Minangkabau Berduka

Juni 19, 2008 at 3:30 am (Renungan) ()

Deliar Noer adalah putra Minang kelahiran Medan, Sumatera Utara, 9 Februari 1926. Sebagai cendekiawan yang menamatkan program magister dan doktoral di Cornel University, Ithaca, Amerika Serikat, Deliar Noer termasuk produktif menulis opini di Kompas sejak tahun 1966. Tulisan pertamanya Politik dan Kebudajaan (Kompas, 14 Mei 1966) dan terakhir Saran untuk Presiden Megawati (Kompas, 19 September 2002).
Pikiran-pikirannya bernas dan cerdas, bahkan sebagian ada yang menilai keras. Ditambah lagi sikapnya yang terkesan keras dan terus terang mungkin karena ia dilahirkan di tengah keluarga kaum pergerakan–, membuat ia pernah mengalami masa-masa sulit.
Pengalaman paling mengesankan, sebagai seorang guru, ia ketika menjadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dilarang mengajar dan dipanggil Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Dr Syarif Thayeb. Akhirnya ia terpaksa melepaskan jabatannya sebagai dosen, 1964. Itu semasa Orde Lama.
Semasa Orde Baru, tahun 1974, ia tidak hanya dilarang membacakan pidato pengukuhannya sebagai guru besar, tetapi juga diberhentikan sebagai Rektor Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), yang telah dijabatnya sejak 1967. Setelah itu ia dilarang mengajar di seluruh perguruan tinggi.

Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar