RSS

Sejarah Dakwah; Tinjauan Dakwah Nabi dan Rasul Allah Swt

Pertentangan Musa As dengan Firaun telah berakhir dengan tenggelamnya sang tokoh durhaka ke dalam laut, dan kehendak Allah agar tubuh Firaun dapat diabadaikan untuk dijadikan tamsil ibarat dan pelajaran bagi para tiran di muka bumi pembangkang dan penentang kebenaran, maka pertentangan dengan kaumnya lebih banyak lagi dalil-dalil yang nyata bagi dakwah dan pra da’i.
Disini kita akan mengemukakan sebagain dalil-dalil tersebut.
1. Bahwa kekafiran terhadap kebenaran dan pembangkangan terhadapnya telah melanda seluruh umat manusia, kecuali mereka yang mendapatkan petunjuk dari Allah. Kekafiran misalnya, bukan terjadi dari Firaun yang berlaku tiran dan menuhankan dirinya, tetapi juga pada diri Bani Isrel di mana banyak Nabi Allah dari kalangan mereka sendiri.
2. Bahwa pembangkangan itu melahirkan kekafiran, bahkan kemusrikan. Bani Israel melarikan diri bersama Musa, kemudian bersikap kurang ajar terhadapnya dengan menentang apa yang diperintahkan kepada mereka untuk hanya beribadah kepada Allah semata, karena merka justru meminta kepada musa membikin untuk mereka patung yang akan dijadikan sesembahan selain Allah. Hal itu dikarenakan dalam perjalanan mereka itu menyaksikan suatu kaum yang menyembah berhala. Sunguh mereka telah membuang akal pikiran dan hati nurani mereka sendiri dengan meminta dibuatkan patung untuk dapat mereka sembah itu.
3. Orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran telah terbutakan oleh kebathilan, dimana akal mereka sudah tidak berfungsi lagi. Seperti bersegera menyembah terhadap patung yang dibuat dengan tangan mereka sendiri tanpa berpikir manfaaat dan mudarat patung-patung tersebut. Itulah tabiat asli para pendurhaka.
Didalam seluruh kisah Musa tersebut banyak didapati tonggak-tonggak yang menjadi mercusuar bagi sejarah dakwah para da’I, menjadi petunjuk dan penerang jalan bagi orang-orang yang meniti jalan Allah dan menyeru keapda Agama yang benar. Diantara tonggak-tonggak tersebut antara lain:
a. Bahwa menghadapi kekuatan dzalim dan pusat kekafiran dikandang mereka sendiri, menyeru mereka kepada Allah, menyeru kepada kebenaran adalah suatu keharusan agar para dai bisa menyampaikan pesan-pesan Allah. Tetapi ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh da’I :
Pertama : dengan menggunakan kata-kata lembut dan sikap yang simpatik, mendebat dengan cara yang baik
“pergilah kalian berdua kepada fir’aun, sesungguhnya dia telah melampau batas ; maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah mudahan ia ingan atau dia takut”
Maka berdakwah haruslah dengan cara bijaksana, dengan penuh memerikan nasihat yang baik, berhati-hati dengan penuh pertimbangan terhadap situasi dan kondisi.
Kedua : mencari dallil-dalil dan bukti yang kuat utuk mendukung kebenaran dan memenangkannya atas kebathilan. Jika para Nabi Allah itu mempunyai dalil-dalil dan bukti-bukti yang kuat berupa mukjizat yang terjadi diluar kebiasaan dan kemampuan manusia, maka bagi para da’I memiliki sejarah dan manhaj yang sempurna yang jika diterapkan secara konsekuen niscaya akan bisa menjawab semua tantangan yang dihadapi. Kemudian perpaduan antara akal dan hikmah sebagai bekal para da’I akan bisa dipergunakan untuk menembus segala zaman dan tempat agar dapat selalu memberikan dalil dan bukti yang kuat
b. Para da’I merasa yakin bahwa mereka yang diserunya adalah orang-orang yang pasati membutuhkan siapa yang bisa membawa mereka ke arah iman, melapangkan jalan kesana dengan memangkas segala was-was dan godaan setan. Maka karena itu para da’I harus mendapatkan segala cara dan sarana apasaja sepanjang masih dalam bingkai syariat dan dihalalkan untuk mencapai tujuan dakwah ini. Para juru dakwah yang tidak berusaha secara maksimal dalam memperoleh peralatan menunjang kelengkapan kegiatan dakwahnya berarti telah mengurangi kiprahnya dan berdampak pada kurangnya nilai Dakwah yang telah dilakukan.
Musa alaihissalam telah menghadapkan kepada Firaun mukjizatnya, seandainya firaun itu benar-benar mau mengikuti jalan petunjuk niscaya mukjizat saja sudah cukup. Sedangkan mukjizat yang banyak jumlanya sembilan itu telah saling mendukung satu sama lain terhadap kebenaran dan mencabik-cabik hujah yang pendurhaka itu sebenarnya memiliki hujjah yang lemah.
Dalam hal ini Allah berfirman:
“ Dan sesungguhnya kami telah memberikan kepada musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada bani israel tratkala musa datang keapda mereka lalu firaun berkata kepadanya : sesungguhnya akau sangka kamu wahai musa, adalah seorang yang terkena sihir. Maka musa menjawab; sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat itu kecuali tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti yang nyata, dan sesungguhnya akau mengira kamu wahai firaun, seorang yang akan binasa”
Jika seorang Nabi datang denga sembilan mukjizat maka sebaiknya para dai mencari bukti nyata lebih banyak lagi. Mengapa demikian? karena Firaun tidak cukup puas dengan sembilan mukjizat sehingga hatinya tidak terketuk untuk beriman. Dengan kata lain obyek dakwah sekarang tidak akan cukup dengan dalil dan bukti nyata itu.
c. Dakwah mengharuskan para dai untuk selalu bersabar menyikapi mereka yang didakwahi dan tidak putus asa berharap unuk keimanan mereka. Bagaimanapun pembangkangan dan kesombongan mereka. Demikian juga sebaliknya mereka yang diseru, jika benar-benar mau menggunakan akal mereka niscaya akan tunduk dan masuk kedalam lingkaran kebenaran
Maka dengan adaanya dua sikap ini; kewajiban bersabar bagi para da’I dan keharusan memasuki lingkaran kebenaran bagi mereka yang didakwahi membuka peluang yang besar bagi para dai antara lain ;
1. Terus berusaha dengan semangat memberikan petunjuk dan bimbingan kepada umat manusia.
2. Selalu mereka agar mendapat petunjuk tersebut.
3. mengemukakan alil dan bukti yang nyata dalam membela kebenaran.
4. Mengikis segala syak wasangka yang bersarang pada akal manusia.
5. Tidak boleh berputus asa terhadap mereka, selamanya.
Contoh yang menyeluruh bagi para dai adalah Rosulluloh saw, penutup para Nabi, ketika beliau berdoa ;
“ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui (Hadist riwayat Bukhari)

 

2 responses to “Sejarah Dakwah; Tinjauan Dakwah Nabi dan Rasul Allah Swt

  1. junaidi

    24 November 2009 at 12:52 am

    saya mencari hadist tentang keontetikan al-quran

     
  2. tieva :-)

    16 Juni 2010 at 5:24 am

    sejarahnya bgus..mdah di pahami..

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: