POTRET WANITA DALAM IDEOLOGI EMANSIPASI

Emansipasi adalah gerakan yang bertujuan untuk membebaskan kaum wanita dari belenggu penindasan kaum pria. Semula gerakan ini memang berjuang untuk menghilangkan perlakuan zhalim terhadap wanita, supaya kaum wanita dapat memperoleh hak yang penuh sebagai manusia. Misalnya wanita tidak boleh menyatakan penolakan terhadap kehendak ayahnya yang menikahkannya secara paksa dengan seorang pria: atau sang istri harus ikut serta mati, jika suaminya mati seperti dalam ajaran agama hindu.

Memperhatikan perlakuan terhadap kaum wanita seperti diatas memmang kita harus mengambil langkah pembebasan guna menyelamatkan kaum wanita dari penindasan kaum pria. Akan tetapi apa yang berjalan kemudian, ternyata gerakan ini lebih jauh menuntut persamaan hak antara wanita dengan pria dalam segala aspek kehidupan, termasuk statusnya dalam hubungan suami istri. Bahkan kemudian merekapun menuntut hak yang sama dalam penyediaan lapangan kerja ditengah masayarakat. Sebelum menceritakan emansipasi sebagai suatu ideology, atau sebagai suatu konsep kehidupan yang menghendaki tatanan tersendiri lepas dari ketentuan-ketentuan agama, koderat, akal dan tradisi yang telah berjalan selama ini. Atau emansipasi yang menghendaki pendobrakan semua aturan, baik yang berasal dari agama, adat, hukum, dan koderat maupun ketentuan-ketentuan lain yang dipandang bertentangan dengan gagasan ini, marilah kita bicarakan lebih dulu pengertian ideology.

Mengapa mereka menyebut gagasan emansipasi ini sebagai suatu ideology? karena gagasan ini menghendaki diobrak-abriknya setiap norma yang selama ini dipandang telah menempatkan wanita dalam keadaan teraniaya dan pemasungan hak-haknya, sehingga wanita adakalanya dipandang sebagai penjelmaan syetan seperti yang dinyatakan oleh seorang pastur Kristen bernama : KETULIAN. Karena memang ideology mempunyai sifat menghancurkan tata nilai yang dianggap sebagai musuhnya untuk membangun tata nilai yang dianggap sebagai musuhnya untuk membangun tata nilai baru yang diyakini lebih baik dan menguntungkan. Kita menganggap bahwa ideology emansipasi ini mempunyai sifat dasar pengingkaran terhadap ketentuan-ketentuan Allah yang ditetapkan dalam al-quran dan hadist Rasulullah saw. Untuk itu kita memang dituntut menunjukkan bukti-bukti yang jelas dari al-quran dan hadist-hadist Rosulullah saw, sehingga dapat dipertanggung jawabkan adanya suatu ketetapan bahwa, ideology emansipasi merupakan produk kekafiran berfikir.

Marilah kita perhatiakan beberapa ketentutan Islam yang secara mutlak menerangkan bahwa wanita memang berbeda dengan pria, baik secara biologis maupun tanggung jawab serta fungsi dalam kehidupan dunia ini. Hal-hal berikut adalah bukti dari apa yang kita maksudkan diatas :

1. Haid : secara biologis dan sunatullah wanita mengalami haid dan hal ini menjadi tanda kenormalannya. Hal ini Allah menyatakan Qs. Al-Baqarah, 2:222 “Mereka menanyakan kepadamu tentang haid. Katakan: haid itu merupakan suatu gangguan. Karena itu jauhkan dirimu dari wanita dimasa haid”

2. Hamil dan melahirkan : wanita mempunyai ciri khas yang tidak dapat dirubah dan tidak dapat digantikan oleh laki-laki ataupun tabung, dengan adanya kesanggupan hamil untuk mengembang biakan keturunan lebih jauh. Hal ini Allah berfirman pada QS al-ahqaf, 46:15 “Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah, serta mengandung dan menyapihnya selama 30 bulan”

3. Menyusui : tugas ini tidak bisa digantikan oleh laki-laki walaupun seringkali digantikan oleh alat lain atau air susu lain. Namun bagaimanapun juga wanitalah yang dapat menyusui. Hal ini Allah nyatakan dalam QS al- Baqarah 2:233 “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya 2 tahun penuh bagi siapa yang menginginkan penyemurnaan penyusuan”.

Ketiga ciri spesifik ini tidak bisa ditolak oleh kaum wanita walaupun mereka berontak sampai meledakkan seluruh gunung, atau mengeringkan seluruh lautan yang ada di dunia, agar mereka tidak haid, tidak hamil, tidak melahirkan dan tidak menyusui sebagaimana halya laki-laki. Inilah kodrat yang Allah tetapkan pada diri wanita.

Pertanyaan yang kemudian timbul ialah, apakah karena wanita telah dikodratkan oleh Allah semacam itu, lalu wanita mutlak harus berbeda dengan laki-laki? Apakah harkat kemanusiaan wanita dengan pria memang berbeda? bukankah Islam sendiri menyatakan semua manusia sama, seperti yang Allah firmankan pada QS al-hujurat 49:13

Pertanyaan di atas perlu dengan teliti dibedakan, mana yang menyangkut soal harkat dan hakekat kemanusiaa, dan mana yang menyangkut fungsi dan tugas yang telah allah tetapkan pada masing-masing wanita dan pria didunia ini? Soal harkat kemanusiaan memang Allah nyatakan pria dan wanita sama, seperti tercantum dalam ayat-ayat berikut :

a. QS an-Nisa’,4:32

“Dan jangalah kamu iri terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari yang lain. Karena bagi kaum pria meneriam bagian dari apa yang ia usahakan dan bagi wanita akan meneriama apa ia usahakan pula. Dan mintalah karunia kepada Allah, sungguh Allah maha mengetahui segala sesuatu

Dalam ayat ini sudah diberikan peringatan dengan tegs, bahwa bagian yang Allah berikan kepada laki-laki tidak sama dengan bagian yang Allah berikan kepada wanita. Namun sebagian manusia, laki-laki dan wanita memperoleh pahala atau balasan yang serupa secara adil sesuai dengan tugas dan fungsinya yang dibebankan oleh Allah kepada masing-masingnya.

b. QS al-Hujurat, 49:13

“Wahai manusia, kami jadikan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan wanita, dan kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenali.sungguh yang termulia diantaramu adalah yang paling bertaqwa”.

Ayat ini memang menegaskan, bahwa harkat laki-laki dan wanita itu sama. Tetapi harus diingat, bahwa tugas dan fungsi laki-laki dengan wanita, dengan tegas pula telah dibedakan oleh Allah swt, sehingga wanita jangan berangan-angan untuk memperoleh fungsi dan tugas yang sama dengan laki-laki. Ini Allah tegaskan di dalam QS.an-Nisa’, 4:32

Bertalian dengan ketentuan yang termaktub pada QS.4:32 itu, telah diriwayatkan dalam hadist-hadist tentang sebab turunnya ayat tersebut. Maimunah ra istri Rasulullah saw bertanya : “Mengapa laki-laki dijanjikan untuk memperoleh surga yang tinggi, mereka mati dalam berperang membela agama Allah, sedangkan wanita tidak demikian? Karena itu apakah wanita boleh turut sebagai pasukan tempur ?”

Rasulullah saw. Kemudian memperoleh wahyu dari Allah sebagai jawaban dari pertanyaan Maimunah tersebut. Dan kepada kaum wanita Rasulullah saw mengatakan bahwa jihad mereka adaah dalam melakukan ibadah haji dan taat pada suami. Artinya seorang wanita yang mati ketika sedang beribadah haji, maka ia akan memperoleh surga yang tinggi sepadan dengan yang didapat oleh laki-laki yang mati terbunuh dalam perang membela agama Allah. Demikianlah Islam menempatkan fungsi dan tugas yang berbeda antara laki-laki dengan wanita secara proporsional.

Mungkin sekali banyak orang akan menuduh bahwa membatasi fungsi dan tugas wanita seperti yang ditetapkan dalam Al-quran dan hadist-hadist Rasulullah saw, adalah merupakan tindakan pembelengguan atau pemasungan hak-hak wanita. Dan hal semacam ini bertentangan dengan harkat wanita. Terhadap peranyataan mereka itu, kita perlu mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

a. Atas dasar apakah orang berani mengatakan ketentuan-ketentuan Islam berkenaan dengan wanita bertentangan dengan harkat wanita?

b. Bagaimanakah hal yang yang sebenarnya mengenai harkat wanita itu dan ukuran apa yang dipakai untuk menetapkan hak wanita itu begini dan begitu, serta apa dasar yang anda pakai?

Jika anda menjawab bahwa dasarnya adalah karena hak laki-laki dan wanita sama, maka kami bertanya kepada anda : “siapa yang menetapakan kesamaan hukum itu? jika anda menjawab, bahwa ketetapan semacam itu berdasarkan undang-undang Negara, maka kami bertanya :”atas dasar apa undang-undang Negara menetapkan kesamaan tersebut?” apakah Negara dapat menciptakan manusia? Adakan Negara pula yang menciptakan kodrat manusia yang telah Allah ciptakan itu? Jika anda menjawab, negara menetapkan undang-undang menetapkan seperti itu berdasarkan kesepakatan rakyat, maka kami bertanya : “apakah manusia yang nota bene bodoh dalam mengenal kodratnya sendiri dapat diterima akal yang sehat jika dirinya sendiri membuat ketetapan yang bertentangan dengan kodratnya? Anda jangan berlari dari satu lubang kelubang yang lain untuk menampakan kebodohan anda sendiri dalam memecahkan persoalah yang berada di luar wewenang manusia ini. Anda harus tahu bahwa pembagian manusia kedalam jenis laki-laki dan wanita, bukan atas kehendak manusia itu sendiri dan bukan merupakan kekuasaan manusia itu sendiri. Karena itu apak hak anda dengan tiba-tiba membuat undang-undang yang mengingkari kodrat Allah sang maha pencipta.

Jika kita bermain logika, beradu konsep emansipasi maka anda harus dengan jujur mendudukan pokok persoalannya secara mendasar yaitu : “apakah manusia itu memiliki dirinya sendiri atau justru dimiliki oleh pihak lain? jika dalam hal ini anda menjawab bahwa manusia adalah pemilik dirinya sendiri berarti anda telah mengingkari Allah swt, mengingkari pertanggung jawaban akhirat dan sekaligus mengangkat manusia sebagai tuhan.

Jika pemikiran yang mendasari ideology emansipasi ini ternyata tidak anda sadari konsekwensinya dalam hubungan tauhid dan keimanan kepada Allah, maka sesungguhnya layaklah jika kita harus mengakui bahwa pola fakir kita benar-benar mengingkari Allah sebagai Maha pengartur yang mutalk, tanpa diganggu gugat ketentuan-ketentuannya. Mungkin sekali anda akan mengatakan bahwa para ulama ada yang berbeda pendapat mengenai emansipasi ini. Ada yang mengatakan boleh ada yang mengatakan terlarang. Dalam hal ini kita perlu memperingatkan, adalah suatu kebodohan yang menggelikan sekali jika ada ulama yang mengatakan emansipasi boleh karena sejak awal Islam sampai detik ini, ulama yang benar-benar mengatakan emansipasi dalam pengertian diatas dibolehkan menurut Islam. Jika ada orang yang dengan kedok ulama mengatakan bahwa dirinya tidak terikat oleh garis ketentuan yang dibawa oleh sahabat Rasulullah saw, dan karena itu dia kemudian menyatakan bahwa sesuai dengan tuntutan zaman, emansipasi tidak terlarang didunia Islam. Ulama semacam jelas bukanlah seorang alim yang hendak menegakkan Islam sebagai suatu ajaran Allah, tetapi sesungguhnya ia adalah orang yang berpola fakir kafir dan menyesatkan umat dari ajaran Allah.

Dalil lain yang mungkin sekali diketengahkan orang secara gigih adalah pernyataan bahwa wanita moderen adalah wanita yang multi fungsi. Terhadap pernyataan ini kita bertanya :”siapakah yang menetapkan pendapat semacam itu? apa dasar argumentasi logisnya, sehingga logikanya tidak bertentangan dengan kodrat yang telah Allah tetapkan pada diri wanita? justru pernyataan di atas sangat bertentangan dengan tuntutan kehidupan moderen. Karena dalam sistem menejemen moderen justru berlaku suatu norma kerja spesialis yang kualitatif. Artinya, seseorang bukan saja dituntut suatu keahlian khusus, tetapi juga efisiensi yang tinggi. Karena itu dalam suatu perusahaan, tidak mungkin diberi jabatan ganda. Karena multi jabatan ditangan suatu orang dalam suatu perusahaan dengan sistem manajemen moderen, akan menjadi factor penghalang kemajuan perusahaan tersebut. Jadi, sistem manejemen modern secara ketat mendasarkan pola kerja pada spesialisasi yang berkualitas, guna mencapai tingkat efisiensi dan efektifitas seoptimal mungkin.

Maka jika anda termasuk pembela emansipasi dengan alasan wanita modern atau zaman moderen atau lain sebagainya, sesungguhnya anda telah mengingkari prinsip dan pola pemikiran manajemen modern. Oleh sebab itu, kita berharap bahwa para propagandis emansipasi mau berlaku jujur mengenai dasar dan pola fakir mereka dalam membela dan memperjuangkan ideology emansipasi.

Untuk memperjelas sikap kita terhadap ideology emansipasi, yang memang dari segala aspeknya tidak dipertanggung jawabkan kebenaran ilmiahnya, maka dapat diringkaskan sebagai berikut :

1. Allah telah menetapkan kodrat wanita dan pria berbeda

2. karena perbedaan kodrat ini dengan sendirinya tugas dan fungsi kedua jenis manusia ini juga berbeda

3. Harkat manusia laki-laki maupun wanita memang sama di sisi Allah. Tetapi Allah sendiri membedakan tugas dan fungsi mereka. Karena itu kedua hal ini jangan dikaburkan.

4. Pemikiran emansipasi wanita jelas mengingkari kodrat ketetapan Allah seperti tersebut diatas.

5. Pemikiran emansipasi sama sekali tidak dapat dibenarkan oleh logika modern yang menuntut adanya spesialisasi yang berkualiatas tinggi.

Dengan demikian haruslah disadari ideology emansipasi hanyalah muncul karena dorongan pengingkaran terhadap ketetapan-ketetapan Allah, ketentuan logika, sejarah dan tradisi manusia yang beradab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s