MAKANAN DALAM SYARIAT : Tinjauan terhadap makanan yang dijelaskan dan diharamkan

I. Pendahuluan

Seiring dengan perputaran waktu dan zaman, persoalan hukum Islam banyak diperbincangkan diberbagai tempat, hal tersebut terjadi karena kemajuan teknologi ikut mempengaruhi kalangan ulama untuk menilai sejauh mana manfaat dan mudharat hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut bagi umat Islam.

Meskipun, secara normatif Islam tidak menghambat kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi, sebaliknya Islam justru mendukung kemajuan tersebut, seperti yang tertuang dalam al-Qur’an :

Artinya : “maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaiamana diciptakan, dan langit bagaimana di tinggikan dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan dan bumi bagaimana di hamparkan. (Al-Ghosiyyah: 17-20)

Ayat di atas menggambarkan anjuran kepada manusia untuk berfikir tentang segala sesuatu yang diciptakan Allah untuk manusia. Melalui proses berfikir itu pula manusia bisa merasakan betapa besar ciptaan Allah. Pada dasarnya, Allah menciptakan manusia di dalam kehidupan ini, tidak hanya sekedar untuk makan, minum, hidup kemudian mati seperti yang dialami makhluk lainnya. Namun leblih dari itu, manusia diciptakan supaya berfikir, menentukan, mengatur, mengurus segala persoalan, mencari dan memberi manfaat kepada orang lain. banyak usaha yang dilakukan oleh manusia dengan kemampuan yang dimiliki untuk menggali segala yang diciptakan Allah melalui penelitian, pengkajian dan lain-lain, sehingga hasilnya nanti dapat membantu manusia memecahkan persoalan hdup yang terus berkembang dalam segala aspek kehidupan.

Di antara berbagai macam persoalan yang seringkali menimpa manusia adalah persoalan kesehatan, makanan dan keuangan. Makanan dalam hal ini juga termasuk minuman dan segala yang bisa dan dapat dijadikan sesuatu untuk dimakan, merupakan kebutuhan bagi setiap diri manusia, untuk kehidupan tubuh membutuhkan energi, ia digunakan untuk mempertahankan panas tubuh, memperbaiki jaringan, mempertahankan denyut jantung, pertumbuhan, pembiakan dan kesehatan. Ia diperoleh dari makanan seperti nasi, sayur, daging, buah, dan susu yang diolah sistem pencernaan menjadi sari makanan, yaitu: karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. Makanan yang sehat atau cukup gizi, mengandung semua sari makanan tersebut dalam jumlah yang cukup. Selain itu, ada pula sari makanan yang dapat dihasilkan secara mandiri oleh tubuh seperti kolesterol.

Secara alami manusia selalu mencari cara agar dapat bertahan guna memenuhi kebutuhan tersebut, namun persoalanya adalah sejauh mana cara yang dilakukan manusia tersebut berguna dan bermanfaat bagi dirinya tanpa harus melakukan dan mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman dan kompleksnya persoalan hidup, akhirnya manusia berhadapan dengan jalan dimana mereka harus menentukan pilihan hidup. kemudian, manusia dituntut untuk mengambil sikap, jalan mana yang harus ditempuh.

Islam dalam hal ini memberikan penjelasan bagaimana cara menghadapi dilematika persoalan yang dihadapi oleh manusia, pada tulisan ini akan dijelaskan makanan yang ada dalam syariat yang terdiri dari makanan yang dianjurkan dan makanan yang diharamkan.

II. Makanan Yang Dijelaskan Syariat

1. Jenis Makanan Dalam Al-Quran

Al-quran sebagai pedoman hidup umat Islam membagi makanan itu kedalam tiga kategori yaitu; Nabati, Hewani dan olahan. Mengenai Nabati Allah berfirman yang artinya :

Dan suruhlah manusia melihat makanannya, sungguh kami curahkan hujan berlimpahan kemudian kami belah bumi bercelah-celah dan kami tumbuhkan dalamnya biji-bijian, anggur, dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun penuh pohonan dan buah-buahan serta rumput-rumputan untuk kesenangan bagimu dan binatang ternakmu (A’basa [80]:24-32)

Ayat-ayat itu menjelaskan bahwa Allah menganugerahi manusia dalam hidup ini berupa pangan, sekaligus mengisyaratkan bahwa itu merupakan dorongan untuk menyempurnakan tugas-tugasny. Allah berfirman bahwa jika manusia benar-benar hendak melaksanakan tugas-tugasnya secara sempurna, maka hendaklah mereka melihat makanannya, memerhatikan dan merenungkan bagaimana proses yang dilaluinya hingga siap disantap.

Mengenai makanan hewani Allah berfirman :

1. Hari ini dihalalkan bagimu (segala) yang baik.dan makanan orang Al-kitab halal bagimu dan makananmupun halal bagi mereka (al-ma’idah[5] : 5)

2. Dihalalkan bagi kamu binatang buruan di laut, dan (ikan yang mati terdampar) untuk kesenanganmu, dan bagi mereka dalam perjalanan (al-Maidah [5]:96)

3. Maka makanlah (sembelihan) yang diucapkan nama Allah didalamnya. Jika kamu percaya akan ayat-ayat Allah. Mengapa kamu tiadakan memakan (sembelihan) yang diucapkan nama Allah atasnya, sedang (Allah)telah menjelaskan kepadamu, apa yang ia haramkan atasmu kecuali apa yang kamu terpaksa (memakannya)? (al-An’am[6]:118-119)

4. Janganlah kamu makan (sembelihan) yang tiada disebut nama Allah atasnya karena itu adalah kefasikan dan sungguh setan-setan selalu membisikan kepada teman-temannya supaya mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka, tentulah kamu jadi orang yang mempersekutukan Tuhan (Al-An’am [6]; 121)

5. katakanlah, tiada kudapati dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang terlarang bagi seorang pemakan yang ingin memakannya kecuali daging maitah, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena itu adalah kekotoran atau kefasikan atau binatang yang dikorbankan kepada yang selain Allah. Tapi barang siapa terpaksa (memakannya) bukan karena mau melanggar aturan, sungguh Tuhanmu Maha Pengampun Maha Penyayang (Al-An’am [6]:145)

Kata makanan (tha’am) dalam ayat 5 al-ma’idah adalalah makanan sembelihan atau makanan hewani, karena sebelum ini terdapat uraian tentang penyembelihan dan perburuan. Sehingga kedua hal inilah yang menjadi pokok masalah. Ada juga yang memahami kata “makanan” di sini dalam arti buah-buahan, biji-bijian, dan sebagainya, tetapi pendapat ini sangat lemah.

Kemudian ayat 96 al-maidah menjelaskan bahwa manusia halal berburu binatang di laut, juga sungai dan danau atau tambak dan makanan yang berasal dari laut, seperti ikan udang atau apapun yang hidup disana dan tidak dapat hidup di darat walu telah mati dan mengapung, adalah yang lezat baik bagi orang-orang yang bertempat tinggal tetap di suatu tempat tertentu ataupun bagi orang yang dalam perjalanan.

Lalu, ayat 118-119 al-An’am menggunakan kata perintah untuk mengonsumsi makanan, tetapi perintah itu tidak wajib. Hukumnya mubah, karena tidak seorangpun yang memandang haram makanan apa yang disebut nama Allah ketika menyembeli binatang yang halal. Perintah ini juga untuk membedakan dengan yang terlarang, yaitu bangkai dan apa yang disembelih atas nama berhala.

Selanjutnya ayat 121 al-an’am menegaskan bahwa salah satu dosa ialah memakan makanan sembelihan yang tidak disebut nama Allah, sekaligus menjelaskan sebab larangan itu dan sebab keterjerumusan manusia dalam larangan itu. Ayat ini menegaskan bahwa “dan janganlah kamu memakan dari apa” yakni walau sedikit pun dari binatang-binatang halal yang tidak di sebut nama Allah atasnya ketika menyembelihnya. Sungguh yang demikian itu merupakan kefasikan, yakni sikap dan perbuatan yang mengantarkan keluarnya seseorang dari koridor agama.

Kemudian, ayat ini mengingatkan setiap orang boleh jadi terpengaruh secara negatif oleh satu dan lain hal bahwa sesungguhnya setan itu membisik-bisiki dengan merayu kepada kawan-kawannya, yakni pemuka-pemuka kaum musyrik.

“agar mereka membantah kamu”, antara lain menyangkut bangkai dan memakan sesuatu yang disembelih ats nama berhala.”dan jika kamu menuruti”, yakni ikut menghalalkan makanan yang diharamkan Allah atau meragukan kebnaran hukum Allah, maka “sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” karena hal itu merupakan tindakan yang mengabaikan syariat Allah dan menggantinya dengan kesesatan penyembah berhala.

Ayat 145 al-An’am memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan bahwa pengharaman atas nama Allah tidak mungkin terjadi kecuali berdasarkan wahyu, baik langsung dan tegas dengan teks dan makna, yakni Alquran, maupun tidak langsung dan tegas, tetapi melalui pengajaran-Nya, yakni sunnah atau melalui istinbath (penalaran terhadap tuntunan-NYA) dalam ayat ini, Allah mengharamkan memakan bangkai, darah (tidak termasuk hati dan limpa) dan daging babi, karena semua itu dipandang kotor (rijs)

Alquran juga menjelaskan makanan olahan : “dan makan dari buah kurma dan anggur kamu ambil minuman dan makanan yang nyaman” (al-Nahl[16]:67). Ayat ini menjelaskan buah-buahan yang dapat dimakan sekaligus menghasilkan minuman. Hanya saja,minuman itu dapat beralih menjadi sesuatu yang buruk, karena misalnya memabukan. Dari sisi lain, karena untuk wujudnya minuman itu diperlukan upaya manusia. Maka ayat ini menegaskan supaya manusia membuatnya dengan menyatakan bahwa disamping susu yang merupakan minuman lezat, dari buah kurma dan anggur manusia juga dapat membuat sesuatu darinya, yakni dari hasil perasannya sejenis minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik yang tidak memabukkan seperti perasan anggur atau kurma yang segar atau cuka dan selai.

Dari ayat-ayat Alquran diatas terlihat bahwa yang dimaksud dengan “makanan” bukan hanya sesuatu yang dimakan. Tetapi juga mencangkup apa yang diminum atau minuman. Karena itu, pada minuman juga berlaku kriteria yang sama dengan makanan yang boleh dikonsumsi, seperti halal dan baik (thayibb).

Kata “halal” berasal dari akar kata yang berarti lepas atau tidak terikat. Sesuatu yang halal adalah yang lepas dari bahaya duniawi dan ukhrawi. Karena itu, kata “halal” juga berarti boleh. Dalam bahasa hukum, kata ini mencakup segala sesuatu yang dibolehkan agama, baik kebolehan itu bersifat sunah (anjuran untuk dilakukan), makruh (anjuran untuk ditinggalkan), mapun mubah (netral/boleh-boleh saja).

Sedang kata “thayyib” berarti lezat, baik, sehat menentaramkan dan paling utama. Para pakar tafsir ketika menjelaskan kata ini dalam konteks perintah makan menyatakan bahwa ia berarti makanan dan minuman yang tidak kotor dari segi zatnya atu rusak (kadaluwarsa) atau dicampuri benda najis. Ada juga yang mengartikannya sebagai makanan dan minuman yang mengandung selera bagi yang akan memakannya dan tidak membahayakan fisik dan akal.

Itu menunjukkan bahwa dalam islam, sebagaimana diajarkan dalam tasawuf, makanan dan minuman harus sehat dan menyehatkan. Ini sebabnya dalam tasawuf berkembang ajaran tentang pola hidup sehat dengan memerhatikan makanan dan minuman yang selayaknya dikonsumsi oleh umat islam.

2. Unsur-Unsur Makan Yang Baik dalam Kajian Sains

Makanan pokok adalah pemelihara kehidupan, semua makhluk hidup yang diciptakan allah di permukaan bumi, baik manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan mutlak memerlukannya. Makanan memberikan kekuatan esensial bagi kehidupannya, menyuplai unsur-unsur yang akan membentuk sel tubuhnya dan memperbaharui yang rusak. Hal itu disebabkan asal penciptaan manusia adalah dari tanah liat dan debu.

a. Unsur Esensial Makanan Manusia Yang Sempurna

Makanan yang sempurna terbentuk dari karbohidrat, protein, lemak dalam jumlah yang mencukupi. Makanan sempurna itu akan memberikan apa yang dibutuhkan tubuh manusia yakni energi kalor yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Unsur pokok lainnya yang juga dibutuhkan tubuh manusia adalah garam mineral dan air.

b. Unsur-unsur protein

Protein adalah susunan organik nitrogen yang terbentuk oleh satuan-satuan yang bernama asam amino yang tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Kadang kala terhimpun serangkai dengan unsur-unsur lain seperti belerang, fosfor, besi(ferum), tembaga dan yodium. Dari unsur protein terbentuklah protoplasma (usur kehidupan) baik sel-selnya, intinya, ataupun bagian-bagiannya.

Protein juga memperbaharui sel-sel tubuh yang telah rusak. Ia sebagai makanan yang sangat berharga bagi tubuh, merupakan salah satu sumber energi kalor yang dibutuhkan oleh jasmani, karena ia mampu menghasilkan sejumlah besar energi dan kalori di dalam tubuh sebagaimana seluruh ragi dan enzim membantu pencernaan makanan dalam tubuh dan mengatur proses pembakaran yang biasanya terbentuk dari unsur protein.

Protein-protein ini masuk ke dalam susunan darah dan materi darah merahnya yang disebut sel darah merah atau hemoglobin, yag memainkan peranan penting dalam mendistribusikan oksigen ke sel-sel tubuh untuk memudahkan proses pembakaran dalam tubuh dan memindahkan karbon dioksida (CO2) Yang dihasilkan keparu-paru untuk dilepaskan ke udara bebas.

Unsur protein didapatkan pula di seluruh bagian makhluk hidup atau organisme, akan tetapi sumber utamanya adalah binatang, ikan, daging burung, hati, telur, susu,keju,. Selain itu protein juga dikandung oleh makanan nabati seperti kacang-kacang adas, kedelai, buncis, kacang polong, chikpea, buah kemiri, buah badam, buah pala, kacang tanah, dan sejenissnya, termasuk biji-bijian seperti biji gandum,biji dzurrah, biji tepung syair, tanaman gandum, sebagai nilai tengah dari unsur proteinnya. Namun demikian protein nabati menurut penelitian nilainya berada di bawah protein hewani. Protein hewani mengandung asam amino yang tidak didapatkan pada protein nabati. Inilah hakikat penjelasan yang kita proleh dari ayat qur’an yang mulia.

c. Unsur Karbohidrat

Karbohidrat terdapat juga beberapa jenis sayuran, seperti kacang, kacang adas yang mengandung separuh prosentase zat tepung, demikian pula bahan makanan yang mengandung gula seperti madu lebah, madu hitam buah-buahan susu dan lainnya.

Unsur karbohidrat adalah salah satu sumber penghasil energi kalor esensial bagi manusia. Makanan yang sempurna harus mengandung 50% hingga 65% unsur ini. Seorang lelaki dewasa membutuhkan sekitar 500 gram zat tepung dalam sehar. Setiap gram unsur karbohidrat dapat mengahasilkan energi kalor bagi tubuh kurang lebih sebesar 4,1 kalori, ketika ia membakarnya dan mencernanya dalam tubuh.

d. Unsur Lemak

Unsur lemak pada makanan terkandung di dalam keju, kepala susu (krim) minyak nabati dan minya hewani. Lemak juga didapatkan didalam telur khususnya pada kuning telurnya, susu, kacang tanah, buah kemiri dan buah badam dalam jumlah yang cukup besar. Unsur lemak dianggap sebagai makanan yang paling kaya kandungan bahan menahnya. Lemak merupakan pusat kekuatan yang menghasilkan energi yang berlipat ganda lebih banyak daripada yang dihasilkan kalor kurang lebih sebesar 9.3 kalori. Dalam tubuh manusia harus mengandung 50-100 gram lemak, tidak boleh melebihi batas atasnya (100 gram) karena akan mengakibatkan penyakit bagi tubuh. Kelebihan lemak akan menghasilkan senyawa asam berbahaya. Kelebihan lemak di dalam makanan akan menyebabkan kegemukan yang tidak disukai. Di sisi lain, jika tubuh tidak dapat melakukan pembakaran yang sempurna terhadap lemak maka akan mengakibatkan bertumpuknya asam kitonik pada darah, serta pada seluruh jaringan tubuh. Ini sangat membahayakan kesehatannya.

e. Vitamin

Vitamin adalah bahan organik yang sangat penting di dalam makanan. Meskipun ia tidak memberikan energi kepada tubuh ketika mencernanya teapi tubuh tetap membutuhkannya walau dalam jumlah sedikit. Hal ini disebabkan vitamin sangat diperlukan untuk pertumbuhan jasmani dan menjaga kesehatannya, agar ia mampu mengerjakan tugas-tugas keseharian dan memelihara kebugaran tubuhnya. Vitamin juga berperan penting dalam metabolisme tubuh dan pembakaran kalor. Kekuarangan mengonsumsi vitamin menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit, yang dalam kondisi tertentu bisa dikatakan cukup berbahaya seperti rchitis, rabun senja dan gusi berdarah, dan lain-lainnya. Oleh sebab itulah vitamin diyakini sebagai unsur yang harus ada di dalam makanan yang sempurna disamping unsur lain yang menghasilkan energi protein, karbohidrat, lemak, plus garam mineral serta air.

B. Makanan Yang Diharamkan Syariat

Makanan yang diharamkan dalam pandangan syariat Islam adalah :

1. Babi

Babi adalah hewan yang sangat kotor, dia biasanya memakan segala sesuatu yang diberikan kepadanya baik kotoran maupun bangkai bahkan kotorannya sendiri atau kotoran manusia akan dia makan. Babi memiliki tabiat malas, tidak suka cahaya matahari, tidak suka berjalan-jalan, sangat suka makan dan tidur, memiliki sifat paling tamak. Semakin bertambah usia, babi akan semakin bodoh dan malas, tidak memiliki kehendak dan berjuang bahkan untuk membela diri sendiri saja enggan.

2. Bangkai dan darah

Bangkai dan darah adalah dua hal yang ditolak oleh jiwa yang sehat. Bangkai hukumnya haram, kecuali bangkai ikan dan belalang , darah juga haram, kecuali hati dan limpa.

Bangkai merupakan tempat yang subur untuk tumbuhnya sejumlah mikroba, di antara mikroba ini terdapat mikroba yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia, bahkan bisa menjadi racun yang dapat membunuh mereka. Racun ini terkadang tidak akan hilang hanya dengan dimasak.

3. Hewan yang tercekik, dipukul, jatuh dari ketinggian, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas

Hewan yang tercekik disebut al-munkhaniqah, hewan yang dipukul dengan keras atau dilempaar dengan batu hingga mati disebut al-amuqudzah. Yang jatuh dari ketinggian lalu mati disebut al-mutaraddiyah, yang mati karena ditanduk disebutan-nathihah. Menurut Alquran semua jenis binatang yang tidak diketahui penyembelihannya adalah haram. Dan hikmah pengharamannya sama dengan hikmah mengonsumsi bangkai.

Sedang hewan yang dimakan binatang buas pun juga diharamkan, karena mati dengan cara dilukai, dan dalam Alquran hewan ini disebut’ma akala as-shabu.” As-sabu’u adlaah hwan-hewan yang memiliki cakar dan taring (predator) seperti macan tutul, serigala, bahkan kucing dan anjing.

4. Binatang yang disembelih untuk persembahan berhala

Yaitu batu-batu yang mereka susun disekitar Ka’bah. Lalu mereka menyembelih hewan yang mereka persembahkan untuk berhala-berhala itu sekaligus mereka agung-agungkan.

Di sini perlu disampaikan apa yang telah ditulis oleh Sayyid Quthub dalam kitab”Fi Al-Zhilal Al-Qur’an”: “adapun hewan yang dipersembahkan untuk selain Allah. Hal itu diharamkan bukan karena illat yang ada dalamnya, tetapi adanya penyembahan selain Allah. Dengan demikian tindakan itu karena alasan ruhiyah yang bertolak belakang dengan kebersihan hati, kesucian ruh, dan keikhlasan jiwa. Smentara tindakan itu dapat mengotori akidah dari yang diharamkan Allah pada hati manusia. Sedang islam benar-benar telah memerhatikan, agar apa-apa yang kita persembahkan semata-mata hanya untuk Allah semata tanpa sekutu satupun.”

5. Khamar dan Minum-Minuman Beralkohol

Allah menjelaskan dalam Al-quran tentang Khamar dan minuman yang beralkohol sebagai berikut:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. Al-Baqarah:219)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi,(berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Oleh karena itu jauhilan perbuatan-perbuatan itu agar kalian dapat keberuntungan (QS. Al-Maidah:90)

Khamar atau arak diambil dari kata khamara yang berarti “menutupi” dari kat itu juga diambil kata khmarul mar’ah yang berarti ‘penutup wanita (kerudung wanita). Khamer atau arak dapat menutupi akal. Khamar berarti air anggur yang diolah. Dan segala sesuatu yang dapat menutupi akal selain anggur, maka hukumnya sama.

Khamar dalam pengertian bahasa Arab (makna lughawi) berarti “menutupi”. Disebut sebagai khamar, karena sifatnya bisa menutupi akal. Sedangkan menurut pengertian urfi (menurut adat kebiasaan) pada masa Nabi SAW, khamar adalah apa yang bisa menutupi akal yang terbuat dari perasan anggur.

Sedangkan dalam pengertian syara’, khamar adalah setiap minuman yang memabukkan (kullu syaraabin muskirin). Jadi khamar tidak terbatas dari bahan anggur saja, tetapi semua minuman yang memabukkan, baik dari bahan anggur maupun lainnya. Pengertian ini diambil berdasarkan beberapa hadits Nabi SAW. Di antaranya adalah hadits dari Nu’man bin Basyir RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya dari biji gandum itu terbuat khamar, dari jewawut itu terbuat khamar, dari kismis terbuat khamar, dari kurma terbuat khamar, dan dari madu terbuat khamar” (HR Jama’ah, kecuali An-Nasa’i). Dari Jabir RA, bahwa ada seorang dari negeri Yaman yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sejenis minuman yang biasa diminum orang-orang di Yaman. Minuman tersebut terbuat dari jagung yang dinamakan mizr. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah minuman itu memabukkan?” “Ya” jawabnya. Kemudian Rasulullah SAW menjawab : “Setiap yang memabukkan itu adalah haram. Allah berjanji kepada orang-orang yang meminum minuman memabukkan, bahwa dia akan memberi mereka minuman dari thinah al-khabal. Mereka bertanya, apakah thinah al-khabal itu? Jawab Rasulullah,”Keringat ahli neraka atau perasan tubuh ahli neraka.” (HR Muslim, An Nasa’i, dan Ahmad).

Hadits di atas menunjukkan bahwa khamar itu tidak terbatas terbuat dari perasan anggur saja, sebagaimana makna urfi, tetapi mencakup semua yang bisa menutupi akal dan memabukkan. Setiap minuman yang memabukkan dan menutupi akal disebut khamar, baik terbuat dari anggur, gandum, jagung, kurma, maupun lainnya. Berarti itu merupakan pengertian syar’i tentang khamar yang disampaikan Rasul SAW dalam hadits-haditsnya. Dalam keadaan demikian, yakni setalah adanya makna syar’i –makna baru yang dipindahkan dari makna aslinya oleh syara’– yang berbeda dengan makna lughawi dan makna urfi, maka makna syar’i tersebut harus didahulukan daripada makna lughawi dan makna urfi.

Jika khamar diharamkan karena zatnya, sementara pada hadits di atas dinyatakan bahwa “setiap yang memabukkan itu khamar”, berarti itu menunjukkan kepada kita bahwa sifat yang melekat pada zat khamar adalah memabukkan. Karena sifat utama khamar itu memabukkan, maka untuk mengetahui keberadaan zat khamar itu atau untuk mengenali zatnya adalah dengan meneliti zat-zat apa saja yang memiliki sifat memabukkan.

Setelah dilakukan tahqiiq al manath (penelitian fakta), oleh para kimiawan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa zat yang memilki sifat memabukkan dalam khamar adalah etil alkohol atau etanol. Zat inilah yang memiliki khasiat memabukkan. Minuman yang mengandung alkohol ini, dikenal dengan terminologi “minuman beralkohol”. Walaupun bermacam-macam namanya dan kadar alkoholnya, semuanya termasuk kategori khamar yang haram hukumnya. Alkohol yang dimaksud dalam pembahasan di sini ialah etil alkohol atau etanol, suatu senyawa kimia dengan rumus C2H5OH (Hukum Alkohol dalam Minuman.

Selain itu, para ulama juga berpendapat bahwa ada benda-benda lainnya yang haram dimakan dan ia merupakan najis, di antara benda-benda bernajis yang diharamkan untuk dimakan tersebut adalah: Bangkai hewan darat yang berdarah. (kecuali mayat manusia tidak najis) bahagian-bahagian bangkai seperti daging; kulit; urat; tulang; bulu dan sebagainya semuanya adalah najis; air kencing; tahi; darah. Semua jenis darah kecuali hati dan limpa; nanah; Segala macam nanah adalah najis sama ada ainya berbentuk kental atau cair; muntah; mazi. Yaitu air putih yang keluar dari kemaluan ketika memuncak syahwat. Ia hanya terdapat pada lelaki dan perempuan. Tetapi lebih banyak pada kaum perempuan. Wadi; Yaitu air putih kental yang keluar dari kemaluan mengiringi kencing atau karena letih; arak atau tuak, yaitu setiap minuman keras yang memabukkan, anjing dan babi serta keturunannya.

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1989)., 1055

Rusmin Tumanggor, Persentuhan Medis Modern dan Tradisional di Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Antropologi Kesehatan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, disampaian di Hadapan Sidang Senat Terbuka Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004

Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Pengobatan Cara Nabi SAW, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997)., h. 54

Ibid

Syaukat Asy-Syathi, Islam wa ath-Thib: Al-Muskiraat wa al-Mukhaddirat wa at-Tibgh wa al-Qaat wa atsaruha as-Sayyi’ah fii al-Jism, (Damaskus: Universitas Damaskus, 1959)., h321

Muhammad Salim Khan, op.cit., 215

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, (Jakarta: Lentera Hati, 2003)., Jilid III., h. 109

Ibid

Ibid

Jamaluddin Mahran dan Abdul Adzim Hafna Mubasyir, Judul Asli Al-Ghadza wa ad-Dawa’ Fil Quranul Karim, terj. Al-quran Bertutur Tentang Makanan dan Obat-obatan, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2005)., h. 200

Hasan Abdussalam, Al-Gadza fihi ad-Dawa’ wa fihi ad-Dawa’, (Mesir: Ats-Tsaqofiyyah, 1963)., h. 89

Jamaluddin Mahran, op.cit., h. 202

Muhammad Khalil Shalih, Al-Hurmunat, (Mesir: Maktabah An-Nahdah, 1965)., h. 68

Ibid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s