Studi Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab
Oleh : Yayat Hidayat
A. Muqaddimah
Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al – Istima’), kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum), kemampuan membaca (reading competence/mahaarah al-qira’ah), dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al – Kitaabah).
Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya.
Baca entri selengkapnya »
Analisis Sejarah Perjalanan Sistem Pemilu di Indonesia
A. Pendahuluan
Dalam perjalanannya, bangsa Indonesia mengalamai perdebatan panjang pilihan diterakannya sistem pemilihan. Complicated permasalahan dan beragam pertimbanganlah yang kemudian mengantarkan Indonesia untuk memilih salah satu sistem yang diterapkannya.
Pada masa berlakunya sistem parlementer, kombinasi yang digunakan adalah sistem pemilu proporsional representation dan sistem multi partai. Pada masa ini, tidak hanya partai saja yang diberikan kesempatan menjadi kontestan pemilu, akan tetapi individu (perseorangan) juga diberi kesempatan untuk mencalonkandiri. Pemilu pada era ini di anggap sebagai pemilu yang paling demokratis selama pemerintahan di Indonesia.
Walaupun demikian, partai politik yang dihasilkan melalui pemilu demokratis ini di anggap telah menyalahkan kesempatan berkuasa, karena terlalu mementingkan kepentingan serta ideologi masing-masing kelompok, sehingga gagal menciptakan suasana yang stabil dankondusif untuk menciptkana pembangunan secara berkesinambungan. Karena pendeknya usia setiap kabinet sebagai ulahnya partai-partai, tidak mungkin bagi pemerintah menyusun dan melaksanakan suatu rencana kerja yang mantap.
Dekrit presiden 4 juli 1959 menghidupkan kembali UUD 1945, Soekarno dalam usaha membentuk demokrasi terpimpin menyatakan tindakan antara lain menyederhanakan sistem partai dengan mengurangi jumlah partai. Penyederhanaan ini dilakukan dengan mencabut maklumat pemerintah tertanggal 3 november 1945, melalui Penetapan Presiden (PenPres) Nomor 7 tahun 1959 ditetapkan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh partai politik untuk diakui oleh pemerintah. Pada tahun 1960 jumlah partai yang memenuhi syarat tinggal 10 partai.
Globalisasi dan masa depan Pendidikan Islam Indonesia
Oleh: Qolbi Khoiri, M.Pd.I (Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Bengkulu)
Globalisasi (‘aulamah) banyak yang didefenisikan sebagai terbukanya gerbang lintas sektoral dari berbagai aspek hajat hidup manusia diseluruh penjuru dunia, sementara itu Dr.Yusuf Qardhawi (2001:21), mendefinisikan Globalisasi dengan menghilangkan batas kenasionalan dalam bidang ekonomi (perdagangan) dan membiarkan segala sesuatu bebas melintas dunia dan menembus level international sehingga terancamlah nasib suatu bangsa.
Dilain pendapat, Dr. Jalal Amin mengatakan, Istilah ‘aulamah (globalisasi) adalah istilah baru, dan kita memaknainya dengan penyempitan jarak secara cepat antara masyarakat manusia, baik yang berkaitan dengan perpindahan barang, orang, modal, informasi, pemikiran maupun nilai-nilai. Sehingga tampak globalisasi bagi kita adalah sepertinya mengiringi perkembangan peradaban manusia (lihat, Al-‘Aulamah wa Attanmiyah Al’Arabiyah Min Hamlati Nabuliyon Ila Jaulah Urughuway).
Apapun defenisi yang dikemukakan banyak orang, pada prinsipnya senada dengan sebuah paradigma penjebolan batas antara satu wilayah dengan wilayah yang lain dengan berbagai aspek. Namun yang terpenting pembrangusan batas yang dimaksud awalnya adalah dalam bidang Ekonomi, namun kemudian berkembang sepesat informasi dunia maya (Cyber Information) keberbagai bidang, diantaranya Sosial Budaya dengan masuknya budaya westernisasi, lantas bermunculanlah berbagai mode mulai dari pakaian, gaya hidup (Life Style) hingga bahasa yang digunakan.
Dikalangan generasi muda misalnya, kita tak heran lagi jika melihat mereka merubah pola hidup dan tingkah laku hingga hobi yang dimunculkan, sarat dengan nuansa western. Hidup dengan gaya dan pola inilah yang saat ini cendrung digandrungi anak-anak muda dengan slogan ‘Gaul’nya, akan terasa tak bermakna hidup yang mereka lalui jika tak mengikuti trend zaman, sehingga cara berbicara, bergaul dan berjalanpun akan mereka warnai dengan sifat dan prilaku zaman. Hal inilah yang diungkapkan oleh Dr. Muhammad Abduh sebagai ‘kekafiran berfikir’, sebab selalu menjadikan zaman sebagai tolak ukur dari sebuah perubahan.










