oleh kelompok-kelompok yang berbeda-beda yang berusaha mengkaitkan teori yang mereka rumuskan kepada tokoh-tokoh terdahulu. Sebagai contoh ia mengemukakan pengalamannya dalam meneliti hadits-hadits yang terdapat dalam kitab al-Muwatha’ Imam Malik dan al-Um Imam Al-Syafi’i. menurutnya dalam kitab-kitab tersebut tidak terdapat sanad, oleh karena itu ia mengatakan bahwa sanad baru ada pada masa belakangan.
D. Kritik Terhadap Matan
Para orientalis juga telah melontarkan kritik mereka terhadap matan hadits. Ignas Goldziher musalnya, menyatakan bahwa hadtis yang diriwayatkan al-Bukhari yang berasal dari al-Zuhri yang berbunyi “tidak diperintahkan pergi kecuali tiga Masjid, Masjid al-Haram di Makkah, Masjid al-Nabawi di Madinah, dan Masjid al-Aqsa di Palestina” adalah bertendensi politik. Katanya, Abndul ibn Zuber yang sedang berkuasa di Makkah akan mengambil kesempatan untuk membaiat orang-orang Syan yang pergi Haji agar setia kepadanya. Oleh kaena itu Abdul Malik ibn Marwan berusaha agar orang-orang Syam tidak pergi Haji ke Makkah tapi cukup di Qubbah al-Shakhra di al-Quds (Yerussalem Palestina). Untuk itu ia menugaskan al-Zuhri untuk membuat hadits yang sanadnya bersambung kepada Nabi.
E. Bantahan Terhadap Kritik Orientalis
Terhadap kritik atau tuduhan-tuduhan Ignas Goldziher sebagaimana yang tersebut di atas dapat diajukan bantahan atau sanggahana sebagaimana yang dikemukakan oleh Ajaj al-Khatib berikut ini:
1. Bahwa sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan sosial sepanjang dua abad pertama adalah tidak benar. Karena sejak masa sahabat (abad pertama) umat Islam telah melakukan penyelidikan terhadap hadits-hadits dan “memburu” para pendusta dan pemalsu hadits. Mereka mengetahui mana hadits yang sahih dan mana yang palsu.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa al-Quran mengajarkan prinsip-prinsip yang universal yang sesuai dengan segala tempat dan waktu. Ia tidak mengajarkan cara-cara pelaksanaan yang berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Allah memberikan kebebasan kepada para penguasa untuk berkreasi tentang pelaksanaannya di bawah anati dan al-hadits. Oleh karena itu mereka tidak perlu membuat-buat hadits untuk melegitimasi tindakan mereka. Prinsip-prinsip universal tersbeut sudah cukup bagi mereka dalam menjalankan segala urusan mereka.
2. Bahwa umat islam terdahulu (sahabat dan tabi’in) berperan dalam pemalusan hadits, itu tidak benar, karena para sahabat dan tabi’in itu sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Mereka sangat takut terhadap ancaman Rasulullah yang menyatakan bahwa “barang siapa yang mendustakan ajaranku maka hendaklah ia menempati tempat duduk di neraka”. Oleh karena itu mereka memilih sedikit meriwayatkan hadtis bahkan ada yang tidak meriwayatkan satu haditspun.
3. Bahwa adanya kemungkiann pihak-pihak tertnu membuat-buat hadits guna menopang pendapat merkea, itu bisa-bisa saja. Akan tetapi tidaklah berarti bahwa tokoh-tokoh aliran fiqh, teologi, dan politik telah membuat-buta hadits. Hal itu tidak lebih dari butruk sangkanya Goldziher terhadap tokoh aliran-aliran tersebut. barangkali yang tidak dipahaminya adalah bahwa perbedaan pendapat diantara para sahabat dan ulama fiqh dilatar belakangi oleh banyak faktor, bukan karena kehendak hawa nafsu atau sikap fanatik. Mereka berhukum dengan hadits-hadits yang sampai kepada mereka, dan mereka berbeda dalam memberikan penilaian. Sebahagian menilanya dapat dijaidkan dalil (hujjah) dan yang lain menilai tidak, atau boleh jadi hadits-hadtis itu dipegang sebagai dalil oleh semua mereka namun hasil istinbat mereka tidak sama.
Oleh karena itu tidak logis kalau dikatakan mereka telah membuat-buat hadits atau mendustakan Rasulullah untuk mendukung pendapat-pendapat mereka. Mereka semua sepakat untuk mengikuti sunnah atau hadits Rasulullah.
4. Bahwa perbedaan sudut pandang antara kritikus muslim dnegan kritikus non muslim sangat berbeda. Kritikus muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan kaidah-kaidah dan prinsip yang telah dirumuskan dengan baik, dalam rangka mencari dan meneliti keshahihan suatu hadits guna memelihara kemurnian ajaran yang dibwah oleh Muahmmad yang di imani sebagai Rasulullah. Sedangkan kritikus non muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan motivasi mencari-cari titik lemah dari sumber ajaran Islam kedua ini. Sasaran akhirnya tidak lain agar syari’at Islam itu tidak bisa ditegakkan.
Dengan titik tolak yang berbeda, tujuan yang berbeda jelas akan mengahasilkan hal yang berbeda pula. Hal itu sekali-kali tidaklah akan merugikan kita sepanjang metode serta kaidah-kaidah yang digunakan itu dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Namun mereka-mereka yang mau bersikap objektif selalu akan menerima dan mengakuinya.
5. Bahwa keenam kitab hadits yang disusun oleh para ulama itu merupakan kumpulan dari hadits-hadits yang tercecer. Pendapat itu tidak bisa diterima, karena dengan begitu berarti tidak menghargai jerih payah para ulama dalam memelihara hadits selama abad pertama dan kedua. Hadits tidak pernah tercecer karena sebahagian besarnya telah dipraktek umat Islam. Hadits-hadits itu hidup dalam praktek sehari-hari. Dan hal itu tidak terbatas hanya dalam masa sahabat dan tabi’in saja. Hadits-hadits telah tersebar keberbagai wilayah taklukan selama abad pertama dan kedua itu. Hadits-hadits itu berpindah dari suatu generasi ke generasi berikutnya dan terpelihara dalam hafalan para penghafalnya. Catatan-catatan mereka terkumpul dalam kitab-kitab himpunan hadtis dengan juz-juz serta bab-bab yang telah sistematis oleh para ulama pada abad pertengahan abad kedua. Hadits-hadits yang dapat dihimpun oleh Bukhari dan Muslim serta para penghimpun lainnya itu merupakan hasil sortiran dari beribu-ribu hadits yang tersimpan dalam hafalan-hafalan para penghafal hadits.
Terhadap pendapat Gostown Wite yang senada dengan itu, Ajaj al-Khatib telah mengajukan bantahan, Wite dan yang seendapat dengannnya itu telah bersikat tidak obejktif terhadap jerih payah para ulama dalam memelihara hadits dan menbersihkan dari noda-noda. Kritik mereka terhadap matan tidak kurang nilainya dengna kritik terhadap sanad, mereka telah menyusun kaidah-kaidah untuk membedakan hadits-hadits palsu dari hadits-hadits shahih. Memang disadari bahwa kritik terhadap sanad lebih banyak dilakukan ulama hadits mengingat illat yang terdapat dalam sanad jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang terjadi pada matan.
Bahwa perawi dengan didasari oleh niat baik telah menambah-nambah hadits sehingga Wite tidak yakin hadits-hadits itu sampai kepada kita persis sebagaimana disampaikan Rasulullah, itu tidak bisa diterima. Sebab pra ulama telah melakukan kajian terhadap penambahan-penambahan dalam suatu hadtis yang mereka sebut dengan istilah al-Mudraj yang biasanya terdapat pada matan. Penambahan-penambahan oleh para perawi itu sebagian besarnya berasal dari penjelasan para guru mereka, mereka mengira bahwa penjelasan-penjelasan itu termasuk bahagian dari hadits. Menurut para ulama penambahan-penambahan itu jika tidak disengaja maka mereka tidak akan berdosa, namun jika penambahan itu banyak maka hal itu mengakibatkan adanya penilaian cacat terhadap perawi itu.
Terhadap pendapat Joseph Schaht yang menyatakan bahwa sanad adalah bikinan orang belakangan karena tidak terdapat dalam kitab-kitab seperti al-Muwatha’ dan al-Um, Muhammad Musthafa ‘Azami memberikan bantahan bahwa apa yang dilakuakn oleh Schaht jelas tidak relevan karena yang diteliti adalah kitab-kitab fiqh. Kitab-kitab fiqh tidak cocok untuk dijadikan rujukan penelitian hadits, karena kebanyakan kitab-kitab fiqh itu tidak menuliskan sanadnya, tujuannya adalah untuk mempersingkat uraian dalam kitab-kitab tersebut, bahkan ada yang tidak menyebutkan sanad sama sekali, langsung menyebutkan hadits dari sumber yang pertama.
F. Penutup
Dari uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa apapun dan dari sudut manapun kritik yang dilontarkan para orientalis, pada intinya menggugat keberadaan hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam. Kritik-kritik yang mereka lontarkan pada akhirnya bertujuan agar hadits tidak lagi dapat dipakai atau digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan umat Islam dengan tidak dapatnya hadits digunakan sebagai pedoman kedua itu, secara otomatis ajaran-ajaran yang dikandung al-Quran tidak dapat ditegakkan, mereka sangat mengetahui hal itu dan itulah strategi mereka.

Daftar Bacaan

Muhammad Ibn Muhammad Abu Syahbah, Difa’an al-Sunnah, (Kairo: maktabah al-Sunnah, 1989)., h. 7-12

Ibid

Joesoef Soe’ib, Orientalisme dan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990)., h. 1

Amin Rais, Cakrawala Islam, (Bandung : Mizan, 1999)., h. 234

Muhammad Luqman al-Salafi, Ihtimam al-Muhaditsin wa al-Naqd al-Hadits, (Riyadh: Maktabah an-Nahdah, 1987)., h. 420

Ibid

Mahmud Hamdi Zaqzuq, Orientalisme dan Latar Belakang Pemikirannya.. ALih bahasa Luthfi Abdullah Ismail, (Banhil: Al-Muslimun, 1984)., h. 4

M. Ajaj al-Khatib, Al-Sunnah Qobal al-Tadwin, alih bahasa, A.H. Akrom Fahmi, Hadits Sebelum di bukukan, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999)., 301

Muhammad Musthafa al-Azami, Manhaj al-Naqd ‘ind al-Muhadtsin: Nasy’atuhu wa Tarikhuhu, (Riyadh: maktabah al-Kautsar, 1990)., h. 532

Ibid., h. 533

Aji Mustafa Ya’qub, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1990)., h. 27

Ajaj Al-Khatib, op.cit., h. 301-304

Ibid., h. 306-307

Asymuni Abdur Rahman, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadits, (Yogyakarta: Putra 1996)., h. 30

Ajaj Al-Khatib, op.cit

Azami, op.cit ., h. 546

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s