BENGKULU MENUJU KOTA PARIWISATA

Agustus 4, 2008 at 8:06 am (Wisata Kita) ()

Oleh: Prof. Urip Santoso

Pendahuluan

Industri pariwisata di abad ke 21 merupakan salah satu andalan untuk memperoleh devisa Negara dan pengembangannya diharapkan dapat memacu pertumbuhan perekonomian Indonesia (Yoeti, 2000). Diperkirakan pariwisata akan menjadi industri terbesar di dunia pada abad ke 21 ini. Menurut ramalan John Naisbitt pada tahun 2010 sebanyak 1.004 juta orang wisatawan global yang akan berwisata. Investasi sektor pariwisata dunia meningkat sebesar 10,7% dari jumlah permodalan dunia. Pengeluaran wisatawan akan meningkat menjadi 11% dari jumlah uang yang dibelanjakan konsumen di seluruh dunia. Devisa yang dihasilkan oleh sector pariwisata di tahun 2010 diperkirakan US $ 3,4 trilyun dan akan menyedot kesempatan kerja sebesar 10,6%.

Kota Bengkulu yang terletak di pesisir barat pulau Sumatera mempunyai potensi alam untuk dikembangkan menjadi kota pariwisata. Kota Bengkulu disamping memiliki pantai yang sangat indah – yang merupakan pantai terpanjang kedua di dunia – juga memiliki situs-situs purbakala seperti rumah Bung Karno, rumah Fatmawati, Kampung Cina, Thomas Parr, Benteng Malborough, makam Sentot Ali Basa, serta mempunyai budaya khas yang dapat menyedot wisatawan. Kawasan pantai Kota Bengkulu membujur dari pantai jakat, pantai tapak paderi, dan pantai panjang termasuk kawasan sepanjang muara sungai Jenggalu dan pelabuhan pulau Baii. Untuk kepentingan itu, sedang dbangun jalan lingkar yang akan menghubungkan keenam fokus wisata tersebut, bahkan akan diteruskan pembangunan jalan sehingga di sepanjang pantai Kota Bengkulu akan dihubungkan dan akan juga dikembangkan wisata pantai.

Potensi yang dimiliki oleh kawasan pantai Kota Bengkulu telah disadari oleh Pemerintah Daerah dan kemudian dijadikan salah satu kebijakan yang strategis oleh Gubernur Bengkulu, yaitu menjadikan kawasan pantai tersebut sebagai kawasan wisata yang diharapkan mampu menyedot bukan saja wisatawan local, tetapi juga wisatawan nasional serta manca Negara. Terdapat enam focus bentuk wisata yang direncanakan yaitu wisata pantai, wisata urban, wisata rakyat, wisata air, wisata ekoturism dan wisata pelabuhan. Pengembangan wisata kawasan pantai kota Bengkulu ini diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat kota Bengkulu dan sekitarnya.
Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar

Politikus Santun Dan Hijaunya Beringin Kuning

Agustus 3, 2008 at 8:04 am (Politik) ()

Membangun Konsensus: Pemikiran dan Praktik Politik Akbar Tandjung
Kategori: Buku
Penulis : M. Deden Ridwan & M. Muhajirin
Penerbit : Pustaka Sinar Harapan (2003, 340 hal.)

Penulis buku ini menggunakan dua variabel yaitu, “Islam” sebagai pandangan hidup dan kenyataan sosial-budaya kemudian, “Golkar” sebagai partai politik terbuka, sekular dan plural. Variabel pertama menegaskan basis sosial-politik dan lingkungan politik Akbar Tandjung yaitu “Islam” yang direpresentasikan dengan HMI, organisasi tempat Akbar dibesarkan. Asumsinya adalah sebagai praktisi politik, Akbar berusaha melakukan pembaruan politik Islam dengan memasuki Golkar dan birokrasi. Langkah ini menjadikannya sebagai tokoh politik nasional melampaui basis politik konvensionalnya, Islam.
Akbar mempunyai keyakinan dirinya memiliki wilayah political society sebagai kendaraan politik yang digunakan secara praktis untuk mencairkan ketegangan Islam dan negara, karena alasan politik-ideologi dan teologi.

Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar

Menakar Wajah Politik Melalui Iklan

Agustus 3, 2008 at 7:50 am (Politik) ()

Iklan dan Politik: Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum
Menakar Wajah Politik Melalui Iklan
Kategori: Buku
Penulis: Budi Setyono
Penerbit: AdGoal.com / Galang Press / Buku Kita (2008, xvii+391 hal.)

Perkembangan dunia ekonomi yang merasuki segala lini kehidupan memaksa para pelaku di segala bidang untuk mengikuti kaedah yang berlaku dalam hitung-hitungan logika bisnis, tak terkecuali dunia politik.
Persaingan antar pelaku politik yang banyak bermunculan di era reformasi membuat para penggiatnya harus berpikir dua kali lebih keras untuk menawarkan partainya kepada calon pemilih. Alih-alih menjalankan fungsinya dalam pendidikan politik mereka banyak yang terjebak dalam logika bisnis, hal ini terlihat dalam iklan-iklan menjelang pemilihan umum (pemilu). Hal tersebut yang mendasari disusunnya buku Iklan dan Politik ini. Sang penulis Budi Setyono telah berhasil membuat dokumentasi materi kampanye selama masa kampanye Pemilu 1999 dan 2004. Ia juga banyak membuat analisa mendalam dari perspektif dunia periklanan yang digelutinya selama ini.
Selepas era kediktatoran Orde Baru, eforia reformasi melahirkan peserta Pemilu 1999 sebanyak 48 partai politik. Berakhirnya kekuasaan yang kerap memanipulasi hasil penghitungan suara memberikan kesempatan yang sama bagi semua kontestan yang bersaing. Tak heran jika pada masa itu partai-partai politik menggandeng biro-biro iklan untuk memasarkan partainya, misalnya PDI-P dengan Adwork! EURO RSCG, PKB dengan Sudarto & Nuradi PR, PAN dengan Fortune PR, dan lain sebagainya. Namun Pemilu 1999 tersebut juga jadi ajang pertama bagi perusahaan iklan untuk menikmati kue pemilu dan menguji coba strategi pemasaran politiknya.

Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Komentar