Kesadaran Bela Negara Pemuda; Memperkokoh Nasionalisme Dan Mempertegas gerakan Pemuda Indonesia

I. PENDAHULUAN
28 Oktober merupakan moment penting bagi pemuda Indonesia, dimana pada tanggal tersebut, secara resmi diperingati Hari Sumpah Pemuda. Tak terasa sudah 79 tahun Sumpah Pemuda diikrarkan oleh pemuda dari berbagai suku dan bahasa yang ada di saentero Nusantara. Dengan kesadaran bersama akan pentingnya persatuan dari kalangan pemuda inilah yang akhirnya mengantarkan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Satu sikap yang amat terpuji dari para perintis dan pendiri bangsa adalah begitu kentalnya komitmen terhadap persatuan dan kesatuan. Setiap langkah yang dilakukan selalu diarahkan kepada upaya untuk dapat menjamin kesatuan bangsa. Jika dilihat dari perjalanan sejarah dan penggalan waktu, bangsa Indonesia bisa mencapai satu konsensus untuk tetap bersatu seperti yang terjadi pada tahun 1908, 1928, 1945 dan 1965, semua itu tidak dapat dilepaskan dari landasan kultural bangsa.
Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat mengancam bentuk negara kesatuan. Potensi itu antara lain adalah faktor geografi, heterogenitas etnis, agama dan kultur, kesenjangan ekonomi dan sosial yang amat besar, pertikaian politik ideologis serta fragmentasi dikotomis.
Indonesia memang telah berhasil melampaui satu tahapan kritis, suku dan agama yang pernah menjadi isu sentral dalam pertentangan politik pada masa lalu, tidak lagi menjadi kendala bagi integrasi bangsa. Sayang, justru akhir-akhir ini kedua isu itu muncul kembali, bahkan makin marak serta menjadi agenda sentral yang telah berhasil dikemas untuk mengancam NKRI. Selain itu, isu yang sangat berperan besar dalam membangun komitmen NKRI adalah persaingan global dalam bentuk perekonomian.
Meskipun demikian sesungguhnya masih banyak lagi isu-isu lainnya yang ikut menjadi tantangan bangsa indonesia kedepan, karena itu dalam makalah ini akan dipaparkan secara singkat pemuda dan nasionalisme dan aksi nyata apa saja yang harus dilakukan sebagai bentuk penegasan gerakan pemuda Indonesia.

II. PEMUDA DAN NASIONALISME
Hampir sebahagian besar orang berpendapat bahwa Pemuda selalu menjadi ”Bintang lapangan” dalam setiap pergolakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya tidak bisa melupakan peranan Pemuda pada momen-momen penting perjalanan dan dinamika bangsa Indonsia, seperti yang terjadi pada tahun 1966 dan 1998. Dengan kata lain, rasanya sulit akan bisa menikmati alam reformasi dan iklim demokrasi tanpa keterlibatan pemuda.
Jack New Field (1971) menyebut pemuda sebagai komunitas kecil yang memiliki kekuatan untuk merubah sejarah, karena perubahan sejarah selalu dimulai dari kelompok kecil. Mereka bisa dikatagorikan sebagai kekuatan minority profetic yaitu kekuatan kecil yang bertindak seperti seorang ”nabi” untuk merubah kondisi sosial kemasyarakatan. Sejumlah prediket melekat dalam setiap diri pemuda, agent of social change, social control dan moral force. Namun pantas dipertanyakan secara kritis, kemana arah gerakan Pemuda dan juga termasuk mahasiswa pasca 1998 dan sampai sejauh mana komitmen serta kontribusinya untuk menciptakan kepemimpinan nasional yang kredibel, profesional, akuntabel dan mempunyai integritas etika dan moral.
Kini, setelah melewati momen-momen lain seperti tahun 1966 (Orde Baru), 1974 (Malari), 1977-1978 (asal tunggal), dan 1998 (reformasi), kemampuan para pemuda Indonesia kembali diuji untuk meluruskan perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Di usianya yang ke-62, NKRI memang sudah bebas dari penjajahan fisik. Akan tetapi, penjajahan ekonomi, sosial budaya, dan bentuk-bentuk penjajahan lain menjadi dominan.
Keadaan ini tentu berdampak pada integritas dan harga sebagai bangsa yang berdaulat. Berkali-kali dilecehkan oleh bangsa lain dalam berbagai peristiwa, baik di tingkat regonal maupun internasional. Namun kenyataannya, hanya diam dan kalaupun melawan secara diplomatis. Sementara itu, permasalahan ekonomi dalam bentuk kemiskinan dan pengangguran terus berjalan sehingga ketergantungan kepada bangsa lain yang lebih maju tetap besar.
Demikian halnya dengan penjajahan sosial budaya termasuk pendidikan. Dengan alasan globalisasi dan transparansi, berbagai sistem dan modelnya merasuki kehidupan bangsa (Chairil Anwar; 2000). Lama-kelamaan, bukan hal yang mustahil bangsa ini akan tercabut dari akar budayanya, dan otomatis nasionalisme mengalami degradasi dan kepudaran. Antisipasi untuk menghindari keadaan ini harus dipersiapkan dengan baik, dan menuntut peran optimal para pemuda Indonesia di dalamnya. Para pemimpin dan tokoh masyarakat lainnya juga harus proaktif, terutama dalam mengakomodasi gagasan-gagasan para pemuda yang brilian, yang bebas dari muatan-muatan politis maupun kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.
Kekhawatiran memudarnya nasionalisme, sebagai akibat persoalan internal dan dampak eksternal atau global tidak dapat dimungkiri. Bagi bangsa Indonesia yang berdaulat, nasionalisme adalah suatu tata pikir dan tata rasa yang meresapi mayoritas terbesar sesuatu rakyat dan menganggap dirinya meresapi semua anggota rakyat itu . Nasionalisme mengakui negara nasional sebagai bentuk ideal organisasi politik dan menganggap nasionalitas sebagai sumber bagi segala tenaga budaya yang kratif serta kesentosaan ekonomi (Wilson: 1978). Karena itu, kesetiaan tertinggi manusia harus ditujukan pada nasionalitasnya, sebab hidupnya itu sendiri disangka berakar di dalamnya dan dimungkinkan oleh kesejahteraannya (Hans Kohn, 1956:16).
Dalam pengejawantahannya, nasionalisme adalah suatu ide yang mengisi otak dan hati manusia dengan pikiran baru dan perasaan baru, serta mendorongnya untuk menerjemahkan kesadarannya ke dalam tindakan berupa aksi yang terorganisasi. Dengan demikian, nasionalitas bukan semata-mata suatu kelompok yang diikat dan dijiwai oleh kesadaran bersama, melainkan juga merupakan suatu kelompok yang ingin mengungkapkan dirinya ke dalam apa yang dianggapnya bentuk tertinggi berorganisasi, yaitu negara berdaulat.
Bagi kalangan kritikus, Nasionalisme Indonesia itu nasionalisme-kehilangan. Sebelum memiliki dan muncul ancaman terhadap hak miliknya, yakni tanah air, nasionalisme kuat. Namun, ketika tanah air ini aman-aman saja, nasionalisme mulai luntur, bahkan tidak diperlukan demi perwujudan demokrasi. Nasionalisme tidak membentuk demokrasi, kebebasan individu, dan persamaan baik. Apakah demokrasi mampu membentuk nasionalisme?
Di negara-negara otoriter-sosialis, demokrasi justru membentuk nasionalisme. Pecahnya Uni Soviet dan munculnya nasionalisme Taiwan adalah akibat demokrasi ini. Demokrasi melawan otoritarisme dan melepaskan diri dengan membentuk negara dan bangsa sendiri. Demokrasi menjadi dasar nasionalisme mereka (P Kennedy; 1993).
Sejarah nasionalisme Indonesia juga ingin melepaskan diri dari “otoritarisme kolonial”, tetapi tidak didasari oleh minat menegakkan demokrasi, semata demi kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa. Artinya, Sumpah Pemuda terpenting adalah tekad menyatukan yang berbangsa-bangsa menjadi satu bangsa dan menyatukan yang berbahasa-bahasa menjadi satu bahasa. Kesatuan tanah air dan kesatuan bahasa adalah proses sejarah yang tanpa Sumpah Pemuda sudah terwujud. Kesatuan tanah air akibat penjajahan Belanda, sedangkan kesatuan bahasa akibat lingua franca bahasa Melayu dan dalam komunikasi maritim di Nusantara. Karya besar Sumpah Pemuda terletak pada tekad membentuk suatu bangsa dari berbagai bangsa-bangsa di Indonesia yang ditengarai oleh berbagai-bagai bahasanya.
Nasionalisme dan demokrasi merupakan pasangan oposisioner. Tidak ada demokrasi tanpa nasionalisme. Pun tidak ada nasionalisme tanpa demokrasi. Namun, kenyataan di Indonesia, nasionalisme dan demokrasi konflik secara permanen. Kalau nasionalisme kuat, demokrasi surut. Kalau demokrasi menguat, nasionalisme meluntur. Gejala ini tampak menonjol setelah reformasi. Setelah masa tekanan panjang kekerasan nasionalisme selama Orde Baru, gerakan reformasi demokrasi bagai kuda liar lepas dari kandang. Eforia demokrasi membuahkan hasil dengan niat pemisahan diri dari negara kesatuan, seperti terjadi di Timor Timur, Papua, Aceh, RMS. Sektarianisme dirayakan dengan munculnya lebih dari seratus partai politik mirip gejala tahun 1950-an, demokrasi liberal.
Potret nasionalisme versus demokrasi terwujud dalam ekspresi seni. Di zaman kolonial dan revolusi, karya seni sastra, rupa, film, dan musik penuh pujaan tanah air dan heroisme. Namun, mulai demokrasi liberal tokoh-tokoh heroik tanah air lenyap, diganti kritik pedas pemerintahan dan manusia-manusianya. Nasionalisme dan pahlawan tenggelam di bawah caci maki satu sama lain. Perang kebenaran lebih penting dari sekadar kebangsaan.
Degradasi nasionalisme memungkinkan runtuhnya NKRI di masa depan apabila antisipasinya tidak rasional, sistematis, dan empiris. Oleh karena itu, seluruh elemen yang ada dalam NKRI perlu secara sungguh-sungguh menangani gejala ini agar bangsa dan negara ini tetap eksis sepanjang masa ( Amin Rais; 2003).
Sejarah menunjukkan, NKRI lahir bukan karena belas kasihan orang lain. Akan tetapi, sebagai perwujudan cita-cita ideal (idealisme) dan patriotisme, yang kemudian melahirkan nasionalisme. Dalam suasana yang penuh tantangan seperti sekarang, diperlukan usaha-usaha yang sistematis dan terorganisasi dengan baik, yang meliputi penumbuhan dan penguatan bidang (1) spiritual, (2) intelektual, (3) fisik dan disiplin, (4) sarana dan prasarana, serta (5) gotong royong. Tujuannya adalah untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam wadah NKRI dengan mengoptimalkan potensi beserta pemberdayaannya.

III. REAL JOINT ACTION SEBAGAI UPAYA TANGGUNG JAWAB GERAKAN PEMUDA
Menilik dari problem bangsa yang kian hari kian mengkhatirkan, maka perlu kiranya disusun grand startegi pemuda Indonesia yang lebih praksis dan bersifat real. Hal ini perlu dilakukan guna menangkis stigma negatif yang melekat di dalam diri pemuda beberapa waktu terakhir.
Langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan pemuda untuk menjaga NKRI adalah pertama, merekatkan kembali kohesi nasional, yaitu dengan memperkukuh persatuan dan kesatuan yang tidak bisa dilakukan secara parsial, dan harus melibatkan semua komponen bangsa.
Langkah ini bisa dilakukan dengan menghimpun generasi muda dalam kegiatan nyata yang jauh dari kepentingan golongan, untuk lebih praktis bisa dilakukan simposium dan sarasehan pemuda yang diisi dengan kegiatan-kegiatan sosial budaya, media yang paling efektif untuk membangkitkan persatuan dan kesatuan pemuda adalah seni budaya, yang berlandaskan pada nilai-nilai budaya bangsa, karena itu perlu di rumuskan jenis dan bentuknya.
Kedua, melakukan reorientasi dan revitalisasi wawasan kebangsaan, persatuan dan kesatuan bangsa, serta integrasi nasional. Perlu di sadari, terjadinya berbagai stagnasi dan distorsi dalam kehidupan kebangsaan ini menuntut peran pemuda dengan serius untuk kritis dan selektif terhadap berbagai aliran politik yang masuk. Terlebih saat ini politik partai politik dan politik aliran sudah mulai merambah masuk dengan derasnya kesetiap pelosok tanah air, sehingga hal ini memungkinkan terjadinya pergesekan kepentingan antar kelompok dan golongan. Menurut penulis, pemuda Indonesia harus mengambil peran yang strategis dalam menghadapi gelombang politik ini. Namun, harus diingat bahwa peran yang dimainkan pemuda bukan dalam artian parsial dikotomis, melainkan peran yang konstruktif dan holistik.
Aksi-aksi yang lebih detail dapat penulis kemukakan secara garis besar sebagai berikut :
1. Mengadakan kajian dan memberi solusi pemikiran terhadap berbagai isu aktual dan kebijakan pemerintah yang menyangkut kehidupan rakyat banyak.
2. Membangun silaturahim yang berkelanjutan antara Pemuda dengan intitusi legislatif, eksekutif, yudikatif, ormas dan LSM sebagai upaya menyamakan visi, misi mengawal reformasi pembangunan di segala bidang.
3. Mensinergikan seluruh potensi Pemuda seperti politisi, birokrat, pengusaha dan intelektual untuk mengemban misi pencerahan bangsa.
4. Membentuk posko-posko gerakan anti korupsi dan penyalahgunaan jabatan (abuse of power) dalam rangka menciptakan pemerintahan yang bersih (good governance).
5. Meningkatkan kepekaan Pemuda terhadap persoalan-persoalan pembangunan dan politik lokal, dalam rangka melakukan social control sekaligus sebagai social support terhadap seluruh proses pembangunan nasional di segala bidang.
6. Membangun kekuatan Pemuda yang berperan sebagai tenda besar bagi pemuda Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya dalam rangka mengemban misi keummatan
7. Membentuk dan mengembangkan simpul-simpul aksi kepedulian terhadap berbagai persoalan umat menuju kearah kesejahteraan bersama.
8. Menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga dalam rangka meningkatkan kualitas Pemuda, baik dalam bidang IPTEK maupun politik, birokrasi, pengusaha dan intelektual.
9. Proaktif membangun dan mengembangkan solidaritas umat dan manusia terhadap berbagai persoalan regional dan nasional yang menyangkut ketidakadilan, HAM dan kemanusiaan atau SARA.

IV. PENUTUP
Demikianlah makalah singkat ini disusun sebagai pembuka diskursus dikalangan pemuda dan diharapkan melalui tulisan ini akan dapat dirumuskan grand strategi gerakan pemuda yang akan datang. Sesungguhnya dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, karena itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR RUJUKAN

Jack New Field, Youth Movement, Oxford University Press, 1971

Arief Fauzi Marzuki, Quo Vadis Pemuda Menjaga NKRI, Kolom Wacana Pikiran Rakyat, Jumat, 26 Oktober 2007

P Kennedy, Preparing for the Twenty First Century, Random House: 1993, New York

E.O Wilson, On Human Nature, Bantam Books: 1978 New York

Chairil Anwar, Islam dan Tantangnan Kemanusiaan Abad 21, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2000

Amin Rais, Tauhid Sosial; Formula Menggempur Kesenjangan, bandung: Mizan, 2003

5 comments on “Kesadaran Bela Negara Pemuda; Memperkokoh Nasionalisme Dan Mempertegas gerakan Pemuda Indonesia

  1. molekum….!
    Gmana menurut anda, peran pemuda dalam pembanguna regional saat ini.
    Jika dilihat dari realita saat ini, pemuda tidak lagi sebagai agen perubahan, melainkan sebagian pemuda dijadikan sebagai jembatan perubahan untuk segelintir orang2 tertentu…..!!!

  2. Asslammualaikum…’
    Peran pemuda sangat penting….
    Saya sbgai mahasiswi sangat menyayangkan…
    banyak pemuda yang kurang kesadaran…
    Padahal generasi pemuda adalah generasi penerus bangsa!!!!!

  3. apa yang terdapat makalah itu tidak salah, tetapi ada yang belum di sampaikan tentang PANCASILA sebagai Falsafah Bangsa. Jika kita harus mempertahan kan bangsa Indonesia dari kehancuran, yaitu dengan menjalankan PANCASILA dan UUD 1945 yang asli bukan yang Amandemen hasil rekayasa pada tahun 2004. karena apa? karena UUD 45 adalah Moral Bangsa, oleh karena itu, Moral Bangsa lah yang terlebih dahulu dikembalikan kepada REL yang semula. dan kalau kita ingin melihat lebih jauh lagi, Penjalanan Demokrasi Telah Menghancurkan Kehidupan Berbangsa dan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s