MEMBIAYAI PENDIDIKAN DENGAN ZAKAT
Oleh : Qolbi Khoiri, M.Pd.I
Barangkali tema yang penulis angkat dalam mengembangkan tema wacana di atas bukanlah sebuah paradigma baru dalam dunia pendidikan terutama pendidikan Islam. Kalau kita mencoba kembali untuk membalik-balik lembaran sejarah umat Islam terdahulu ketika mengalami masa keemasannya justru masalah pendidikan adalah masalah yang sangat diperhatikan. Hal ini terbukti dengan usaha pemerintah Islam membangun perpustakaan terbesar di Baghdad yang diberi nama “Baitul Hikmah” yang memiliki ribuan judul buku hasil dari pemikiran umat Islam sendiri. Kesemuanya itu tidak terlepas dari peran serta masyarakat Islam yang sangat antusias mengorbankan harta mereka demi kepentingan pendidikan.
Bukanlah hal yang mustahil bahwa pendidikan sangat membutuhkan alokasi dana yang tinggi. Akan tetapi ketika pemerintahan Indonesia dihadapkan kepada masalah peningkatan kualitas pendidikan yang berkaitan dengan masalah dana, maka pemerintah cenderung berusaha untuk mengeksploitasi dana tersebut untuk kepentingan pribadinya, dan menomorduakan masalah pendidikan. Seolah-olah mereka tidak mau ambil pusing dengan upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia yang semakin terpuruk.
PROYEKSI SISTEM KREDIT DI SEKOLAH
Oleh : Qolbi Khoiri, M.Pd.I
Bangsa Indonesia dilanda krisis total yang menerpa seluruh aspek kehidupan masyarakat dan berbangsa. Krisis yang bermula dari krisis moneter ekonomi kemudian berkembang menjadi krisis politik, hukum, kebudayaan, dan akhirnya menjadi krisis kepercayaan. Krisis yang menyeluruh tersebut pada hakikatnya merupakan refleksi krisis kebudayaan karena berkaitan dengan rapuhnya kaidah-kaidah etik dan moral dari bangsa kita. Menurut penulis krisis kebudayaan adalah pula merupakan krisis pendidikan.
Dalam rangka usaha pemulihan krisis pendidikan tersebut ternyata sampai saat ini pemerintahan Indonesia masih saja melakukan tindakan trial and error (coba-coba) untuk menerapkan sistem pendidikan mana yang lebih relevan untuk masa mendatang serta lebih mampu untuk bersaing dengan perkembangan pendidikan negara-negara maju di dunia. Masih belum tuntas usaha pengaplikasian Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) terhadap seluruh jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai kepada Perguruan Tinggi (PT) yang bertitik tolak pada peraturan pemerintah tentang pemberlakuan otonomi daerah termasuk aspek pendidikan.
INDEKS PRESTASI sebagai TOLAK UKUR: Apakah masih Relevan?
Oleh : Qolbi Khoiri, S.Pd.I., M.Pd.I
Hakikat dari tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang memiliki kemampaun intelektual dan kemampuan profesional, kemampuan intelektual diterjemahkan melalui pengayaan materi (conten) sementara kemampuan profesioanl diiringi dengan maksimalisasi keterampilan.
Beranjak dari pemahaman di atas, jika dilhat dari sisem pendidikan Indonesia ternya masih menjadikan indeks prestasi sebagai tolak ukur keberhasilan suatu lembaga pendidikan. Semakin tinggi suatu lembaga pendidikan berhasil memberikan nilai kepada mahasiswanya maka akan semakin naik pamor lembaga atau reputasi perguruan tersebut di tengah-tengah pamor perguruan tinggi lainnya.
Namun yang menjadi persoalan di sini adalah apakah indeks prestasi sebagai tolak ukur itu masih relevan untuk diterapkan pada saat sekarang ini? Pendidikan tidak hanya proses pendewasaan, akan tetapi lebih dari itu pendidikan merupakan transfer of value yaitu proses pemindahan nilai-nilai dari pendidik kepada peserta didik. Sehingga yang diharapkan dari out put suatu lembaga pendidikan tidak hanya sarjana-sarjana yang intelek, namun lebih dari itu yang diharapkan dari lulusan perguruan tinggi adalah sarjana yang memiliki keterampilan dan skill dalam suatu bidang pekerjaan tertentu dalam rangkan menjawab segala tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Studi Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab
Oleh : Yayat Hidayat
A. Muqaddimah
Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al – Istima’), kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum), kemampuan membaca (reading competence/mahaarah al-qira’ah), dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al – Kitaabah).
Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya.
Baca entri selengkapnya »
Globalisasi dan masa depan Pendidikan Islam Indonesia
Oleh: Qolbi Khoiri, M.Pd.I (Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Bengkulu)
Globalisasi (‘aulamah) banyak yang didefenisikan sebagai terbukanya gerbang lintas sektoral dari berbagai aspek hajat hidup manusia diseluruh penjuru dunia, sementara itu Dr.Yusuf Qardhawi (2001:21), mendefinisikan Globalisasi dengan menghilangkan batas kenasionalan dalam bidang ekonomi (perdagangan) dan membiarkan segala sesuatu bebas melintas dunia dan menembus level international sehingga terancamlah nasib suatu bangsa.
Dilain pendapat, Dr. Jalal Amin mengatakan, Istilah ‘aulamah (globalisasi) adalah istilah baru, dan kita memaknainya dengan penyempitan jarak secara cepat antara masyarakat manusia, baik yang berkaitan dengan perpindahan barang, orang, modal, informasi, pemikiran maupun nilai-nilai. Sehingga tampak globalisasi bagi kita adalah sepertinya mengiringi perkembangan peradaban manusia (lihat, Al-‘Aulamah wa Attanmiyah Al’Arabiyah Min Hamlati Nabuliyon Ila Jaulah Urughuway).
Apapun defenisi yang dikemukakan banyak orang, pada prinsipnya senada dengan sebuah paradigma penjebolan batas antara satu wilayah dengan wilayah yang lain dengan berbagai aspek. Namun yang terpenting pembrangusan batas yang dimaksud awalnya adalah dalam bidang Ekonomi, namun kemudian berkembang sepesat informasi dunia maya (Cyber Information) keberbagai bidang, diantaranya Sosial Budaya dengan masuknya budaya westernisasi, lantas bermunculanlah berbagai mode mulai dari pakaian, gaya hidup (Life Style) hingga bahasa yang digunakan.
Dikalangan generasi muda misalnya, kita tak heran lagi jika melihat mereka merubah pola hidup dan tingkah laku hingga hobi yang dimunculkan, sarat dengan nuansa western. Hidup dengan gaya dan pola inilah yang saat ini cendrung digandrungi anak-anak muda dengan slogan ‘Gaul’nya, akan terasa tak bermakna hidup yang mereka lalui jika tak mengikuti trend zaman, sehingga cara berbicara, bergaul dan berjalanpun akan mereka warnai dengan sifat dan prilaku zaman. Hal inilah yang diungkapkan oleh Dr. Muhammad Abduh sebagai ‘kekafiran berfikir’, sebab selalu menjadikan zaman sebagai tolak ukur dari sebuah perubahan.










