PARTISIPASI POLITIK MUHAMMADIYAH

“pegang teguhlah amanat K.H. Ahmad Dahlan, Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu. Berhati-hatilah kamu menjaga titipan itu, dengan sedikit bicara banyak bekerja. Muhammadiyah telah memodernisasi cara pengembangan Islam di seluruh tanah air Indonesia, mulai Sabang sampai Marauke telah berdiri cabang-cabang dan ranting-rantingnya. Aku berpesan lagi kepada kamu sekalian: ”Jagalah, suburkanlah dan selamatkanlah Muhammadiyah, dengan rajin memelihara sekolah/Madrasah, rajin tabligh/dakwah dan rajin menambah amalan-amalan dalam bidang kemasyarakatan danpembangungan. Jangan mundur, jangan putusa asa karena kecewa, tapi jalan terus. Rawe-rawe rantas, malang-malang puntung, kita tetap membangun negara berbahagia, adil dan makmur, seluruh rakyatnya dilindungi pengampunan oleh Allah Yang Maha Besar”.
Pesan Bung Karno ini disampaikannya setelah menjadi anggota Muhammadiyah selama 21 tahun, Bung Karno masuk Muhammadiyah pada tahun 1938 di Bengkulu sekaligus mempimpin Departemen Pengajaran. Di Bengkulu ia bertemu dengan Konsul Muhammadiyah Bengkulu Hasan Din yang kemudian menjadi mertuanya. Dalam kepemimpinannya, banyak terjadi perubahan manajemen sekolah-sekolah Muhammadiyah termasuk perhatian terhadap guru-guru dalam bidang kesejahteraannya, sehingga sekolah-sekolah Muhammadiyah di Bengkulu lebih tertib dan Maju ketika itu.
Muhammadiyah sebagai suatu persyarikatan swadana yang pada saat ini didukung oleh kurang lebih 30 juta anggota aktif di seluruh tanah air yang terdiri dari bermacam lapisan masyarakat di kota dan di desa. Keberadaan mereka sangata variatif, baik dari segi status sosial maupun dalam dinamikanya, hal inilah yang menyebabkan kemajuan dan ketercapaian cita-cita Muhammadiyah di setiap tempat berbeda-beda. Meskipun di satu sisi Muhammadiyah banyak memperoleh keberhasilan, seperti berkembangnya sekolah/madrasah Muhammadiyah, Rumah Sakit Islam Muhammadiyah, Panti Asuhan serta berbagai macam bentuk Amal Usaha Muhammadiyah, yang keberadaannya sudah banyak di rasakan oleh Masyarakat, namun tentunya di sisi lain masih terasa kekurangannya.
Partai Politik ala Muhammadiyah; Perlukah?
Salah satu yang menjadi kekurangan Muhammadiyah dalam perspektif kebangsaan adalah peran politik yang lebih manifestatif, hal ini paling tidak bisa dilihat dari gerakan-gerakan dakwah warga Muhammadiyah melalui jalur politik yang hingga saat ini masih menyebar ke berbagai partai politik. Menarik untuk ditelaah lebih jauh mengenai peran politik Muhammadiyah ini, mengingat keberadaan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang tercatat cukup tua dan sudah teruji secara sosial di bumi nusantara ini. Terlebih di era reformasi, Muhammadiyah, yang sesungguhnya merupakan ‘pewaris yang paling sah’ (paling dominan dalam kepengurusan partai) Masyumi, justru kadernya membentuk partai terbuka PAN (Partai Amanah Nasional) dan terakhir kader mudanya juga membentuk Partai Matahari Bangsa (PMB) yang berasaskan Islam.
Persoalannya adalah sejauh mana keterjaminan dua partai yang didirikan oleh kader-kader Muhammadiyah ini mampu dan bisa diterima oleh warga Muhammadiyah sendiri?, sebab banyak kader-kader Muhammadiyah lainnya berkiprah diluar dua partai yang notabenenya adalah kader unggulan Muhammadiyah. Hal ini dirasa perlu untuk dikemukakan, karena hingga saat ini diskursus dan debat pendapat dari warga Muhammadiyah tentang peran politik Muhammadiyah masih terus terjadi, sehingga hal ini menurut penulis akan menghambat visi utama dari organisasi Muhammadiyah itu sendiri.
Diskursus dan debat dikalangan Warga Muhammadiyah dalam hal keberadaan partai politik yang kelahirannya di bidani oleh kader unggulan Muhammadiyah paling tidak bisa dibagi ke dalam tiga kelompok besar; pertama, mereka yang menerima dan bahkan mendukung keberadaan partai sebagai media penyaluran aspirasi dirasa mutlak dan harus ada, terlebih kader Muhammadiyah memiliki potensi yang besar dan heterogen. Kedua, mereka yang menolak dan antipati terhadap keberadaan partai sebagai media penyaluran aspirasi dirasa tidak perlu dan justru keberadaannya akan berpengaruh besar terhadap eksistensi organisasi, sehingga ada kekhawatiran, jika kader Muhammadiyah terlibat dalam partai dengan mencatut nama organisasi (meski tidak secara dejure) justru akan berdampak pula terhadap organisasi besar ini. Ketiga, mereka yang permisif beranggapan bahwa ada atau tidaknya partai bukan masalah penting, sebab yang paling utama adalah kompetensi kader untuk menjalankan peran politiknya, artinya sejauh mana kader tersebut mampu memerankan dirinya sebagai kader bangsa, meski bukan melalui partai politik, sebab masih banyak garapan lain yang bisa dimanfaatkan. Perbedaan paradigma dikalangan warga Muhammadiyah ini bisa saja dimaklumi sebagai satu bentuk dinamika, tetapi jika hal ini dibiarkan maka konsekwensinya adalah akan terbentuk secara perlahan polarisasi dan friksi yang tentunya akan mengancam eksistensi persyarikatan.
Keberadaan partai politik yang dibidani oleh kader Muhammadiyah merupakan satu bentuk progresifitas dan dinamika yang positif bagi persyarikatan Muhammadiyah, meski demikian progresifitas dan dinamika tersebut harus dibangun di atas fondasi ’kesepahaman’ dikalangan warga. Artinya warga Muhammadiyah sendiri perlu dicerdaskan secara politik, sebab jika hal ini tidak dilakukan, maka bibit-bibit perselisihan tidak akan bisa dihindari. Terakhir, perlu didiskusikan lebih lanjut bahwa sudah saatnya Muhammadiyah sebagai sebuah persyarikatan mengubah paradigma gerakannya dengan membentuk partai politik Muhammadiyah atau paling tidak Muhammadiyah secara organisatoris perlu merekomendasikan sebuah partai yang pantas dan layak untuk didukung secara penuh. Fastabiqul Khairat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s