RSS

Arsip Tag: Kajian

Menakar Wajah Politik Melalui Iklan

Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum
Menakar Wajah Politik Melalui Iklan
Kategori: Buku
Penulis: Budi Setyono
Penerbit: AdGoal.com / Galang Press / Buku Kita (2008, xvii+391 hal.)

Perkembangan dunia ekonomi yang merasuki segala lini kehidupan memaksa para pelaku di segala bidang untuk mengikuti kaedah yang berlaku dalam hitung-hitungan logika bisnis, tak terkecuali dunia politik.
Persaingan antar pelaku politik yang banyak bermunculan di era reformasi membuat para penggiatnya harus berpikir dua kali lebih keras untuk menawarkan partainya kepada calon pemilih. Alih-alih menjalankan fungsinya dalam pendidikan politik mereka banyak yang terjebak dalam logika bisnis, hal ini terlihat dalam iklan-iklan menjelang pemilihan umum (pemilu). Hal tersebut yang mendasari disusunnya buku Iklan dan Politik ini. Sang penulis Budi Setyono telah berhasil membuat dokumentasi materi kampanye selama masa kampanye Pemilu 1999 dan 2004. Ia juga banyak membuat analisa mendalam dari perspektif dunia periklanan yang digelutinya selama ini.
Selepas era kediktatoran Orde Baru, eforia reformasi melahirkan peserta Pemilu 1999 sebanyak 48 partai politik. Berakhirnya kekuasaan yang kerap memanipulasi hasil penghitungan suara memberikan kesempatan yang sama bagi semua kontestan yang bersaing. Tak heran jika pada masa itu partai-partai politik menggandeng biro-biro iklan untuk memasarkan partainya, misalnya PDI-P dengan Adwork! EURO RSCG, PKB dengan Sudarto & Nuradi PR, PAN dengan Fortune PR, dan lain sebagainya. Namun Pemilu 1999 tersebut juga jadi ajang pertama bagi perusahaan iklan untuk menikmati kue pemilu dan menguji coba strategi pemasaran politiknya.

Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Agustus 2008 in Politik

 

Tag:

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah: Upaya Mempersiapkan Pemimpin Bangsa Di Era Reformasi

Refleksi Gerakan Mahasiswa
Hampir sebahagian besar orang berpendapat bahwa mahasiswa selalu menjadi ”Bintang lapangan” dalam setiap pergolakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tentunya tidak bisa melupakan peranan mahasiswa pada momen-momen penting perjalanan dan dinamika bangsa Indonsia, seperti yang terjadi pada tahun 1966 dan 1998. Dengan kata lain, rasanya sulit kita akan bisa menikmati alam reformasi dan iklim demokrasi tanpa keterlibatan mahasiswa.
Jack New Field (1971) menyebut mahasiswa sebagai komunitas kecil yang memiliki kekuatan untuk merubah sejarah, karena perubahan sejarah selalu dimulai dari kelompok kecil. Mereka bisa dikatagorikan sebagai kekuatan minority profetic yaitu kekuatan kecil yang bertindak seperti seorang ”nabi” untuk merubah kondisi sosial kemasyarakatan. Sejumlah prediket melekat dalam setiap diri mahasiswa, agent of social change, social control dan moral force. Namun kita pantas mempertanyakan secara kritis, kemana arah gerakan mahasiswa pasca 1998 dan sampai sejauh mana komitmen serta kontribusinya untuk menciptakan kepemimpinan nasional yang kredibel, profesional, akuntabel dan mempunyai integritas etika dan moral.
Fenomena penting yang perlu dicatat pada gerakan mahasiswa era 2000-an adalah munculnya pluralisme visi, orientasi, ideologi dan mekanisme perjuangan mahasiswa yang menyebabkan terjadinya polarisasi gerakan. Meskipun demikian satu hal penting yang harus di fahami bersama, bahwa esensi dari gerakan mahasiswa adalah suatu gerakan yang bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, bukan mencari kedudukan atau kepuasan-kepuasan yang bersifat pragmatis dan sesaat.
Refleksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ada dua faktor yang melatar belakangi berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, yaitu gffaktor interen dan faktor eksteren. Faktor interen yang dimaksud adalah faktor yang melatarbelakangi dari dalam organisasi Muhammadiyah itu sendiri. Faktor ini lebih dominan, sebab faktor ini merupakan kelanjutan dari arah gerakan Muhammadiyah untuk mengembangkan ideologi, paham dan cita-cita Muhammadiyah. Artinya Muhammadiyah berkepentingan akan hadirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, sebab mau tidak mau Muhammadiyah akan bersinggungan dengan Mahasiswa dalam mencapai maksud dan tujuannya. Dengan demikian, akan menjadi naif bila Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di nafikan keberadaannya dalam berbagai bentuk.
Awal mulanya ide pembentukan IMM lahir pada saaat muktamar ke 25 Muhammadiyah di Jakarta pada tahun 1963. pada akhirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah resmi didirikan pada tanggal 14 Maret 1964 bertepatan dengan tanggal 29 Syawa 1384. persemian berdirinya IMM resepsinya diadakan digedung Dinoto Yogyakarta dengan ditandatangiani ”Lima Penegasan IMM” Oleh KH Ahmad Badawi, yang berbunyi:
1. IMM adakah gerakan Mahasiswa Islam
2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
3. fungsi IMM adalah organisasi Mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah negara.
4. Ilmu adalah amaliah dan ama adalah ilmiah
5. amal IMM adalah lillahi ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepetingan rakyat.
Faktor kedua yang melatarbelakangi berdirinya IMM adalah faktor eksteren yang ketika itu situasi dan kondisi kehidupan umat dan bangsa serta dinamika gerakan organisasi-organisasi mahasiswa banyak dipenuhi dengan tradisi-tradisi, paham dan keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu kehidupan berbangsa dan bernegara terancam dengan hadirnya Partai Komunis Indonesia (PKI), keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, dan konflik antar golongan dan politik.
Fungsi IMM sebagai organisasi adalah sebagai organisasi kader, organisasi dakwah dan organisasi eksponen Mahasiswa Isalm dalam Muhammadiyah.
IMM dan Demokratisasi Politik
Mahasiswa merupakan sumber daya utama untuk menjadi pemimpin dimasa yang akan datang, untuk itu sejak dini harus mempersiapkan dan menyongsong masa depan. Selain itu IMM dalam kontek kebangsaan hari ini, bisa menjadi pemimpin dalam arti yang lebih luas, yaitu menjadi wasit dalam permainan kehidupan berbangsa dan bernegara. Wasit yang dimaksud adalah sebagai pengarah, pemandu dan pemerhati permainan berbangsa dan bernegara. Artinya IMM tidak boleh melakukan keberpihakan pada satu golongan yang melakukan kesalahan. Last but not least, IMM harus siap menjadi pemimpin yang adil, tidak berpihak kecuali kepada aturan main yang menjadi kesepakatan sehingga dengan sikap ini insya Allah akan terwujud sebuah pentas politik yang sportif, atraktif dan berprestasi.
Akhirnya untuk membangun kader IMM yang paripurna, perlu kiranya dilakukan berbagai kajian yang kritis, inovatif dan progressif untuk kemudian bisa di darmabaktikan demi kemajuan bangsa Indonesia yang tercinta.
Billahifisabilil Haq Fastabiqul Khairat

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Mei 2008 in Nasionalisme Pemuda

 

Tag:

Kritik Orinetalis Terhadap Hadits

ABSTRAK

Kritik terhadap hadits datang dari dua arah yang berlainan, arah pertama datang dari dalam Islam dan yang kedua dari luar Islam. Kelompok yang pertama bertujuan untuk mencari kebenaran esensial suatu hadits. Artinya untuk menguji kebenaran suatu hadits, apakah ia sungguh-sungguh datang dari Rasulullah Saw, atau bukan. Sedangkan yang datang dari luar Islam jelas tujuannya untuk menggugat eksistensi hadits sebagai sumber hukum dan ajaran Islam. Kritikus pada kelompok ini di sebut dengan Orientalis yang berarti orang yang ahli dalam masalah-masalah keTimuran, yang meliputi berbagai segi kehidupan seperti bahasa, budaya, peradaban, seni dan agama, serta adat isitiadat. Sedangkan orangnya disebut al-Musytasriq.
Para oritentalis beranggapan bahwa hadits yang telah dikodifikasikan dalam kitab-kitab hadits tidak asli dari Rasulullah, karena sanadnya tidak benar, para perawi dipandang palsu karena dibuat kemudian. Selain itu, para orientalis juga telah melontarkan kritik mereka terhadap matan hadits.
Kritik yang dilontarkan para orientalis, pada intinya menggugat keberadaan hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam. Kritik-kritik yang mereka lontarkan pada akhirnya bertujuan agar hadits tidak lagi dapat dipakai atau digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan umat Islam dengan tidak dapatnya hadits digunakan sebagai pedoman kedua itu, secara otomatis ajaran-ajaran yang dikandung al-Quran tidak dapat ditegakkan, mereka sangat mengetahui hal itu dan itulah strategi mereka.

A. Pendahuluan
Kritik terhadap hadits tidak hanya datang dari dalam Islam tetpai juga dari luar Islam. Kritik yang datang dari dalam Islam pada umumnya bertujuan untuk mencari kebenaran esensial suatu hadits. Artinya untuk menguji kebenaran suatu hadits, apakah ia sungguh-sungguh datang dari Rasulullah Saw, atau bukan. Sedangkan yang datang dari luar Islam jelas tujuannya untuk menggugat eksistensi hadits sebagai sumber hukum dan ajaran Islam.
Tidaklah mengherankan dan tidak perlu dirisaukan jika pihak-pihak diluar Islam berusaha melancarkan berbagai serangan terhadap Islam dan umatnya dengan berbagai cara mereka berusaha merusak, menodai bahkan menghancurkan Islam dan umat Islam baik fisik maupun ideologi. Ketika mereka tidak mampu memusuhi Islam secara terang-ternagn, mereka mneyerang ideology Islam secara tidak langsung yaitu dengan cara menanamkan keraguan ke dalam diri umat Islam. Di antara upaya itu adalah menyerang salah satu sumber ajaran Islam, yaitu sunnah atau hadits nabi SAW. Mereka tahu persis bahwa jika hadits atau sunnah disingkirkan dari umat Islam dengan sendirinya ajaran Islam tidak akan dapat ditegakan karena tidak mungkin menjalankan ajaran Islam tanpa kehadiran Hadits, usaha-usaha seperti itu akan selalu ada selama umat Islam itu masih berpegang teguh pada ajaran agamanya. Hal ini telah disinyalir Allah dalam Al-Quran surat al-Baqarah ayat 120.
Dalam tulisan ini akan diketengahkan berbagai kritikan tehadap hadits sebagai sumber kedua setelah al-Quran. Kritikan yang dimaksud bisa saja datang dari Barat atau Timur, namun yang menjadi titik tumpu dari pembahasan di sini adalah kritikan yang datang dari sebahagian tokoh ahli keTimuran atau yang lebih dikenal dengan istilah orientalis.

B. Pengertian Orientalis
Kata Oerintalis merupakan kata bentukan dari kata Orient (kata benda) oriental (kata sifat) dan orientalis (inggris). Kata oriental dari bahasa Prancis, yaitu orient yang secara etimologis berarti Timur. Orient secara geografis berarti dunia belahan Timur. Oriental hal-hal yang bersifat Timur atau keTimuran. Sedangkan orientalis berarti orang yang ahli dalam maslaah-masalah keTimuran.
Amin Rais mengemukakan bahwa orientalis adalah sarjana yang menguasai masalah-masalah keTimuran dalam hal kesusasteraan dan sebagainya. Dalam literature arab, irtilah itu dikenal dengan al-Istisyraq yang secara umum berarti suatu kajian tentang kehidupan masyarakat di dunia Timur yang meliputi berbagai segi kehidupan seperti bahasa, budaya, peradaban, seni dan agama, serta adat isitiadat. Sedangkan orangnya disebut al-Musytasriq.
Ismail yakub mengartikan orientalis sebagai orang yang ahli tentang soal-soal Timur, terutama negeri-negeri arab dan Islam, dalam hal kebudayaan, organisasi, peradaban, kehidupan dan sebagainya. Mahmud Hamdi Zaqauq mengartikan orientalis secara umum, yaitu semua ahli Barat yang mempelajari dunia Timur sedangkan khusus yang dimaksud Timur yaitu yang beragama Islam. Yang dipelajari itu berkenaan dengan bahasa, sastra, sejarah, i’tiqad, syariat, dan peradaban.
Secara sederhana dapat dipahami bahwa orietnalis adalah sebutan bagi orang atau orang-orang barat yang mengetahui banyak hal tentang Islam. Namun pengertian yang ditonjolkan disiniadalah bahwa mereka berusaha mencari-cari kelemahan Islam dengan maksud menggoyahkan sendi-sendi kehidupan umat. Dalam hal ini upaya mereka ditujukan terhadap hadits Rasulullah sebagai sumber kedua ajaran Islam.
Sebagai mana dikemukakan Ajaj al-Khatib, dikalangan orientalis telah mengakar atau telah terbentuk suatu opini bahwa sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang agama, politik, dan adat selama kurun waktu dua abad pertama, hadits bukanlah merupakan dokumen Islam pada masa kejayaannya. Menurut Ali Hasan Abdul Qadir pendapat ini adalah pendapat dari Goldziher dalam bukunya Dirasat Isalmiyah.
Lebih lanjut Goldziher dalam bukunya al-Aqidah wa Al-Syari’ah fi al-Islam mengatakan bahwa ia tidak dapat menisbahkan hadits-hadits palsu itu hanya kepada generasi-generasi belakangan yaitu generasi sesudah sahabat dan tabi’in, karena pada masa-masa sebelumnya hadits-hadits palsu sudah muncul. Boleh jadi suatu hadits benar merupakan ucapan Rasulullah atau praktek kehidupan saha dan tabi’in, akan tetapi dengan rentang waktu yang lama dan tempat yang berjauhan dengan sumber aslinya maka sangat sulit untuk memperoleh kejelasan dan untuk ditelusuri, juga karena para tokoh memilki berbagai disiplin ilu, baik yang bersifat teoritis maupun praktis telah membuat-buat hadits yang kelihatan asli. Sehingga tidak ditemukan aliran baik dibidang Ibadah, akidah, kaidah-kaidah fiqh ataupun norma-normapolitik yang tidka mengokohkan pendapatnya dengan hadits-hadits.
Oleh karena itu para ulama membangun suatu sub disiplin ilmu tersendiri. Dengan ilmu itu merkea dapat membedakan mana hadits yang shahih dan mana hadits yang tidak shahih ketika melakukan kompromi terhadap pendapat-pendapat kontradikitf.
Halsi kritik hadits yang dilakukan para ulama antara lain adalah pengakuan meraka terhadap enam kitab hadits sebagai induk. Dalam kitab-kitab tersebut para ulama abad ketiga hijriah menghimpun hadits –hadits tercecer yang mereka nilai sebagai hadtis-hadits shahih.
Pendapat-pendapat Goldziher itu menurut Ajaj al-Khatib dapat disuimpulkan kepada lima point berikut :
1. Bahwa sebahagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan Sosial
2. Bahwa para sahabat dan tabi’in berperan dalam pemalsuan hadits
3. Bahwa rentang waktu dan jarak yang jauh dari masa Rasulullah Saw. Membuka peluang bagi para tokoh berbagai aliran untuk membuat hadits dengan tujuan memperkuat aliran mereka, bahkan tidak satupun aliran yang tidak memperkuat pendapat mereka dengan hadtis-hadits yang tampaknya asli dalam bidang akidah fiqh dan politik.
4. bahwa sudut pandang para kritikus dikalangan Islam berbeda dengan sudut pandang para kritikus non muslim yang tidak menerima banyak hadits yang diakui kebenarannya oleh umat Islam.
5. bahwa ia menggambarkan enam kitab hadits yang disusun para ulama sebagai himpunan dari hadits-hadits yang tercecer yang oleh para penghimpunnya dinilai sebagai hadits-hadits shahih.
Gostown Wite mengemukakan pendpat yang mendukung pendapat Goldziher di atas. Ia mengatkana bahwa para ulama telah mengkaji hadits secara cermat. Kajian mereka diarahkan kepada sanad hadits, yaitu tentang perawi hadits, pertemuan diantara mereka dan aktifitas mendengar sebahagian mereka dari sebahagian yang lain. Para perawi menukilkan hadits Rasulullah kepada kita secar verbal yang kemudian dihimpun dan dibukukan oleh para penghafal hadits. Namun mereka tidak melakukan kritik terhadap matan hadits. Oleh karena itu ia tidak yakin bahwa hadits itu sampai kepada kita pesesi sebagaimana diucapkan Rasulullah tanpa penambahan (perubahan) sedikitpun dari para perawi, misalnya yang anatic belakangi oleh niat baik, karena hadits dinukilkan secara verbal. Apabila pendapat ini benar, maka umat Islam terlanjur menerima dan meyakini hadits sebagai perkataan yang benar.
C. Kritik Terhadap Sanad
Para oritentalis beranggapan bahwa hadits yang telah dikodifikasikan dalam kitab-kitab hadits tidak asli dari Rasulullah, karena sanadnya tidak benar, para perawi dipandang palsu karena dibuat kemudian. Caetani berpendapat bahwa urwah (w. 91 H) adalah orang yang menghimpun hadits tetapi tidak menggunakan sanad.
Begitupun pada masa pemerintahan Malik ibn Marwan (70-80 H) juga belum dikenal penggunaan sanad terhadap hadits. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa penggunaan sanad baru dikenal pada masa Urwah ibn Ishak (w. 151 H), dengan demikian sebahagian sanad-sanad yang terdapat dalam kitab hadits adalah bikinan ahli-ahli hadits abad kedua. Orietnalis lailn, Spranger juga berpendapat demikian. Katanya tulisan-tulisan yang dikirim Urwah kepada Malik ibn Marwan tidak menggunakan sanad. Oleh karena itu pendapat yang mengatakan bahwa Urwah menggunakan sanad adalah pendapat orang-orang belakangan.
Josep Schacht mengemukakan bahwa sanad merupakan bahagian dari tindakan sewenang-wenang terhadap hadits nabi. Hadits-hadits itu sndiri dikembangkan oleh kelompok-kelompok yang berbeda-beda yang berusaha mengkaitkan teori yang mereka rumuskan kepada tokoh-tokoh terdahulu. Sebagai contoh ia mengemukakan pengalamannya dalam meneliti hadits-hadits yang terdapat dalam kitab al-Muwatha’ Imam Malik dan al-Um Imam Al-Syafi’i. menurutnya dalam kitab-kitab tersebut tidak terdapat sanad, oleh karena itu ia mengatakan bahwa sanad baru ada pada masa belakangan.
D. Kritik Terhadap Matan
Para orientalis juga telah melontarkan kritik mereka terhadap matan hadits. Ignas Goldziher musalnya, menyatakan bahwa hadtis yang diriwayatkan al-Bukhari yang berasal dari al-Zuhri yang berbunyi “tidak diperintahkan pergi kecuali tiga Masjid, Masjid al-Haram di Makkah, Masjid al-Nabawi di Madinah, dan Masjid al-Aqsa di Palestina” adalah bertendensi politik. Katanya, Abndul ibn Zuber yang sedang berkuasa di Makkah akan mengambil kesempatan untuk membaiat orang-orang Syan yang pergi Haji agar setia kepadanya. Oleh kaena itu Abdul Malik ibn Marwan berusaha agar orang-orang Syam tidak pergi Haji ke Makkah tapi cukup di Qubbah al-Shakhra di al-Quds (Yerussalem Palestina). Untuk itu ia menugaskan al-Zuhri untuk membuat hadits yang sanadnya bersambung kepada Nabi.
E. Bantahan Terhadap Kritik Orientalis
Terhadap kritik atau tuduhan-tuduhan Ignas Goldziher sebagaimana yang tersebut di atas dapat diajukan bantahan atau sanggahana sebagaimana yang dikemukakan oleh Ajaj al-Khatib berikut ini:
1. Bahwa sebagian besar hadits merupakan produk perkembangan Islam di bidang politik dan sosial sepanjang dua abad pertama adalah tidak benar. Karena sejak masa sahabat (abad pertama) umat Islam telah melakukan penyelidikan terhadap hadits-hadits dan “memburu” para pendusta dan pemalsu hadits. Mereka mengetahui mana hadits yang sahih dan mana yang palsu.
Selanjutnya beliau mengatakan bahwa al-Quran mengajarkan prinsip-prinsip yang universal yang sesuai dengan segala tempat dan waktu. Ia tidak mengajarkan cara-cara pelaksanaan yang berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Allah memberikan kebebasan kepada para penguasa untuk berkreasi tentang pelaksanaannya di bawah anati dan al-hadits. Oleh karena itu mereka tidak perlu membuat-buat hadits untuk melegitimasi tindakan mereka. Prinsip-prinsip universal tersbeut sudah cukup bagi mereka dalam menjalankan segala urusan mereka.
2. Bahwa umat islam terdahulu (sahabat dan tabi’in) berperan dalam pemalusan hadits, itu tidak benar, karena para sahabat dan tabi’in itu sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Mereka sangat takut terhadap ancaman Rasulullah yang menyatakan bahwa “barang siapa yang mendustakan ajaranku maka hendaklah ia menempati tempat duduk di neraka”. Oleh karena itu mereka memilih sedikit meriwayatkan hadtis bahkan ada yang tidak meriwayatkan satu haditspun.
3. Bahwa adanya kemungkiann pihak-pihak tertnu membuat-buat hadits guna menopang pendapat merkea, itu bisa-bisa saja. Akan tetapi tidaklah berarti bahwa tokoh-tokoh aliran fiqh, teologi, dan politik telah membuat-buta hadits. Hal itu tidak lebih dari butruk sangkanya Goldziher terhadap tokoh aliran-aliran tersebut. barangkali yang tidak dipahaminya adalah bahwa perbedaan pendapat diantara para sahabat dan ulama fiqh dilatar belakangi oleh banyak faktor, bukan karena kehendak hawa nafsu atau sikap fanatik. Mereka berhukum dengan hadits-hadits yang sampai kepada mereka, dan mereka berbeda dalam memberikan penilaian. Sebahagian menilanya dapat dijaidkan dalil (hujjah) dan yang lain menilai tidak, atau boleh jadi hadits-hadtis itu dipegang sebagai dalil oleh semua mereka namun hasil istinbat mereka tidak sama.
Oleh karena itu tidak logis kalau dikatakan mereka telah membuat-buat hadits atau mendustakan Rasulullah untuk mendukung pendapat-pendapat mereka. Mereka semua sepakat untuk mengikuti sunnah atau hadits Rasulullah.
4. Bahwa perbedaan sudut pandang antara kritikus muslim dnegan kritikus non muslim sangat berbeda. Kritikus muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan kaidah-kaidah dan prinsip yang telah dirumuskan dengan baik, dalam rangka mencari dan meneliti keshahihan suatu hadits guna memelihara kemurnian ajaran yang dibwah oleh Muahmmad yang di imani sebagai Rasulullah. Sedangkan kritikus non muslim melakukan kritik terhadap hadits dengan motivasi mencari-cari titik lemah dari sumber ajaran Islam kedua ini. Sasaran akhirnya tidak lain agar syari’at Islam itu tidak bisa ditegakkan.
Dengan titik tolak yang berbeda, tujuan yang berbeda jelas akan mengahasilkan hal yang berbeda pula. Hal itu sekali-kali tidaklah akan merugikan kita sepanjang metode serta kaidah-kaidah yang digunakan itu dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Namun mereka-mereka yang mau bersikap objektif selalu akan menerima dan mengakuinya.
5. Bahwa keenam kitab hadits yang disusun oleh para ulama itu merupakan kumpulan dari hadits-hadits yang tercecer. Pendapat itu tidak bisa diterima, karena dengan begitu berarti tidak menghargai jerih payah para ulama dalam memelihara hadits selama abad pertama dan kedua. Hadits tidak pernah tercecer karena sebahagian besarnya telah dipraktek umat Islam. Hadits-hadits itu hidup dalam praktek sehari-hari. Dan hal itu tidak terbatas hanya dalam masa sahabat dan tabi’in saja. Hadits-hadits telah tersebar keberbagai wilayah taklukan selama abad pertama dan kedua itu. Hadits-hadits itu berpindah dari suatu generasi ke generasi berikutnya dan terpelihara dalam hafalan para penghafalnya. Catatan-catatan mereka terkumpul dalam kitab-kitab himpunan hadtis dengan juz-juz serta bab-bab yang telah sistematis oleh para ulama pada abad pertengahan abad kedua. Hadits-hadits yang dapat dihimpun oleh Bukhari dan Muslim serta para penghimpun lainnya itu merupakan hasil sortiran dari beribu-ribu hadits yang tersimpan dalam hafalan-hafalan para penghafal hadits.
Terhadap pendapat Gostown Wite yang senada dengan itu, Ajaj al-Khatib telah mengajukan bantahan, Wite dan yang seendapat dengannnya itu telah bersikat tidak obejktif terhadap jerih payah para ulama dalam memelihara hadits dan menbersihkan dari noda-noda. Kritik mereka terhadap matan tidak kurang nilainya dengna kritik terhadap sanad, mereka telah menyusun kaidah-kaidah untuk membedakan hadits-hadits palsu dari hadits-hadits shahih. Memang disadari bahwa kritik terhadap sanad lebih banyak dilakukan ulama hadits mengingat illat yang terdapat dalam sanad jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang terjadi pada matan.
Bahwa perawi dengan didasari oleh niat baik telah menambah-nambah hadits sehingga Wite tidak yakin hadits-hadits itu sampai kepada kita persis sebagaimana disampaikan Rasulullah, itu tidak bisa diterima. Sebab pra ulama telah melakukan kajian terhadap penambahan-penambahan dalam suatu hadtis yang mereka sebut dengan istilah al-Mudraj yang biasanya terdapat pada matan. Penambahan-penambahan oleh para perawi itu sebagian besarnya berasal dari penjelasan para guru mereka, mereka mengira bahwa penjelasan-penjelasan itu termasuk bahagian dari hadits. Menurut para ulama penambahan-penambahan itu jika tidak disengaja maka mereka tidak akan berdosa, namun jika penambahan itu banyak maka hal itu mengakibatkan adanya penilaian cacat terhadap perawi itu.
Terhadap pendapat Joseph Schaht yang menyatakan bahwa sanad adalah bikinan orang belakangan karena tidak terdapat dalam kitab-kitab seperti al-Muwatha’ dan al-Um, Muhammad Musthafa ‘Azami memberikan bantahan bahwa apa yang dilakuakn oleh Schaht jelas tidak relevan karena yang diteliti adalah kitab-kitab fiqh. Kitab-kitab fiqh tidak cocok untuk dijadikan rujukan penelitian hadits, karena kebanyakan kitab-kitab fiqh itu tidak menuliskan sanadnya, tujuannya adalah untuk mempersingkat uraian dalam kitab-kitab tersebut, bahkan ada yang tidak menyebutkan sanad sama sekali, langsung menyebutkan hadits dari sumber yang pertama.
F. Penutup
Dari uraian di atas penulis berkesimpulan bahwa apapun dan dari sudut manapun kritik yang dilontarkan para orientalis, pada intinya menggugat keberadaan hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam. Kritik-kritik yang mereka lontarkan pada akhirnya bertujuan agar hadits tidak lagi dapat dipakai atau digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan umat Islam dengan tidak dapatnya hadits digunakan sebagai pedoman kedua itu, secara otomatis ajaran-ajaran yang dikandung al-Quran tidak dapat ditegakkan, mereka sangat mengetahui hal itu dan itulah strategi mereka.

Daftar Bacaan

Muhammad Ibn Muhammad Abu Syahbah, Difa’an al-Sunnah, (Kairo: maktabah al-Sunnah, 1989)., h. 7-12

Ibid

Joesoef Soe’ib, Orientalisme dan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990)., h. 1

Amin Rais, Cakrawala Islam, (Bandung : Mizan, 1999)., h. 234

Muhammad Luqman al-Salafi, Ihtimam al-Muhaditsin wa al-Naqd al-Hadits, (Riyadh: Maktabah an-Nahdah, 1987)., h. 420

Ibid

Mahmud Hamdi Zaqzuq, Orientalisme dan Latar Belakang Pemikirannya.. ALih bahasa Luthfi Abdullah Ismail, (Banhil: Al-Muslimun, 1984)., h. 4

M. Ajaj al-Khatib, Al-Sunnah Qobal al-Tadwin, alih bahasa, A.H. Akrom Fahmi, Hadits Sebelum di bukukan, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999)., 301

Muhammad Musthafa al-Azami, Manhaj al-Naqd ‘ind al-Muhadtsin: Nasy’atuhu wa Tarikhuhu, (Riyadh: maktabah al-Kautsar, 1990)., h. 532

Ibid., h. 533

Aji Mustafa Ya’qub, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadits, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1990)., h. 27

Ajaj Al-Khatib, op.cit., h. 301-304

Ibid., h. 306-307

Asymuni Abdur Rahman, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadits, (Yogyakarta: Putra 1996)., h. 30

Ajaj Al-Khatib, op.cit

Azami, op.cit ., h. 546

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Mei 2008 in Studi Islam

 

Tag:

Komoditi dan Konsumsi Benda Najis: Analisa Terhadap Solusi Islam

I. Pendahuluan

Seiring dengan tingkat kemajuan dan meningkatkan kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu, maka banyak pula usaha yang dilakukan oleh manusia dengan kemampuan yang dimiliki untuk menggali segala yang diciptakan Allah melalui penelitian, pengkajian dan lain-lain, sehingga hasilnya nanti dapat membantu manusia memecahkan persoalan hdup yang terus berkembang dalam segala aspek kehidupan.

Di antara berbagai macam persoalan yang seringkali menimpa manusia adalah persoalan kesehatan, makanan dan keuangan. Secara alami manusia selalu mencari cara agar dapat bertahan guna memenuhi kebutuhan tersebut, namun persoalanya adalah sejauh mana cara yang dilakukan manusia tersebut berguna dan bermanfaat bagi dirinya tanpa harus melakukan dan mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman dan kompleksnya persoalan hidup, akhirnya manusia berhadapan dengan jalan dimana mereka harus menentukan pilihan hidup. kemudian, manusia dituntut untuk mengambil sikap, jalan mana yang harus ditempuh.

Barkaitan dengan kompleksitas persoalan manusia tersebut, salah satu hal yang kemudian muncul dewasa ini adalah penggunaan benda-benda najis sebagai salah satu sarana bagi mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan solusi dari kompleksitas persoalan yang dihadapi. Najis, merupakan benda yang diharamkan oleh Allah SWT, sebab benda najis adalah Sesuatu yang kotor yang wajib dibersihkan dan dicuci bila mengenai benda yang suci. Pada tulisan ini akan dikemukakan beberapa kajian terhadap persoalan tersebut.

II. Manfaat dan Mudharat

Hukum dari segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt dimuka bumi ini pada awalnya adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram kecuali karena ada nash yang sah dan tegas dari syar’I (yang membuat hukum itu sendiri) dalam hal ini adalah Allah Swt dan Rasul-Nya yang sah, misalnya karena ada sebagian hadits itu lemah atau tidak ada nash yang tegas (sharih) yang menunjukkan sesuatu itu haram, maka hukumnya tetap sebagaimana awalnya yaitu mubah. Tugas para ahli fiqh adalah tidak lebih hanya menerangkan hukum-hukum Allah Swt tentang halal dan haram, hal ini ditegaskan oleh Allah Swt;

“Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas” (Al-Anam: 119)

Beberapa hal yang diharamkan oleh Allah Swt telah dijelaskan oleh Bahar Azwar seorang ahli kesehatan, ia membagi paling tidak ada sembilan jenis makanan (termasuk juga yang dimakan) yang memiliki mudharat lebih banyak dari pada manfaatnya sebagai berikut :

1. Babi

Babi dibandingkan semua jenis daging hewan yang ada, termasuk daging yang banyak mengandung bahan berbahaya bagi tubuh manusia. Diantara penyakit yang muncul karena memakan babi adalah sebagai berikut:

1. Penyakit hewan parasit. Diantaranya adalah berkembangnya cacing spiral, termasuk golongan cacing yang paling berbahaya bagi manusia. Semua daging babi pasti mengandung cacing ini. Biasanya cacing ini terkumpul di dalam otot-otot. Maka orang yang memakan daging babi, maka bisa menyebabkan sakit yang sangat, juga menyerang batas diafragma sehingga bisa menyebabkan nafas terhenti, kemudian mati. Dan cacing pita yang panjangnya bisa mencapai 10 kaki, bisa menyebabkan kejang-kejang perut dan darah rendah, juga bisa menyebabkan adanya cacing di otak orang yang memakan daging, hati, paru-paru, jerohan, dan lain-lainnya. Cacing Scars, bisa menyebabkan dis-fungsi paru-paru dan komplikasi saluran pencernaan. Cacing Engcalostoma, Balharesia, Dosentaria bisa menyebabkan leukimia, pendarahan, dan penyakit lainnya yang bisa menyebabkan kematian. Dan cacing jenis lainnya yang ada di dalam babi yang jumlahnya lebih dari 30 jenis dan bervariasi tingkat bahayanya.

2. Penyakit dari bakteri, seperti TB (Tuberculoses), Cholera Tivudiah, Pharatefouid, demam tinggi yang cepat, dan lain-lain;

3. Penyakit dari virus, seperti penyakit dis-fungsi syaraf, dis-fungsi otot jantung (qalbu), influenza, dis-fungsi mulut sapi, dan lain-lain;

4. Penyakit dari mikroba, seperti mikroba Tacsoplasma guwandi, yang bisa menyebabkan panas demam tinggi dan badan melemah, membesarnya hati dan limpa, dis-fungsi paru-paru, otot jantung, dis-fungsi syaraf yang terkait dengan pandangan dan penglihatan;

5. Penyakit-penyakit yang berkembang dari susunan biologis daging dan lemak babi., seperti penambahan persentase cairan bolic pada darah, karena daging babi tidak mengeluarkan cairanbolic kecuali 2%, dan sisanya menjadi seperti daging babi. Oleh karena itu, orang yang memakan daging babi, dikhawatirkan akan terjangkit penyakit nyeri persendian.

6. Ditambah lagi, babi mengandung minyak lecithin (minyak babi) yang sangat berbeda dengan hewan lainnya. Oleh karena itu, orang yang memakan daging babi mengandung lecithin jenis ini dan kelebihan kolesterol dalam darah mereka, sehingga menambah kemungkinan terkena penyakit kanker, jantung, pendarahan dada, yang semuanya bisa menyebabkan kematian secara mendadak

Kini diketahui betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. umat tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatarbelakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

2. Binatang buas

Selain itu, dilarang juga memakan binatang buas pemakan daging, seperti anjing, kucing, tikus, ular, buaya, burang yang bercakar, elang dan rajawali. Semua pemakan bangkai dan pembawa berbagai kuman pembusuk.

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor– atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 006:145)

Dalam Hadits Rasulullah dinyatakan yang artinya:

“ingatlah sesunguhnya dua mayat sedang disiksa, tapi bukan karena melakukan dosa besar. Salah satu dari mereka disiksa karena di dunia suka membuat fitnah dan yang seorang lagi di siksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya” (Ibnu Abbas Ra)

3. Urine

Pada saat ini berbagai toko buku dipenuhi oleh cara penggunaan urine atau kencing sendiri sebagai pengobatan yang dipakai dengan meminumnya atau mengolesnya. Perlu diingat bahwa urine berasal dari darang yang mengalir dan najis.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.(An-Nisa: 43)

4. Alkohol

Penyebab kecanduan alkohol belum diketahu selain berhubungan dengan mental dan pergaulan. Alkohol yang diminum akan segera diserap oleh usus bersama darah berjalan ke hati. Karena mengandung cukup kaori, tubuh kehilangan nafsu makan. Padahal alkohol tidak mengandung sari makanan lainya. Selain itu kelebihan kalori akan menumpukkan lemak di hati. Akhirnya, darah tidak bisa masuk dan hati mengerut seperti kayu. Penyakit ini disebut sirosis hepatitis yang merupakan penyebab kangker hati.

5. Narkotika

Narkotika dan psikotropika juga memabukkan karena menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, meniadakan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan. Golongan yang populer adalah ganja, morfin, heroin dan kokain. Ganja berasal dari tumbuhan cannabis sativa. Dikenal dengan berbagai nama. Dunia barat menyebutnya marijuna, grass, pot, tea, reefer,weed, dan marry jane; maroko menyebutnya kif; afrika selatan dengan dagga; sedangkan indonesia menyebutnya dengan ganja.

6. Ganja

Ganja mempengaruhi jantung dan syaraf. Dosis tendah menimbulkan perasaan sehat, tenang dan mengantuk. Dosis tinggi menimbulkan gangguan perasan, hilangnya ingatan dan hilangnya keseimbangan. Dengan dosis lebih tinggi, menimbulkan panik, halusinasi sampai kegilaan. Denyut jantung menjadi cepat, pembuluh darah di mata akan melebar sehingga mata menjadi kemeraha dan dada terasa sesak.

7. Heroin

Heroin adalah bentuk sintetis opium, kokain adalah suatu zat obat yang diperoleh dari daun coca. Dalam bentuk bubuk, kokain dihirup dan segera diserap oleh mukosa hidung. Ia diolah menjadi kristal untuk dihirup yang disebu crack. Kokain mempercepat denyut jantung, mengurangi lapar, dan memberikan perasaan sangat menyenangkan. Pengaruh ini bertahan selama 2 tahun dan dapat diulang kembali hingga menimbulkan kecanduan.

8. Ectassy

Ectassy adalah obat sitetis, campuran amphetamin dengan halusinogen yang bernama MDMA atau methylene dioxy methampet amine. Ia merangsang sistem saraf pusat sehingga denyut jantung bertambah seperti halnya tekanan darah. Gejala sampingan ectassy adalah capek dan tidak mengantuk hingga penggunanya mudah dikenal. Didiskotik mereka tahan berdangdut tiga hari tiga malam kadang-kadang melemparkan badannya ketengah rapatnya para pedansa.

9. Valium

Valium adalah merek dagang diazapam. Ia bekerja di otak tengah (Midbrain) yang memegang kendali atas emosi dan lapar. Dokter menggunakannya sebagai obat penenang ringan. Dosis yang berlebihan dan ikut sertanya alkohol akan mempertinggi pengaruhnya.

III. Jenis-Jenis Najis

Mengenai macam-macam najis para ulama fikih membagi najis pada dua bagian yaitu najis hakiki atau najis aini dan najis hukmi. Adapun najis hakiki adalah bahwa najis itu terletak pada benda itu sendiri, seperti bangkai. Sedangkan najis hukmi adalah keadaan seseorang yang dianggap bernajis seperti seorang wanita yang sudah bersih dari haid tetapi belum mandi wajib (menurut ulama syafiiyah). Meskipun ulama fikih sepakat membagi najis menjadi dua bagian (najis hakiki dan najis hukmi), namun mereka berbeda pendapat dalam menetapkan pengertian najis hakiki dan najis hukmi tersebut.

Menurut ulama Syafiiyah, definisi najis hakiki adalah najis yang mempunyai zat (wujud), rasa, warna, dan bau dan mereka juga menamakannya dengan najis aini. Sedangkan najis hukmi adalah najis yang tidak mempunyai zat (wujud), rasa, warna dan bau, seperti air kencing yang sudah kering yang tidak bisa diketahui sifatnya. Dan membersihkannya cukup dengan menyiramnya satu kali siraman.

Ulama mazhab Hanafi mengatakan najis hakiki adalah najis yang bersifat hakikat (benda), seperti kotoran dan bangkai. Sedangkan najis hukmi adalah najis yang bersifat hukum atau keadaan seseorang dianggap bernajis, seperti seseoarang yang berhadas. Mengenai hal ini ibn abidin, salah seorang tokoh mazhab hanafi, mengatakan bahwa hadas merupakan najis hakiki secara hukum.

Ulama fikih Hanabilah memberikan pengertian najis hukmi sebagai najis yang mengena pada tempat yang sebelum kena najis ia suci. Oleh karena itu najis hukmi mencakup najis yang mempunyai zat dan yang tidak mempunyai zat, yaitu apabila najis itu melekat pada benda suci. Sedangkan najis hakiki adalah zat najis itu sendiri. Sementara itu ulama Malikiyyah berpendapat bahwa najis hukmi adalah hadas kecil dan hadas besar. Hadas menurut mereka adalah sifat syar’I yang mengenai sebagian anggota badan atau seluruhnya dan dapat dihilangkan lesicoam sedangkan najis hakiki adlah khubuts, yaitu segala sesuatu yang dianggap kotor oleh syara’.

Dalam redaksi lain, Wahbah al-Zuhaili mengemukakan pengertian najis hakiki dan najis hukmi tersebut. Menurutnya najis hakiki adalah segala kotoran yang menghalangi keabsahan shalat. Sedangkan najis hukmi adalah sesuatu yang dianggap najis yang terdapat pada anggota tubuh (badan) yang menghalangi sahnya shalat termasuk di dalamnya hadats kecil dan hadats besar.

Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama di atas, maka dapat disimpulkan bahwa najis hakiki adalah segala kotoran yang mempunyai zat, rasa, warna dan dan bau yang menghalangi keabsahan shalat istilah ini juga dapat dinamakan Najis Lizatihi. Sedangkan najis hukmi adalah hadas kecil dan hadas besar, yaitu sifat syar’I yang mengenai sebahagian anggota badan atau seluruhnya dan dapat menghilangkan kesucian atau disebut Najis Lighairihi.

Disamping pembagian tersebut, fuqaha’ juga membagi najis dari segi berat ringannya. Sayfi’iyyah dan hanabilah membagi najis dari segi berat ringannya kepada tiga bagian, yaitu; (1) mughallazah (najis berat) (2) mukhafafah (najis ringan) dan (3) Muttawasitoh (najis pertengahan)

IV. Kriteria Halal yang harus diperhatikan

Sesungguhnya, makanan atau pangan yang halal dimakan adalah makanan yang halaalan, thayyiban ditambah mubaarakan dan tidak terdiri dari najis atau bercampur najis Untuk mendapat makanan sebagaimana dimaksudkan di atas, paling kurang ada khamsu halaalaat yang harus diperhatikan, yaitu :

Pertama: Halal Zatnya. Dilihat dari sisi kehalalan zatnya, makanan yang dikonsumsikan manusia terbagi kepada 3 jenis, yaitu nabati, hayawani dan jenis olahan.

Kedua: Halal cara memperolehnya makanan yang halal zatnya untuk dapat dikonsumsikan, haruslah diperoleh secara halal pula. Karena meskipun makanan itu sudah halal zatnya, tapi kalau cara memperoleh haram, maka mengonsumsi makanan tersebut menjadi haram juga. Misalnya nasi yang secara ijmak ulama menyatakan halal untuk dimakan (halalzat-nya), tapi kalau nasi itu hasil curian, artinya cara memperoleh nasi itu adalah haram maka hukum menkonsumsinya menjdi haram juga.

Ketiga: Halal cara memrosesnya. Sebagaiman dimaklumi, binatang yang halal dimakan tidak dapat dimakan secara serta merta, tapi harus melalui proses penyembelihan, pengulitan dan sebagainya. Proses-proses ini harus halal pula. Penyembelihan kecuali ikan dan belalang, semua binatang yang halal dimakan harus disembelih.

Keempat: Halal Pada Penyimpanannya. Semua bahan makanan yang disimpan hendaklah disimpan pada tempat yang aman, seperti dalam lemari es, agar busuk dan tidak disimpan di dalam tempat yang dapat bercampur dengan najis, seperti tuak, atau benda haram lainnya. Dalam proses produksi tidak tercampur atau berdekatan atau menempel dengan barang atau bahan yang haram seperti najis dst.

Kelima: Halal penyajiannya. Dalam mengedarkan dan menyajikan makanan penyajinya haruslah bersih dari najis dan kotoran. Para supplier dan leveransir atau sales haruslah orang yang sehat dan berpakaian bersih dan suci. Alat kemas atau bungkus atau yang sejenisnya harus hygen, steril, bersih, suci dan halal. Perkakas atau alat hidangan seperti piring, mangkok dan sebagainyaharuslah suci, bersih dan halal.

V. Pandangan Hukum Islam terhadap Pemanfaatannya

Jumhur ulama fikih yang terdiri dari ulama mazhab Hanafi, ulama mazhab Syafii, mazhab Hambali dan sebagian ulama mazhab Maliki berpendapat bahwa babi dan seluruh bagiannya adalah najis, tidak hanya terbatas pada dagingnya saja, meskipun dalam ayat dinyatakan “daging babi” namun yang dituju sesungguhnya adalah seluruh tubuh babi tersebut, karena pada umumnya yang dimakan adalah daging.

Pada Anjing, menurut kesepakatan ulama, jual beli anjing haram hukumnya. Anjing yang boleh dipelihara adalah anjing pelacak, pemburu dan penjaga ternak atau tanaman. Jadi anjing pemburu dan penjaga, keduanya boleh dimiliki dan boleh dijual belikan bagi yang membutuhkan, apabila tidak ditemukan secara gratis. Oleh karenanya, apabila dibolehkan memanfaatkannya berarti boleh dijual belikan, sebagaimana dibolehkan menjual keledai untuk dimanfaatkan sebagai tunggangan dan sebagainya. Ibnu Rusyd berpendapat: hal ini benar menurut logika dan kebanyakan ulama.

Mengenai kotoran, ulama fikih sepakat bahwa kotoran manusia (tinja dan air kencing) adalah najis dan harus dibersihkan dengan air atu dengan lainnya apabila tidak ada air. Namun ulama fikih berbeda pendapat tentang status air kencing anak laki-laki yang masih menyusu dengan ibunya. Menurut ulama mazhab Zahiri dan sebagian ulama ulama mazhab Hambali bahwa air kencing anak laki-laki yang masih menyusu tidak najis dan untuk membersihkannya cukup dengan memercikkan air ketempat yang terkena air kencing tersebut. Alasan yang mereka kemukakan adalah hadis dari Ali. Ra:

“Dari Ali dia berkata: kencing anak perempuan yang belum makan selain susu ibunya, membersihkannya dengan mencucinya, dan kencing anak laki-laki dengan memercikkan air padanya”(HR. Abu Daud)

Jumhur ulama tidak membedakan kencing anak kecil yang masih menyusu dengan kencing laki-laki atau wanita yang telah besar menurut mereka, semuanya itu najis. Alasannya adalah hadis yang memerintahkan utnuk membersihkan kemaluan setelah kencing, menurut mereka keumuman kandungan hadis ini secara jelas tidak membedakan kenajisan air kencing seseorang. Hadis tersebut adalah sebagai berikut.

“Dari Ibn, dia berkata: Nabi saw berjalan diperbatasan kota madinah dan mekah. Lalu ia mendengar dua orang sedang di azab didalam kuburnya. Rasulullah saw berkata: keduanya sedang di azab dan keduanya diazab bukan karena dosa besar. Kemudian Nabi saw bersabda: keduanya diazab karena salah seorang darinya tidak bersuci setelah buang air kecil dan yang satunya lagi selalu menggunjng”.

Berdasarkan hadis tersebut dapat dipahami bahwa setiap air kencing manusia adalah najis kecuali air kencing anak laki-laki yang belum makan selain air susu ibunya. Sedangkan pendapat yang mengatakan seluruh air kencing itu najis tanpa terkecuali menurut penulis tidak tepat karena hadis tentang perintah mencuci kemaluan setelah buang air kecil itu ditujukan kepada mukallaf dan bersifat umum, kemudian hadis tersebut di-Takhshish oleh hadis yang mengatakan bahwa membersihkan kencing anak laki-laki cukup dengan memercikkan air kepadanya.

Pemanfaatan dan memperdagangkan darah hewan untuk diminum secara langsung atau dibekukan dan dijadikan marus untuk dimakan. Hukumnya adalah haram dengan dalil surat al-Maidah: 3, al-Anam: 145, al-Baqarah: 173. Haram juga menurut beberapa ayat ini, daging yang berasal dari sembelihan yang menyebut nama Allah tetapi disebut pula nama selain Allah.

Sehubungan dengan haramnya memanfaatkan darah hewan untuk diminum secara langsung atau dibekukan dan dijadikan marus untuk dimakan, maka memperjualbelikannya juga haram. Hal ini didasarkan pada analogi terhadap haramnya menjual-belikan lemak bangkai yang haram dikonsumsi oleh manusia. Karena segala sesuatu yang haram memanfaatkannya, maka haram pula memperdagangkannya.

Semua yang telah penulis paparkan di atas, pada prinsipnya adalah haram dalam pemanfaatanya sebagai konsumsi dan komoditi. Islam sangat mempersempit daerah haram, soal haram diperkeras dan tertutup semua jalan yang mungkin akan membawa kepada yang haram itu, baik dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi-sembunyi. Karena itu, setiap yang akan membawa kepada haram, hukumnya haram; dan apa yang membantu untuk berbuat haram, hukumnya haram juga; dan setiap kebijakan (siasat) untuk berbuat haram, hukumnya haram.

Namun demikian, Islam tidak lupa terhadap kepentingan hidup manusia serta kelemahan manusia dalam menghadapi kepentingannya itu. Oleh karena itu Islam kemudian menghargai kepentingan manusia yang tidak bisa dihindari itu, dan menghargai kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia. karenanya seorang muslim dalam keadaan yang sangat memaksa, diperkenankan melakukan yang haram karena dorongan keadaan dan sekedar menjaga diri dari kebinasaan.

Berangkat dari ayat-ayat ini dan nash-nash lainnya, para ahli fiqih menetapkan suatu prinsip yang sangat berharga sekali, yaitu: adh-dharuratu tubiihu al-Mahdzuraat “Keadaan terpaksa membolehkan yang terlarang.” Tetapi hal itupun tetap memberikan batasan terhadap si pelakunya (orang yang disebut dalam keadaan terpaksa) itu; yaitu dengan kata-kata ghaira baghin wala ‘aadin (tidak sengaja dan tidak melewati batas). Ini dapat ditafsirkan, bahwa pengertian “tidak sengaja” itu, maksudnya tidak sengaja untuk mencari kelezatan. Dan perkataan tidak melewati batas itu maksudnya: tidak melewati batas ketentuan hukum.

Para ulama ahli fiqih menetapkan suatu prinsip lain pula, yaitu adh-dharuratu tuqaddaru biqadriha (dharurat itu dikira-kirakan menurut ukurannya). Oleh karena itu setiap manusia sekalipun dia boleh tunduk kepada keadaan dharurat, tetapi dia tidak boleh menyerah begitu saja kepada keadaan tersebut, dan tidak boleh menjatuhkan dirinya kepada keadaan dharurat itu dengan kendali nafsunya. Tetapi dia harus tetap mengikatkan diri kepada pangkal halal dengan terus berusaha mencarinya. Sehingga dengan demikian dia tidak akan tersentuh dengan haram atau mempermudah dharurat.

Islam dengan memberikan izin untuk melakukan larangan ketika dharurat itu, hanyalah merupakan penyaluran jiwa keuniversalan Islam itu dan kaidah-kaidahnya yang bersifat kulli (integral). Dan ini adalah merupakan jiwa kemudahan Islam yang tidak dicampuri oleh kesukaran dan memperingan, seperti cara yang dilakukan oleh ummat-ummat dahulu.

Pemanfaatan benda-benda najis tersebut sebagai barang komoditi (bernilai bisnis) sesungguhnya memunculkan persoalan baru. Prinsipnya Islam memandang ekonomi sebagai sebuah persoalan yang serius, hal ini disebabkan Islam menilai bahwa harta merupakan salah satu dari lima asas dalam kehidupan. Lima asas tersebut adalah: agama, jiwa, akal, nasab keturunan dan harta.

Sebagaimana ilmu pengetahuan, politik dan perang tidak boleh dipisahkan daripada akhlak, demikian juga halnya dengan ekonomi. Jika diperhatikan sistem ekonomi positif (sekular) niscaya akan ditemukan satu sistem yang tidak memperdulikan akhlak sama sekali, terutama sistem ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi seperti ini hanya mementingkan keuntungan saja.

Akhlak merupakan salah satu unsur-unsur yang paling utama dalam ekonomi Islam. Unsur ini begitu penting sehingga seorang cendekiawan Perancis mendefinisikan ekonomi Islam itu sebagai ekonomi yang berakhlak. Di samping akhlak, terdapat nilai-nilai lain yang mewarnai ekonomi Islam, yaitu nilai rabbani (ketuhanan), nilai insani (kemanusiaan) dan nilai wasathi (moderat dan sederhana).

Islam memerintahkan kita untuk mengembangkan harta dengan cara yang sesuai dengan Syar’i, bukan dengan menipu, memperjual belikan harta benda yang dilarang syariat, mengamalkan riba atau merampas harta orang lain dengan cara yang batil. Islam juga memerintahkan kita untuk membelanjakan harta yang kita perolehi dalam perkara-perkara yang benar dan baik saja. Sebab harta itu merupakan harta Allah dan ia hanya boleh dibelanjakan sesuai dengan kehendak dan peraturan Allah saja.

Islam tidak menafian bahwa tujuan utama dalam ekonomi ialah untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Tetapi Islam tidak membiarkan tersebarnya kesan negatif yang timbul akibat beberapa pekerjaan dalam mencari harta dan keuntungan.

Dengan demikian, menjadikan benda-benda najis khususnya makanan untuk dikonsumsi dan dijadikan komoditi dalam Islam sangat dilarang, hukum perbuatannya adalah haram, meskipun demikian Islam memberikan kelonggaran bagi pemeluknya, apabila dalam situasi Dharuri maka penggunaannya diperbolehkan dengan prinsip tidak berlebihan dan menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan, selanjutnya dalam hal apapun Islam sangat melarang memperjual belikan benda najis, meskipun ada manfaatnya.

Daftar Bacaan

Abdurrahman Ar-Rasyid, Halal Haram Menurut Al-Quran dan Hadits, (Jakarta: Lintas Publisher, 2006)., h. 5-10

Bahar Azwar, Fikih Kesehatan, (Depok: QultumMedia, 2005)., h. 49

http://www.islamonline.net/fatwa/arabicDisplay.asp?hFatwaID=39552

Fauzi Muhammad Abu Zaid, Hidangan Islami; Ulasan Komprehensif Berdasarkan Syariat dan Sains Moderen, Penerjemah Abdul Hayyie al-Kattani, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), Cet-1., h. 53

Buku-buku yang membahas persoalan ini sangat banyak tersebar di berbagai tempat, bahkan para ahli medis sekalipun banyak yang menggunakan terapi ini, terapi urin atau penyembuhan dengan air seni telah lama dikenal oleh berbagai bangsa di dunia ini. Terapi ini sudah dilakukan di India sejak 5000 tahun yang lalu, sementara bagnsa Eropa telah mengenalnya sejak 4000 tahun yang lalu. Lebih lanjut baca: Iwan T Budiarsono, Terapi Auto Urin, : Penyembuhan dengan Air Seni Sendiri, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), juga dapat di baca: Coen Van Der Kroon, dkk, Buku Pintar Terapi Urine, (Jakarta: Tara Media dan Ratu Agung, t.t)., cet ke -5

Ibid

Abd al-Rahman al—Jaziri, Kitab Al-Fiqh Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah,(Beirut: Dar al-Fikr,1990) Jilid I, h.10 lihat juga : Muhammad Al-Syarbaini Khatib, Al-Iqna’ Fi Halli Al-Fazd Abi Syuja’, (Beirut: Dar al-Fikr,1995), Jilid I, h.89

Ibid.

Abd al-Rahman al-Jaziri, op.cit., h.9-10

Wahbah al-zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adilatuh, (Beirut: Dar al-fikr, 1989), Jilid I, h. 149

Sayhibudin Ahmad Ibn Hajar Al-Hastany, op. cit., h. 287. lihat juga : Muhammad Al-Syarbaini Al-khatib, op. cit., h.31

Penjelasan lebih lanjut dapat dilihat dalam kitab Mughnyul Muhtaaj, Jilid.4, h.305; Al-Muhadzdzab, Jilid 1, h. 246; Bidayatul Mujtahid, jilid. 1, h. 450-452 dan 456; Al-Qawaniinul Fiqhiyah, h.171; Al-Badaai‘, Jilid. 5, h.39; Al-Qawaaniinul Fiqhyah, h. 172; dan Al-Mughny, jilid.8, h. 592.

Muhammad Syatah Al-Dimiyathi, I’anatut Thalibin, (Semarang: Thaha Putra, t.th)., Jilid I., h. 89. lihat juga :’Abd al-Rahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Al Madzahibil Arbaa’h,(Beirut: Dar Al-Fikr, 1993)., h. 11

Ash-Shadiq Abdurrahman al-Gharyani, Fatwa-fatwa Muamalah Kontemporer, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2004)., h. 208-210

Ibid

Muhammad Syatha al-Dimiaythi, op.cit., h.82. lihat juga: Abi Zakaria al-Anshari, Hasyiayah Alsyarqawi’ala’Tuhfah, Jilid I, h.132.

Muhammad Syatha al-Dimiaythi, op.cit., h.31. lihat juga: Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad ib Muhammad Ibn Qudamah, Al-Mughni Syarah al-Kabir, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th), h.734 dan Abi Muhammad Ibn Sa’id Ibn Hazm, al-Muhala bi al-Atsr, (Beirut: Dar al-‘Ilmiyyah, 1984)., h.102

Abu Daud Sulaiman Ibn al-Asy’at al-Sijistani, Sunan Abi Daud,(Beirut: Dar al-Fikr,1994), Jilid I, h.144

Ibid., h.19

Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardazabah, Sahih al-Bukhari. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), h.61

Yusuf Qardawi, Halal Haram dalam Islam, ter. Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, (Jakarta: Era Intermedia, 2001)., cet-2., h 67

Ibid

Ibid

Mustaq Ahmad, Etika Bisnis Dalam Islam, (Jakarta: Etika Bisnis Dalam Islam, 2001)., h. 35-42

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in Hukum

 

Tag:

MAKANAN DALAM SYARIAT : Tinjauan terhadap makanan yang dijelaskan dan diharamkan

I. Pendahuluan

Seiring dengan perputaran waktu dan zaman, persoalan hukum Islam banyak diperbincangkan diberbagai tempat, hal tersebut terjadi karena kemajuan teknologi ikut mempengaruhi kalangan ulama untuk menilai sejauh mana manfaat dan mudharat hasil dari ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut bagi umat Islam.

Meskipun, secara normatif Islam tidak menghambat kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi, sebaliknya Islam justru mendukung kemajuan tersebut, seperti yang tertuang dalam al-Qur’an :

Artinya : “maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaiamana diciptakan, dan langit bagaimana di tinggikan dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan dan bumi bagaimana di hamparkan. (Al-Ghosiyyah: 17-20)

Ayat di atas menggambarkan anjuran kepada manusia untuk berfikir tentang segala sesuatu yang diciptakan Allah untuk manusia. Melalui proses berfikir itu pula manusia bisa merasakan betapa besar ciptaan Allah. Pada dasarnya, Allah menciptakan manusia di dalam kehidupan ini, tidak hanya sekedar untuk makan, minum, hidup kemudian mati seperti yang dialami makhluk lainnya. Namun leblih dari itu, manusia diciptakan supaya berfikir, menentukan, mengatur, mengurus segala persoalan, mencari dan memberi manfaat kepada orang lain. banyak usaha yang dilakukan oleh manusia dengan kemampuan yang dimiliki untuk menggali segala yang diciptakan Allah melalui penelitian, pengkajian dan lain-lain, sehingga hasilnya nanti dapat membantu manusia memecahkan persoalan hdup yang terus berkembang dalam segala aspek kehidupan.

Di antara berbagai macam persoalan yang seringkali menimpa manusia adalah persoalan kesehatan, makanan dan keuangan. Makanan dalam hal ini juga termasuk minuman dan segala yang bisa dan dapat dijadikan sesuatu untuk dimakan, merupakan kebutuhan bagi setiap diri manusia, untuk kehidupan tubuh membutuhkan energi, ia digunakan untuk mempertahankan panas tubuh, memperbaiki jaringan, mempertahankan denyut jantung, pertumbuhan, pembiakan dan kesehatan. Ia diperoleh dari makanan seperti nasi, sayur, daging, buah, dan susu yang diolah sistem pencernaan menjadi sari makanan, yaitu: karbohidrat, protein, lemak, mineral dan vitamin. Makanan yang sehat atau cukup gizi, mengandung semua sari makanan tersebut dalam jumlah yang cukup. Selain itu, ada pula sari makanan yang dapat dihasilkan secara mandiri oleh tubuh seperti kolesterol.

Secara alami manusia selalu mencari cara agar dapat bertahan guna memenuhi kebutuhan tersebut, namun persoalanya adalah sejauh mana cara yang dilakukan manusia tersebut berguna dan bermanfaat bagi dirinya tanpa harus melakukan dan mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman dan kompleksnya persoalan hidup, akhirnya manusia berhadapan dengan jalan dimana mereka harus menentukan pilihan hidup. kemudian, manusia dituntut untuk mengambil sikap, jalan mana yang harus ditempuh.

Islam dalam hal ini memberikan penjelasan bagaimana cara menghadapi dilematika persoalan yang dihadapi oleh manusia, pada tulisan ini akan dijelaskan makanan yang ada dalam syariat yang terdiri dari makanan yang dianjurkan dan makanan yang diharamkan.

II. Makanan Yang Dijelaskan Syariat

1. Jenis Makanan Dalam Al-Quran

Al-quran sebagai pedoman hidup umat Islam membagi makanan itu kedalam tiga kategori yaitu; Nabati, Hewani dan olahan. Mengenai Nabati Allah berfirman yang artinya :

Dan suruhlah manusia melihat makanannya, sungguh kami curahkan hujan berlimpahan kemudian kami belah bumi bercelah-celah dan kami tumbuhkan dalamnya biji-bijian, anggur, dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun penuh pohonan dan buah-buahan serta rumput-rumputan untuk kesenangan bagimu dan binatang ternakmu (A’basa [80]:24-32)

Ayat-ayat itu menjelaskan bahwa Allah menganugerahi manusia dalam hidup ini berupa pangan, sekaligus mengisyaratkan bahwa itu merupakan dorongan untuk menyempurnakan tugas-tugasny. Allah berfirman bahwa jika manusia benar-benar hendak melaksanakan tugas-tugasnya secara sempurna, maka hendaklah mereka melihat makanannya, memerhatikan dan merenungkan bagaimana proses yang dilaluinya hingga siap disantap.

Mengenai makanan hewani Allah berfirman :

1. Hari ini dihalalkan bagimu (segala) yang baik.dan makanan orang Al-kitab halal bagimu dan makananmupun halal bagi mereka (al-ma’idah[5] : 5)

2. Dihalalkan bagi kamu binatang buruan di laut, dan (ikan yang mati terdampar) untuk kesenanganmu, dan bagi mereka dalam perjalanan (al-Maidah [5]:96)

3. Maka makanlah (sembelihan) yang diucapkan nama Allah didalamnya. Jika kamu percaya akan ayat-ayat Allah. Mengapa kamu tiadakan memakan (sembelihan) yang diucapkan nama Allah atasnya, sedang (Allah)telah menjelaskan kepadamu, apa yang ia haramkan atasmu kecuali apa yang kamu terpaksa (memakannya)? (al-An’am[6]:118-119)

4. Janganlah kamu makan (sembelihan) yang tiada disebut nama Allah atasnya karena itu adalah kefasikan dan sungguh setan-setan selalu membisikan kepada teman-temannya supaya mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka, tentulah kamu jadi orang yang mempersekutukan Tuhan (Al-An’am [6]; 121)

5. katakanlah, tiada kudapati dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang terlarang bagi seorang pemakan yang ingin memakannya kecuali daging maitah, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena itu adalah kekotoran atau kefasikan atau binatang yang dikorbankan kepada yang selain Allah. Tapi barang siapa terpaksa (memakannya) bukan karena mau melanggar aturan, sungguh Tuhanmu Maha Pengampun Maha Penyayang (Al-An’am [6]:145)

Kata makanan (tha’am) dalam ayat 5 al-ma’idah adalalah makanan sembelihan atau makanan hewani, karena sebelum ini terdapat uraian tentang penyembelihan dan perburuan. Sehingga kedua hal inilah yang menjadi pokok masalah. Ada juga yang memahami kata “makanan” di sini dalam arti buah-buahan, biji-bijian, dan sebagainya, tetapi pendapat ini sangat lemah.

Kemudian ayat 96 al-maidah menjelaskan bahwa manusia halal berburu binatang di laut, juga sungai dan danau atau tambak dan makanan yang berasal dari laut, seperti ikan udang atau apapun yang hidup disana dan tidak dapat hidup di darat walu telah mati dan mengapung, adalah yang lezat baik bagi orang-orang yang bertempat tinggal tetap di suatu tempat tertentu ataupun bagi orang yang dalam perjalanan.

Lalu, ayat 118-119 al-An’am menggunakan kata perintah untuk mengonsumsi makanan, tetapi perintah itu tidak wajib. Hukumnya mubah, karena tidak seorangpun yang memandang haram makanan apa yang disebut nama Allah ketika menyembeli binatang yang halal. Perintah ini juga untuk membedakan dengan yang terlarang, yaitu bangkai dan apa yang disembelih atas nama berhala.

Selanjutnya ayat 121 al-an’am menegaskan bahwa salah satu dosa ialah memakan makanan sembelihan yang tidak disebut nama Allah, sekaligus menjelaskan sebab larangan itu dan sebab keterjerumusan manusia dalam larangan itu. Ayat ini menegaskan bahwa “dan janganlah kamu memakan dari apa” yakni walau sedikit pun dari binatang-binatang halal yang tidak di sebut nama Allah atasnya ketika menyembelihnya. Sungguh yang demikian itu merupakan kefasikan, yakni sikap dan perbuatan yang mengantarkan keluarnya seseorang dari koridor agama.

Kemudian, ayat ini mengingatkan setiap orang boleh jadi terpengaruh secara negatif oleh satu dan lain hal bahwa sesungguhnya setan itu membisik-bisiki dengan merayu kepada kawan-kawannya, yakni pemuka-pemuka kaum musyrik.

“agar mereka membantah kamu”, antara lain menyangkut bangkai dan memakan sesuatu yang disembelih ats nama berhala.”dan jika kamu menuruti”, yakni ikut menghalalkan makanan yang diharamkan Allah atau meragukan kebnaran hukum Allah, maka “sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” karena hal itu merupakan tindakan yang mengabaikan syariat Allah dan menggantinya dengan kesesatan penyembah berhala.

Ayat 145 al-An’am memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan bahwa pengharaman atas nama Allah tidak mungkin terjadi kecuali berdasarkan wahyu, baik langsung dan tegas dengan teks dan makna, yakni Alquran, maupun tidak langsung dan tegas, tetapi melalui pengajaran-Nya, yakni sunnah atau melalui istinbath (penalaran terhadap tuntunan-NYA) dalam ayat ini, Allah mengharamkan memakan bangkai, darah (tidak termasuk hati dan limpa) dan daging babi, karena semua itu dipandang kotor (rijs)

Alquran juga menjelaskan makanan olahan : “dan makan dari buah kurma dan anggur kamu ambil minuman dan makanan yang nyaman” (al-Nahl[16]:67). Ayat ini menjelaskan buah-buahan yang dapat dimakan sekaligus menghasilkan minuman. Hanya saja,minuman itu dapat beralih menjadi sesuatu yang buruk, karena misalnya memabukan. Dari sisi lain, karena untuk wujudnya minuman itu diperlukan upaya manusia. Maka ayat ini menegaskan supaya manusia membuatnya dengan menyatakan bahwa disamping susu yang merupakan minuman lezat, dari buah kurma dan anggur manusia juga dapat membuat sesuatu darinya, yakni dari hasil perasannya sejenis minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik yang tidak memabukkan seperti perasan anggur atau kurma yang segar atau cuka dan selai.

Dari ayat-ayat Alquran diatas terlihat bahwa yang dimaksud dengan “makanan” bukan hanya sesuatu yang dimakan. Tetapi juga mencangkup apa yang diminum atau minuman. Karena itu, pada minuman juga berlaku kriteria yang sama dengan makanan yang boleh dikonsumsi, seperti halal dan baik (thayibb).

Kata “halal” berasal dari akar kata yang berarti lepas atau tidak terikat. Sesuatu yang halal adalah yang lepas dari bahaya duniawi dan ukhrawi. Karena itu, kata “halal” juga berarti boleh. Dalam bahasa hukum, kata ini mencakup segala sesuatu yang dibolehkan agama, baik kebolehan itu bersifat sunah (anjuran untuk dilakukan), makruh (anjuran untuk ditinggalkan), mapun mubah (netral/boleh-boleh saja).

Sedang kata “thayyib” berarti lezat, baik, sehat menentaramkan dan paling utama. Para pakar tafsir ketika menjelaskan kata ini dalam konteks perintah makan menyatakan bahwa ia berarti makanan dan minuman yang tidak kotor dari segi zatnya atu rusak (kadaluwarsa) atau dicampuri benda najis. Ada juga yang mengartikannya sebagai makanan dan minuman yang mengandung selera bagi yang akan memakannya dan tidak membahayakan fisik dan akal.

Itu menunjukkan bahwa dalam islam, sebagaimana diajarkan dalam tasawuf, makanan dan minuman harus sehat dan menyehatkan. Ini sebabnya dalam tasawuf berkembang ajaran tentang pola hidup sehat dengan memerhatikan makanan dan minuman yang selayaknya dikonsumsi oleh umat islam.

2. Unsur-Unsur Makan Yang Baik dalam Kajian Sains

Makanan pokok adalah pemelihara kehidupan, semua makhluk hidup yang diciptakan allah di permukaan bumi, baik manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan mutlak memerlukannya. Makanan memberikan kekuatan esensial bagi kehidupannya, menyuplai unsur-unsur yang akan membentuk sel tubuhnya dan memperbaharui yang rusak. Hal itu disebabkan asal penciptaan manusia adalah dari tanah liat dan debu.

a. Unsur Esensial Makanan Manusia Yang Sempurna

Makanan yang sempurna terbentuk dari karbohidrat, protein, lemak dalam jumlah yang mencukupi. Makanan sempurna itu akan memberikan apa yang dibutuhkan tubuh manusia yakni energi kalor yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Unsur pokok lainnya yang juga dibutuhkan tubuh manusia adalah garam mineral dan air.

b. Unsur-unsur protein

Protein adalah susunan organik nitrogen yang terbentuk oleh satuan-satuan yang bernama asam amino yang tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Kadang kala terhimpun serangkai dengan unsur-unsur lain seperti belerang, fosfor, besi(ferum), tembaga dan yodium. Dari unsur protein terbentuklah protoplasma (usur kehidupan) baik sel-selnya, intinya, ataupun bagian-bagiannya.

Protein juga memperbaharui sel-sel tubuh yang telah rusak. Ia sebagai makanan yang sangat berharga bagi tubuh, merupakan salah satu sumber energi kalor yang dibutuhkan oleh jasmani, karena ia mampu menghasilkan sejumlah besar energi dan kalori di dalam tubuh sebagaimana seluruh ragi dan enzim membantu pencernaan makanan dalam tubuh dan mengatur proses pembakaran yang biasanya terbentuk dari unsur protein.

Protein-protein ini masuk ke dalam susunan darah dan materi darah merahnya yang disebut sel darah merah atau hemoglobin, yag memainkan peranan penting dalam mendistribusikan oksigen ke sel-sel tubuh untuk memudahkan proses pembakaran dalam tubuh dan memindahkan karbon dioksida (CO2) Yang dihasilkan keparu-paru untuk dilepaskan ke udara bebas.

Unsur protein didapatkan pula di seluruh bagian makhluk hidup atau organisme, akan tetapi sumber utamanya adalah binatang, ikan, daging burung, hati, telur, susu,keju,. Selain itu protein juga dikandung oleh makanan nabati seperti kacang-kacang adas, kedelai, buncis, kacang polong, chikpea, buah kemiri, buah badam, buah pala, kacang tanah, dan sejenissnya, termasuk biji-bijian seperti biji gandum,biji dzurrah, biji tepung syair, tanaman gandum, sebagai nilai tengah dari unsur proteinnya. Namun demikian protein nabati menurut penelitian nilainya berada di bawah protein hewani. Protein hewani mengandung asam amino yang tidak didapatkan pada protein nabati. Inilah hakikat penjelasan yang kita proleh dari ayat qur’an yang mulia.

c. Unsur Karbohidrat

Karbohidrat terdapat juga beberapa jenis sayuran, seperti kacang, kacang adas yang mengandung separuh prosentase zat tepung, demikian pula bahan makanan yang mengandung gula seperti madu lebah, madu hitam buah-buahan susu dan lainnya.

Unsur karbohidrat adalah salah satu sumber penghasil energi kalor esensial bagi manusia. Makanan yang sempurna harus mengandung 50% hingga 65% unsur ini. Seorang lelaki dewasa membutuhkan sekitar 500 gram zat tepung dalam sehar. Setiap gram unsur karbohidrat dapat mengahasilkan energi kalor bagi tubuh kurang lebih sebesar 4,1 kalori, ketika ia membakarnya dan mencernanya dalam tubuh.

d. Unsur Lemak

Unsur lemak pada makanan terkandung di dalam keju, kepala susu (krim) minyak nabati dan minya hewani. Lemak juga didapatkan didalam telur khususnya pada kuning telurnya, susu, kacang tanah, buah kemiri dan buah badam dalam jumlah yang cukup besar. Unsur lemak dianggap sebagai makanan yang paling kaya kandungan bahan menahnya. Lemak merupakan pusat kekuatan yang menghasilkan energi yang berlipat ganda lebih banyak daripada yang dihasilkan kalor kurang lebih sebesar 9.3 kalori. Dalam tubuh manusia harus mengandung 50-100 gram lemak, tidak boleh melebihi batas atasnya (100 gram) karena akan mengakibatkan penyakit bagi tubuh. Kelebihan lemak akan menghasilkan senyawa asam berbahaya. Kelebihan lemak di dalam makanan akan menyebabkan kegemukan yang tidak disukai. Di sisi lain, jika tubuh tidak dapat melakukan pembakaran yang sempurna terhadap lemak maka akan mengakibatkan bertumpuknya asam kitonik pada darah, serta pada seluruh jaringan tubuh. Ini sangat membahayakan kesehatannya.

e. Vitamin

Vitamin adalah bahan organik yang sangat penting di dalam makanan. Meskipun ia tidak memberikan energi kepada tubuh ketika mencernanya teapi tubuh tetap membutuhkannya walau dalam jumlah sedikit. Hal ini disebabkan vitamin sangat diperlukan untuk pertumbuhan jasmani dan menjaga kesehatannya, agar ia mampu mengerjakan tugas-tugas keseharian dan memelihara kebugaran tubuhnya. Vitamin juga berperan penting dalam metabolisme tubuh dan pembakaran kalor. Kekuarangan mengonsumsi vitamin menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit, yang dalam kondisi tertentu bisa dikatakan cukup berbahaya seperti rchitis, rabun senja dan gusi berdarah, dan lain-lainnya. Oleh sebab itulah vitamin diyakini sebagai unsur yang harus ada di dalam makanan yang sempurna disamping unsur lain yang menghasilkan energi protein, karbohidrat, lemak, plus garam mineral serta air.

B. Makanan Yang Diharamkan Syariat

Makanan yang diharamkan dalam pandangan syariat Islam adalah :

1. Babi

Babi adalah hewan yang sangat kotor, dia biasanya memakan segala sesuatu yang diberikan kepadanya baik kotoran maupun bangkai bahkan kotorannya sendiri atau kotoran manusia akan dia makan. Babi memiliki tabiat malas, tidak suka cahaya matahari, tidak suka berjalan-jalan, sangat suka makan dan tidur, memiliki sifat paling tamak. Semakin bertambah usia, babi akan semakin bodoh dan malas, tidak memiliki kehendak dan berjuang bahkan untuk membela diri sendiri saja enggan.

2. Bangkai dan darah

Bangkai dan darah adalah dua hal yang ditolak oleh jiwa yang sehat. Bangkai hukumnya haram, kecuali bangkai ikan dan belalang , darah juga haram, kecuali hati dan limpa.

Bangkai merupakan tempat yang subur untuk tumbuhnya sejumlah mikroba, di antara mikroba ini terdapat mikroba yang bisa menyebabkan penyakit berbahaya bagi manusia, bahkan bisa menjadi racun yang dapat membunuh mereka. Racun ini terkadang tidak akan hilang hanya dengan dimasak.

3. Hewan yang tercekik, dipukul, jatuh dari ketinggian, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas

Hewan yang tercekik disebut al-munkhaniqah, hewan yang dipukul dengan keras atau dilempaar dengan batu hingga mati disebut al-amuqudzah. Yang jatuh dari ketinggian lalu mati disebut al-mutaraddiyah, yang mati karena ditanduk disebutan-nathihah. Menurut Alquran semua jenis binatang yang tidak diketahui penyembelihannya adalah haram. Dan hikmah pengharamannya sama dengan hikmah mengonsumsi bangkai.

Sedang hewan yang dimakan binatang buas pun juga diharamkan, karena mati dengan cara dilukai, dan dalam Alquran hewan ini disebut’ma akala as-shabu.” As-sabu’u adlaah hwan-hewan yang memiliki cakar dan taring (predator) seperti macan tutul, serigala, bahkan kucing dan anjing.

4. Binatang yang disembelih untuk persembahan berhala

Yaitu batu-batu yang mereka susun disekitar Ka’bah. Lalu mereka menyembelih hewan yang mereka persembahkan untuk berhala-berhala itu sekaligus mereka agung-agungkan.

Di sini perlu disampaikan apa yang telah ditulis oleh Sayyid Quthub dalam kitab”Fi Al-Zhilal Al-Qur’an”: “adapun hewan yang dipersembahkan untuk selain Allah. Hal itu diharamkan bukan karena illat yang ada dalamnya, tetapi adanya penyembahan selain Allah. Dengan demikian tindakan itu karena alasan ruhiyah yang bertolak belakang dengan kebersihan hati, kesucian ruh, dan keikhlasan jiwa. Smentara tindakan itu dapat mengotori akidah dari yang diharamkan Allah pada hati manusia. Sedang islam benar-benar telah memerhatikan, agar apa-apa yang kita persembahkan semata-mata hanya untuk Allah semata tanpa sekutu satupun.”

5. Khamar dan Minum-Minuman Beralkohol

Allah menjelaskan dalam Al-quran tentang Khamar dan minuman yang beralkohol sebagai berikut:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. Al-Baqarah:219)

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi,(berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Oleh karena itu jauhilan perbuatan-perbuatan itu agar kalian dapat keberuntungan (QS. Al-Maidah:90)

Khamar atau arak diambil dari kata khamara yang berarti “menutupi” dari kat itu juga diambil kata khmarul mar’ah yang berarti ‘penutup wanita (kerudung wanita). Khamer atau arak dapat menutupi akal. Khamar berarti air anggur yang diolah. Dan segala sesuatu yang dapat menutupi akal selain anggur, maka hukumnya sama.

Khamar dalam pengertian bahasa Arab (makna lughawi) berarti “menutupi”. Disebut sebagai khamar, karena sifatnya bisa menutupi akal. Sedangkan menurut pengertian urfi (menurut adat kebiasaan) pada masa Nabi SAW, khamar adalah apa yang bisa menutupi akal yang terbuat dari perasan anggur.

Sedangkan dalam pengertian syara’, khamar adalah setiap minuman yang memabukkan (kullu syaraabin muskirin). Jadi khamar tidak terbatas dari bahan anggur saja, tetapi semua minuman yang memabukkan, baik dari bahan anggur maupun lainnya. Pengertian ini diambil berdasarkan beberapa hadits Nabi SAW. Di antaranya adalah hadits dari Nu’man bin Basyir RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya dari biji gandum itu terbuat khamar, dari jewawut itu terbuat khamar, dari kismis terbuat khamar, dari kurma terbuat khamar, dan dari madu terbuat khamar” (HR Jama’ah, kecuali An-Nasa’i). Dari Jabir RA, bahwa ada seorang dari negeri Yaman yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sejenis minuman yang biasa diminum orang-orang di Yaman. Minuman tersebut terbuat dari jagung yang dinamakan mizr. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah minuman itu memabukkan?” “Ya” jawabnya. Kemudian Rasulullah SAW menjawab : “Setiap yang memabukkan itu adalah haram. Allah berjanji kepada orang-orang yang meminum minuman memabukkan, bahwa dia akan memberi mereka minuman dari thinah al-khabal. Mereka bertanya, apakah thinah al-khabal itu? Jawab Rasulullah,”Keringat ahli neraka atau perasan tubuh ahli neraka.” (HR Muslim, An Nasa’i, dan Ahmad).

Hadits di atas menunjukkan bahwa khamar itu tidak terbatas terbuat dari perasan anggur saja, sebagaimana makna urfi, tetapi mencakup semua yang bisa menutupi akal dan memabukkan. Setiap minuman yang memabukkan dan menutupi akal disebut khamar, baik terbuat dari anggur, gandum, jagung, kurma, maupun lainnya. Berarti itu merupakan pengertian syar’i tentang khamar yang disampaikan Rasul SAW dalam hadits-haditsnya. Dalam keadaan demikian, yakni setalah adanya makna syar’i –makna baru yang dipindahkan dari makna aslinya oleh syara’– yang berbeda dengan makna lughawi dan makna urfi, maka makna syar’i tersebut harus didahulukan daripada makna lughawi dan makna urfi.

Jika khamar diharamkan karena zatnya, sementara pada hadits di atas dinyatakan bahwa “setiap yang memabukkan itu khamar”, berarti itu menunjukkan kepada kita bahwa sifat yang melekat pada zat khamar adalah memabukkan. Karena sifat utama khamar itu memabukkan, maka untuk mengetahui keberadaan zat khamar itu atau untuk mengenali zatnya adalah dengan meneliti zat-zat apa saja yang memiliki sifat memabukkan.

Setelah dilakukan tahqiiq al manath (penelitian fakta), oleh para kimiawan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa zat yang memilki sifat memabukkan dalam khamar adalah etil alkohol atau etanol. Zat inilah yang memiliki khasiat memabukkan. Minuman yang mengandung alkohol ini, dikenal dengan terminologi “minuman beralkohol”. Walaupun bermacam-macam namanya dan kadar alkoholnya, semuanya termasuk kategori khamar yang haram hukumnya. Alkohol yang dimaksud dalam pembahasan di sini ialah etil alkohol atau etanol, suatu senyawa kimia dengan rumus C2H5OH (Hukum Alkohol dalam Minuman.

Selain itu, para ulama juga berpendapat bahwa ada benda-benda lainnya yang haram dimakan dan ia merupakan najis, di antara benda-benda bernajis yang diharamkan untuk dimakan tersebut adalah: Bangkai hewan darat yang berdarah. (kecuali mayat manusia tidak najis) bahagian-bahagian bangkai seperti daging; kulit; urat; tulang; bulu dan sebagainya semuanya adalah najis; air kencing; tahi; darah. Semua jenis darah kecuali hati dan limpa; nanah; Segala macam nanah adalah najis sama ada ainya berbentuk kental atau cair; muntah; mazi. Yaitu air putih yang keluar dari kemaluan ketika memuncak syahwat. Ia hanya terdapat pada lelaki dan perempuan. Tetapi lebih banyak pada kaum perempuan. Wadi; Yaitu air putih kental yang keluar dari kemaluan mengiringi kencing atau karena letih; arak atau tuak, yaitu setiap minuman keras yang memabukkan, anjing dan babi serta keturunannya.

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Semarang: Toha Putra, 1989)., 1055

Rusmin Tumanggor, Persentuhan Medis Modern dan Tradisional di Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Antropologi Kesehatan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, disampaian di Hadapan Sidang Senat Terbuka Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004

Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Pengobatan Cara Nabi SAW, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997)., h. 54

Ibid

Syaukat Asy-Syathi, Islam wa ath-Thib: Al-Muskiraat wa al-Mukhaddirat wa at-Tibgh wa al-Qaat wa atsaruha as-Sayyi’ah fii al-Jism, (Damaskus: Universitas Damaskus, 1959)., h321

Muhammad Salim Khan, op.cit., 215

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, (Jakarta: Lentera Hati, 2003)., Jilid III., h. 109

Ibid

Ibid

Jamaluddin Mahran dan Abdul Adzim Hafna Mubasyir, Judul Asli Al-Ghadza wa ad-Dawa’ Fil Quranul Karim, terj. Al-quran Bertutur Tentang Makanan dan Obat-obatan, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2005)., h. 200

Hasan Abdussalam, Al-Gadza fihi ad-Dawa’ wa fihi ad-Dawa’, (Mesir: Ats-Tsaqofiyyah, 1963)., h. 89

Jamaluddin Mahran, op.cit., h. 202

Muhammad Khalil Shalih, Al-Hurmunat, (Mesir: Maktabah An-Nahdah, 1965)., h. 68

Ibid

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Mei 2008 in Hukum

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.